Jangan Datang ke Jakarta

1 menit waktu baca

Siang itu, saya berjalan agak tergesa di atas jembatan penyeberangan orang Semanggi. Suasana jembatan agak sepi karena mungkin banyak orang yang menghindari aktifitas di luar ruangan selama bulan puasa ini.

Tiba-tiba saya disapa seorang pemuda berpenampilan sederhana, dengan tas punggung menempel erat di badannya. Suaranya memanggil pelan.

Kurang lebih dia berkata, “Bang, tolong saya. Saya lapar, sudah 2 hari belum makan. Mau pulang ke kampung (di luar Jawa) tapi tidak punya uang”

“Trus kamu maunya apa?” tanya saya.

Dia diam, mukanya seperti bingung, tidak langsung menjawab.

“Saya bisa bantu kamu membelikan makanan, bukan ngasih uang” kata saya.

Saya cuma ingin tahu, apa dia memang benar-benar lapar atau pengemis yang cuma ingin mendapatkan uang.

Saya pernah punya pengalaman.

Waktu dulu, seseorang menghampiri saya, berkata bahwa dia butuh uang untuk pergi ke terminal.

“Mau pulang kampung” katanya.

Anehnya, saat saya tawarkan bantuan mengantarkan ke terminal, dia menolak dan meminta uang saja. Saya langsung curiga dia hanya pengemis yang mengarang cerita.

Saya pun menolak untuk membantunya.

Kembali ke pemuda di atas jembatan Semanggi. Setelah dia mendengar tawaran saya, pemuda itu menganggukkan kepalanya.

Artinya dia memang benar-benar butuh bantuan, apapun bentuknya.

“Ayo ikut!” ujar saya. Dia mengikuti saya tanpa banyak bicara.

“Kamu ngapain ke Jakarta?” tanya saya sambil berjalan.

Katanya, kurang lebih, dia merantau ke Jakarta seorang diri hanya berbekal ajakan seseorang untuk menjadi kondektur bus.

Masalahnya kemudian, sampai di Jakarta, dia kehilangan kontak dengan orang itu dan tidak tahu harus mencari kemana. Dia tidak mengenal siapa pun di Jakarta.

Dia ingin pulang ke kampung halamannya, tapi kehabisan bekal. Klise sebenarnya, mirip cerita banyak pengemis di Jakarta.

Tapi karena dia menerima tawaran makanan dari saya, kecurigaan saya berkurang. Dia memang benar-benar lapar, bukan hanya sekedar mengemis uang.

Akhirnya, sampai juga di kantor. Saya mengajaknya ke pedagang kaki lima yang tetap berjualan di bulan puasa.

Saya membelikannya soto ayam dan memberinya sebotol air mineral. Dia hanya memandangi saya dan berkata, “Terima kasih, bang”

Akhirnya saya pun pergi meninggalkan dia setelah si penjual menyajikan soto ayam.

Tanpa perencanaan yang matang, Jakarta bukanlah kota impian. Jakarta hanya akan menjadi mimpi buruk yang paling seram.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016-2017 Agung Pushandaka

Related Post

1 thought on “Jangan Datang ke Jakarta”

  1. Beberapa kali datang ke Jakarta, Jakarta memang kota yang sibuk, mungkin begitu juga orang2nya. Ya setuju, memang perlu rencana yang matang jika ingin ke Jakarta, apalagi jika ingin mengadu nasib.

Comments are closed.