Bintang Bola Indonesia..

4 menit waktu baca

Kalau lagi sama saya, yang namanya ngobrol tentang sepakbola ndak akan pernah ada habisnya. Apalagi untuk sepakbola nasional, saya cenderung menjadi orang yang fanatik. Tapi okelah, saya sekarang mau realistis sedikit memandang sepakbola kita..

Sebenarnya ini berita basi tentang pemain lokal kita yang sudah merasa dirinya jagoan di kandang sendiri. Sebutlah pemain seperti Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, dan sebagainya. Saya heran dengan pemain-pemain ini, juga klub sepakbola yang mengontrak mereka, termasuk PSSI juga. Kenapa sih, mereka harus dibayar mahal?

Iya, mereka pemain dengan skill di atas rata-rata pemain lokal lainnya. Tapi apa iya harus dibayar mahal di dalam negeri? Mahalnya nilai mereka justru karena kesalahan sepakbola kita sendiri, yang terus bergantung kepada mereka. Bahkan ketergantungan itu sampai melupakan bahwa ada pemain-pemain muda yang juga harus diutamakan.

Budi Sudarsono, menurut kabar yang saya baca, mendapat bayaran 65 juta rupiah per bulan waktu main di Persik Kediri. Gila, bayarannya saya rasa jauh lebih besar daripada gaji menteri! Padahal, prestasi mereka apa sih? Apa prestasi seorang pemain lokal kita hanya diukur dari seringnya pemain yang bersangkutan membela tim nasional? Blum lagi harga pemain asing. Begh, bisa ratusan juta per bulan. Padahal, yang kita dapat dari mereka apa? Lebih banyak yang berantem di lapangan rasanya, daripada menularkan ilmu mereka ke pemain lokal. Kalo kaya gitu seterusnya, gimana nasib pemain-pemain muda kita? Padahal di pundak mereka kita gantungkan prestasi sepakbola nasional nantinya setelah Budi Sudarsono pensiun.

Yang logis saja deh, dengan duit 65 juta per bulan, berapa pemain muda yang bisa dikontrak untuk memperkuat klub? Mungkin 6 pemain, kalo nilai pemain muda dipukul rata sebesar 10 juta, bahkan mungkin lebih murah! Iya kan? Iya aja deh..

Pemain-pemain muda yang harganya lebih murah akan lebih awet sampai beberapa tahun ke depan, bandingkan dengan Budi yang mungkin masa edarnya tinggal 2 atau 3 tahun lagi. Apalagi kalo klub berani mengontrak pemain usia 18 – 20 tahun. Bayangin, sudah harganya murah, tenaga mereka pun bisa terpakai sampai 10 tahun ke depan.

Saya kok yakin, ndak usah nunggu sampai 10 tahun, pemain-pemain muda itu akan menjadi Budi Sudarsono selanjutnya, yang jago menggocek bola, yang ndak minder menghadapi lawan, dan memiliki mental bertanding layaknya seorang ksatria. Kenapa? Karena mereka akan ditempa dalam pertandingan sepakbola yang sebenarnya, yaitu dalam sebuah kompetisi yang menjanjikan atmosfer pertandingan yang sesungguhnya dan rutin. Kalo mereka cuma latihan, tapi ndak pernah main, mental bertanding mereka akan mengendap. Giliran ntar yang senior udah pensiun, mereka kaget main di hadapan puluhan ribu suporter, akhirnya jadi ngawur mainnya.

Seharusnya pemain-pemain senior macam Bambang dan Budi juga tau dirilah. Daripada menyedot duit klub lokal yang kembang-kempis, mbok ya mengadu nasib ke luar negeri. Jangan cuma Malaysia, kalau perlu sampai ke Jepang atau Australia. Ndak usah mimpi sampe Eropa dulu deh. Biar klub lokal membina pemain muda, yang nantinya kalau sudah matang, laku juga di luar negeri. Gitu seterusnya.

Seperti Argentina atau Brazil deh. Brazil punya Robinho yang sudah malang-melintang di Eropa, sekarang mereka sudah punya Pato yang statusnya junior. Ntar Pato blum habis umurnya, pasti sudah ada pemain muda lainnya yang siap mengganti. Karena apa? Karena klub lokal di Brazil ndak pernah berhenti membina pemain muda. Mereka malah lebih untung karena pendapatan menjual bintang ke Eropa lebih besar daripada pengeluaran yang terpakai untuk membina pemain muda.

Tapi keadaan ini ndak semuanya salah pemain sih memang. PSSI juga punya andil. PSSI kayanya ndak peduli banget dengan regenerasi pemain nasional. Tolonglah dibantu, pemain-pemain yang sudah mapan di timnas biar bisa main di luar negeri. Minimal, biayai mereka untuk ikut tes di klub-klub asing. Kalo mereka diterima di sana, kan yang untung timnas juga. Pemain bintangnya semakin terasah, pemain mudanya pun terlatih. Ntar kalau yang di luar negeri sudah ndak terpakai, kembali ke Indonesia sudah bawa banyak pengalaman yang siap dibagi ke juniornya. Betul kan? Pasti betul deh..

Lihat donk Thailand. Pemain-pemainnya sudah banyak yang main di Liga Inggris. Padahal kalo dari skill individu, pemain kita ndak kalah dengan mereka. Tapi kenapa mereka bisa tembus ke Inggris? Karena induk sepakbola mereka ikut aktif memperjuangkan supaya mereka bisa masuk ke sana. Kalau untuk urusan begini, PSSI pelit banget mengeluarkan duit.

Ayolah, masa kalian ndak menghargai fanatisme rakyat yang ndak pernah bosan mendukung timnas Indonesia walaupun mereka tau, blum tentu kita menang. Saya saja deh, kalo nonton timnas Indonesia main, seperti waktu lawan Australia kemaren, jujur saya ndak mimpi Indonesia bisa menang. Tapi saya tetap nonton. Saya juga ndak terlalu tau apa yang bikin saya setia nonton setiap pertandingan timnas Indonesia. Mungkin cuma karena fanatisme yang cenderung buta. Kalo yang logis, mungkin sudah malas nonton timnas.

Mumpung ndak ada kata terlambat (toh kita blum tau kapan dunia akan kiamat), dimulai langkah nyatanya. Bina pemain muda. Kalah karena memainkan pemain muda ndak akan memalukan banget kok, selama pembinaan itu mengarah ke depan, bukan jalan di tempat. Pemain-pemain muda itu lebih baik tau rasanya kalah sekarang, mumpung masih muda, daripada sudah tua ntar kalah mulu.

Hiduplah Indonesia Raya…!!

Related Post