Cuma Perawan Yang Boleh Sekolah?

1 menit waktu baca

Di Pamekasan, MUI mendesak dibuatnya undang-undang yang mengatur diadakannya tes keperawanan bagi calon siswi yang akan menentukan kelulusan mereka di sekolah menengah umum.

Menurut MUI, undang-undang ini akan jadi upaya bagi sekolah untuk mengetahui moralitas calon siswa perempuannya.

Bagi siswi yang ketahuan tidak perawan karena perilaku seks bebas, maka akan dikeluarkan dari sekolah yang bersangkutan.

Saya tidak setuju.

Pertama, perawan atau tidak itu adalah pilihan hak pribadi setiap orang.

Kecuali disebabkan oleh tindakan perkosaan, kecelakaan atau mungkin kelainan pada organ reproduksi.

Tapi, tidak perawannya seseorang karena perilaku seks bebas/pra nikah adalah pilihan seseorang. Dosa atau tidak, itu urusan pribadi mereka juga.

Kita hanya bisa mengingatkan sebagai sesama.

Kedua. Kalaupun mereka yang melakukan perilaku seks di luar perkawinan dianggap tidak bermoral, justru seharusnya mereka didorong untuk masuk sekolah.

Dengan lebih banyak waktu yang mereka habiskan di sekolah, mereka akan meninggalkan perilaku seks bebas.

Ketiga, kalau ternyata banyak siswi melakukan seks bebas/pra nikah, tidak sepenuhnya salah mereka.

Kualitas pendidikan di sekolah juga patut dipertanyakan, terutama dari sisi pendidikan moral dan agamanya.

Perhatikan juga kualitas guru agama yang mengajari mereka di sekolah. Lalu kaitkan dengan upaya MUI untuk mendorong adanya peningkatan kualitas guru agama di sekolah.

Seharusnya MUI tetap fokus kepada hal tersebut daripada justru menyalahkan calon siswi yang tidak perawan.

Keempat, korban tes ini nanti adalah siswa perempuan. Bagaimana dengan laki-laki? Keperjakaan tentu lebih sulit diuji, bahkan hampir mustahil.

Apakah ini adil?

Kelima, dengan mengeluarkan siswi yang tidak perawan dari sekolahnya, apakah kualitas moral mereka akan menjadi lebih baik? Belum tentu.

Bahkan mungkin menjadi lebih buruk.

Keenam. Apa gunanya mengetahui perawan atau tidaknya seseorang?

Hal ini berpotensi melahirkan sikap atau perlakuan diskriminatif.

Seseorang yang ketahuan tidak perawan, akan mendapat pandangan sinis, cap jelek, bahkan diperlakukan dengan tidak hormat oleh lingkungan sekitarnya.

Ini akan membuat mental siswa akan semakin buruk, yang saya yakin akan semakin mempengaruhi moralitas mereka.

Ketujuh. “Lo pikir gampang bikin undang-undang??” kira-kira begitu kalau kata orang Jakarta.

Daripada negara menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya untuk hal-hal seperti ini, lebih baik sumber daya yang kita punya dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih penting.

Salah satunya adalah tentu peningkatan kualitas guru dan sekolah yang berpengaruh kepada kualitas moral siswanya.

Nah, dari alasan-alasan itu, saya punya dua kesimpulan.

Pertama, saya tidak setuju dengan tes keperawanan di tingkat pendidikan atau dalam hal apapun.

Kedua, sebaiknya MUI dibubarkan saja karena lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya bagi umat, agama dan negara.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013-2017 Agung Pushandaka

Related Post

8 thoughts on “Cuma Perawan Yang Boleh Sekolah?”

  1. Saya ndak habis pikir dimana otak mereka, bagaimana mereka bisa berpikir untuk melakukan tes perawan untuk urusan pendidikan.

    Saya setuju dengan semua alasan di tulisan ini. Saya rasa saya juga tidak perlu menambahkan hal-hal atau alasan lainnya untuk mendukung tulisan ini. Saya rasa ide tes keperawanan ini sangat tidak perlu diwujudkan, jangankan diwujudkan, dijadikan ide saja sebenarnya sangat tidak perlu. Ah, sudahlah..

    alldie Reply:

    Otaknya sih ada mas, tapi tidak di manfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat, hanya membuat sensasi…

  2. Mas Pushandaka sudah menghabiskan semua, saya ndak bisa berkata-kata lagi.

    Saat diturunkan ilmu forensik dulu, alias kedokteran kehakiman, kami dokter diwanti-wanti untuk tidak membuat pernyataan tentang apakah seorang anak gadis masih perawan atau tidak dengan dilakukan pemeriksaan (katakanlah visum), karena memang perawan atau tidak, tidak akan bisa dibuktikan melalui itu.

    Sehingga kalaupun mau diperiksa keperawanannya, siapa yang akan menjamin itu benar atau tidak?

    Mungkin itu saja tambahan saya, sisanya seperti yang sudah terurai di atas.

    alldie Reply:

    Kalau yang levelnya dokter saja dilarang, apalagi yang tidak punya kewenangan dan ups…bukan muhrim :(

  3. Ini majelis memang khusus untuk ulama bukan untuk umat.

    Ada baiknya mereka suatu saat mempersoalkan kenapa Adam dan Hawa melakukan hubungan pasutri tanpa nikah, baru kemudian menelusuri permasalahan keperawanan siswa.

  4. Harusnya MUI sekarang lebih focus mengurusi hal-hal yang lebih penting dari pada mengurusi hal seperti ini…

    MUI terkadang terlampau close minded banget, padahal Islam tak begitu setahuku sih…jadi pandangan orang sih MUI sok suci begitu. Semua orang kan seharusnya memiliki hak yang sama untuk belajar apalagi yang jadi sorotan cuma kaum perempuan gimana dengan lelaki?

    MUI harusnya membantu memperbaiki kurikulum pendidikan saja kalau tujuannya untuk memperbaiki moral generasi mudah, karena pendidikan sekarang lebih focus pada ilmu pengetahuan saja…

Comments are closed.