Membesarkan Pelaku Kejahatan

2 menit waktu baca

Belakangan, marak saya baca kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Contoh kasus yang paling menghebohkan jelas kasusnya Yuyun, di Bengkulu. Kasus kekerasan seksual lain bahkan menyasar balita.

Itu belum cukup parah? Coba lihat pelakunya, bahkan sebagian dari mereka pun masih di bawah umur.

Di media sosial, banyak anjuran bagaimana cara untuk melindungi anak-anak kita menjadi korban kejahatan.

Tapi apakah kita pernah melindungi anak-anak kita agar tidak menjadi pelaku kejahatan itu sendiri?

Banyak hal kecil yang diabaikan orang tua untuk melindungi perkembangan otak dan tubuh anak-anaknya.

Contoh kecil, saat saya menonton film AADC2 bersama istri, saya melihat ada orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton film itu.

Apapun alasannya, film itu bukan untuk anak-anak. Seharusnya orang tua tegas kepada diri mereka sendiri untuk tidak mengajak anak-anak ke bioskop yang menayangkan film bukan untuk usia mereka.

 

Saya jadi tidak bisa membayangkan, bagaimana pengawasan orang tua terhadap tayangan di televisi atau di internet?

Kualitas tayangan televisi kita banyak menampilkan program yang tidak sesuai dengan umur mereka. Misalnya sinetron, reality show, talkshow, bahkan program berita, belum layak ditonton oleh anak-anak kita.

Di internet, tayangan pornografi bisa mudah mereka akses.

Menurut saya, terbiasa melihat – apalagi menonton – tayangan untuk orang dewasa, membuat pola pikir mereka jadi kacau. Jaman sekarang, anak sekolah yang dilanda rasa cemburu pun bisa menjadi pembunuh.

Masih ingat kasus pembunuhan Ade Sara?

Saya juga melihat, orang tua jaman sekarang “lebih lemah” kepada anak-anaknya.

Saya pernah membaca anjuran di media sosial untuk mengurangi penggunaan kata “jangan” kepada anak-anak.

Dulu, orang tua saya tidak hanya memarahi secara verbal, tapi juga menjewer, mencubit pantat bahkan memukul bagian tubuh yang masih aman terhadap hukuman fisik apabila saya sudah keterlaluan melanggar aturan di rumah.

Dari hukuman itu saya tahu mana yang boleh, mana yang dilarang dan mana yang sangat dilarang.

 

Orang tua juga abai dalam memberi hadiah kepada anaknya. Misalnya membelikan sepeda motor.

Orang tua membiarkan mereka menjadi pelanggar aturan lalu-lintas.

Selain itu, semakin menjamurnya gank motor yang merekrut anggota anak-anak tanggung yang memberlakukan syarat penerimaan anggota dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang ada, misalnya pemalakan, perkelahian, dsb.

Anda juga pasti tahu, dari gank motor liar itulah muncul gadis cabe-cabean. Anda tahu cabe-cabean?

Itu belum termasuk hadiah smartphone kepada anak-anak, atau membiarkan anak-anak menggunakan smartphone tanpa pengawasan.

Anak-anak itu belum cukup smart untuk menggunakannya.

Memang, kewajiban melindungi anak-anak dari tindakan kejahatan, baik sebagai pelaku maupun korban, bukan cuma kewajiban orang tua kandung mereka.

Orang dewasa di sekitar harus ikut serta juga melindungi mereka, termasuk saya sendiri.

Saat kecil, saya pernah dibentak oleh orang dewasa yang saya tidak kenal, saat saya melakukan kenakalan yang mungkin dianggap berlebihan olehnya.

Kalau hal itu terjadi sekarang, mungkin orang tua kandung si anak akan melaporkan orang tersebut ke kantor polisi. Seperti kasus kriminalisasi seorang guru yang menggunting rambut anak didiknya karena melebihi ketentuan panjang rambut di sekolah.

Saya juga berharap, Pemerintah tidak hanya segera memberlakukan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, tapi juga tegas terhadap orang tua yang abai untuk menjaga anaknya menjadi pelaku pelanggaran apalagi kejahatan.

Pemerintah juga wajib memperbaiki sistem pendidikan. Sekolah bukan lagi jadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak untuk menghabiskan sebagian waktunya.

Di sekolah, anak-anak kita tidak lagi merasa senang dan nyaman.

Mereka takut menjadi anak yang mendapat ranking terendah di kelas. Takut dimarahi guru karena tidak lulus ujian nasional. Takut membuat malu orang tua di rumah, dsb.

Kalau mereka takut, bagaimana bisa mereka belajar dengan tenang?

Lagipula kalau bukan di sekolah, di mana lagi tempat yang aman tapi menyenangkan untuk mereka habiskan waktu saat kedua orang tuanya sibuk di kantor?

Di penjara?

Semoga Tuhan selalu melindungi anak-anak Indonesia.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016-2017 Agung Pushandaka

Related Post

2 thoughts on “Membesarkan Pelaku Kejahatan”

  1. Dan sekali lagi, saya merasa bersyukur tidak memiliki televisi di rumah, serta tidak memiliki banyak waktu untuk mengakses media sosial.

    mirah Reply:

    Semua kembali ke diri kita sendiri ya. Kita harusnya sudah tau mana yang baik dilanjutkan, mana yang buruk dihentikan. Susah banget untuk bertahan pada prinsip. Susah banget untuk menahan diri supaya nggak ngasi anak main hp, yang akhirnya hanya bisa membatasi waktunya main hp, membatasi porsinya nonton tv. Semoga generasi penerus bangsa ini lebih baik dari saya.

Comments are closed.