Kami Tak Pernah Takut

3 menit waktu baca

Setelah lama beristirahat, aksi terorisme kembali mengguncang Jakarta. Kalau dulu menyerang gereja, hotel, kedutaan besar negara lain dan bandara internasional Soekarno-Hatta, kali ini menyerang pusat perbelanjaan tertua di Indonesia, Sarinah. Untunglah rencana itu meleset, serangan yang tadinya ditujukan ke Sarinah, meleset karena keberanian seorang satpam yang menggiring salah satu pelaku ke pos polisi terdekat karena dianggap mencurigakan. Bum! Meledaklah bom di pos polisi. Blum cukup membunuh dengan bom, pelaku lainnya mengeluarkan senjata dan menembakkan pelurunya ke arah polisi dan warga sipil. Korban tewas dari golongan sipil berjumlah 2 orang. Suasana di sekitar lokasi cukup menegangkan, tapi Jakarta tidak pernah (benar-benar) takut.

Bukan bermaksud untuk sombong, jemawa atau takabur, tapi apa alasan yang paling tepat untuk membuat Jakarta takut? Teroris bukan orang-orang yang paling berani sedunia, justru mereka adalah kaum paling kerdil pemikirannya, bodoh dan pengecut. Mereka ndak pernah berani menghadapi kerasnya hidup di dunia trus memilih untuk memaksa orang lain ikut merasa takut akan hal-hal yang mereka takuti. Lalu mereka kabur, bunuh diri, ndak pernah berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka lakukan. Pantaskah Jakarta takut kepada para pengecut seperti mereka?

Lagian, banyak hal di Jakarta yang jauh lebih menyeramkan daripada sekelompok pengecut seperti itu. Di jalanan, nyawa warga Jakarta selalu dalam status Siaga 1, selama metromini dan kopaja masih bergentayangan, selama beberapa borjuis mengendarai mobilnya dalam keadaan teler atau selama pengendara motor masih suka melawan arus lalu-lintas. Teror yang mereka timbulkan jauh lebih menakutkan dan terjadi setiap hari.

Ndak cukup itu, mati di Jakarta juga ndak cuma dengan dibom. Orang Jakarta pernah ada yang mati karena banjir, yang masih mengancam sampai sekarang, walaupun sekarang ancaman banjir sudah ndak semenakutkan dulu.

Mau bukti lain gimana beraninya orang Jakarta? Lihatlah bagaimana beraninya orang-orang yang tinggal di bantaran sungai saat berhadapan dengan aparat pemerintah yang berniat untuk menegakkan aturan dengan cara memindahkan mereka ke tempat tinggal yang lokasi dan bangunannya lebih manusiawi. See, dalam posisi yang salah pun mereka berani, apalagi saat mereka benar?

Sementara itu, mereka yang masih duduk di bangku sekolah, pasti lebih takut dengan ujian nasional daripada aksi terorisme di Sarinah kemarin. Ndak cuma ujian, tawuran pelajar pun sekarang bukan cuma ajang unjuk nyali saling lempar batu, tapi juga ndak jarang jadi TKP pembunuhan. Gila, kan?

Orang Jakarta ndak pernah takut.

***

Begitu juga kami. Kami seharusnya ndak perlu merasa takut. Baru setahun bersama, sejak 15 Januari 2015, saya dan Rebecca sudah mengalami banyak hal yang mungkin blum banyak dirasakan orang lainnya dalam waktu setahun bersama.

Teror mental seperti hujatan, gunjingan dan gossip pasti sudah banyak yang merasakannya. Beberapa orang mungkin sampai bunuh diri karena ndak kuat menghadapinya. Sementara kami masih bertahan. Pertengkaran besar pun masih blum sanggup meruntuhkan kami. Teman yang berpaling, musuh dalam selimut, atau orang bermuka dua sempat membuat kami goyah dan memilih untuk berjauhan, tapi kemudian kami sadar, satu-satunya cara untuk menghadapi itu semua adalah kembali bersama.

Kami ndak perlu merasa takut, tapi ndak boleh sombong.

Dibalik keberanian orang Jakarta, mereka tetap berlindung di balik punggung bapak/ibu polisi dan tentara yang ndak jarang justru menjadi ancaman terbesar terhadap keselamatan warga Jakarta. Di saat ada warga Jakarta yang berani menghujat pemerintahan yang mereka anggap seenaknya menggusur rumah kumuh mereka, toh mereka tetap bergantung dari pemerintah untuk menanggulangi banjir yang selalu mengancam rumah kumuh mereka di setiap musim hujan. Begitu juga kami. Di balik keberanian kami menghadapi semuanya, kami juga pernah merasa takut, kami juga butuh waktu untuk beristirahat sejenak untuk mengumpulkan lagi keberanian kami.

Tapi itulah indahnya dunia. Kami ndak perlu merasa takut karena kami semua masih percaya, masih lebih banyak hal baik yang disediakan Tuhan di hidup kami di sini, di kota Jakarta tercinta. Masih lebih banyak lagi orang baik di sekitar kami dibandingkan jumlah mereka yang berniat menimbulkan teror.

Kami tak pernah takut, karena kami percaya bahwa Tuhan akan selalu bersama kami, kota Jakarta dan Indonesia, negeri yang sangat kami cintai. Kami tak perlu takut, karena di balik itu semua, kami percaya selalu ada banyak doa dan harapan yang terucapkan untuk kebaikan semua orang di Jakarta dan Indonesia.

 

*I love you and Jakarta. Turut berduka cita untuk korban terorisme di Jakarta, Paris, Turki dan di seluruh dunia. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dari hal-hal buruk.
Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

1 thought on “Kami Tak Pernah Takut”

  1. Setuju sama kata-kata “Mereka ndak pernah berani menghadapi kerasnya hidup di dunia trus memilih untuk memaksa orang lain ikut merasa takut akan hal-hal yang mereka takuti. Lalu mereka kabur, bunuh diri, ndak pernah berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka lakukan. Pantaskah Jakarta takut kepada para pengecut seperti mereka?” tepat banget. Teroris sengaja nyebarin rasa takut padahal sebenarnya mereka yang takut sama hidup.

    Benar. Bahaya, bencana dan maut bisa datang kapan aja, yang kita perlu lakuin hanya percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita dan Jakarta.

    Untuk pertama kalinya nama gek disebut di blog mas. hihiii. Sangat suka sama kata-kata “satu-satunya cara untuk menghadapi itu semua adalah kembali bersama.”

    Terima kasih untuk hadiahnya dan terima kasih untuk tetap bertahan.

    *i love you too,

Comments are closed.