Bosan Dengan Jokowi

2 menit waktu baca

Jakarta punya gubernur baru, namanya Joko Widodo, biasa dipanggil Jokowi. Pernah jadi walikota Solo selama 2 periode dengan prestasi yang sangat menonjol. Dia dicintai rakyatnya juga (konon) dihormati bawahannya. Sempat bermasalah dengan gubernur Jawa Tengah terkait rencana pembangunan mall di bekas pabrik es Saripetojo, Solo, tapi ndak mengurangi sikap rendah hati dan hormatnya kepada Bibit Waluyo, gubernur Jawa Tengah, melalui bahasa tubuhnya saat cium tangan Pak Bibit saat mereka bertemu di Solo, bahkan setelah mereka “sederajat” sama-sama menjabat sebagai gubernur. Di Jakarta, Jokowi ndak berubah. Dia masih melakukan inspeksi ke kampung-kampung, bertemu dengan masyarakatnya, bertemu dengan jajarannya, untuk mencari dan menemukan solusi masalah yang terjadi. Tapi saya bosan!

Saya bosan dengan semua pemberitaan tentang Jokowi. Saya ndak menyalahkan Jokowi, karena mungkin memang seperti itulah dia. Saya muak dengan media massa yang selalu memberitakan segala hal tentang Jokowi, bahkan lebih kepada pribadinya bukan pekerjaannya. Berita tentang cium tangan pun dikabarkan layaknya menteri Tifatul Sembiring yang menyalami first lady Michelle Obama. Apa pentingnya sih?

Apalagi pemberitaannya terkesan ndak fair. Semua yang dilakukan Jokowi memang baik, atau mungkin cuma media yang memberitakan dari sisi baiknya saja? Misal, inspeksi ke kantor kelurahan dengan menumpang mobil kijang padahal sudah disediakan fasilitas mobil dinas yang mewah, yang ternyata mobil kijangnya sewaan. Kenapa harus sewa mobil lagi, padahal mobil dinas mewahnya dibeli dengan uang rakyat. Apa bukan pemborosan namanya? Blum lagi, dia sekarang meminta disediakan mobil kijang kepada biro umum di kantornya. Contoh lainnya, Jokowi kena macet di Tebet karena menolak mendapat pengawalan khusus selama di perjalanan. Banyak orang memuji sikapnya yang mau ikut merasakan macetnya Jakarta, tapi lihat juga dong efek lainnya. Pekerjaannya jadi terhambat karena dia tertahan macet. Saya pikir, ndak ada salahnya dia menerobos kemacetan dengan sirine kendaraan pengawalnya kalau memang ada pekerjaan lain yang menunggunya di saat yang berdekatan.

Saya bukan pengen mencari sisi buruk Jokowi dari setiap apa yang dia lakukan, apalagi sampai anti Jokowi. Saya justru mendukungnya saat pilgub Jakarta waktu lalu. Saya cuma berusaha fair melihat segalanya dari, minimal, 2 sisi. Orang baik pasti akan dikenal karena kebaikannya, jadi ndak perlu digembar-gemborkan seperti apa yang saya lihat sekarang di tivi dan koran. Apalagi, pemberitaan yang ada sekarang lebih ke personal Jokowi, bukan kepada pekerjaannya.  Ntar jangan-jangan, muncul juga berita tentang bagaimana sederhananya Jokowi tidur cuma pakai sarung. Halah. Apa bedanya dengan infotainment kalau terus-terusan seperti itu?

Jadi, sudahlah. Stop pemberitaan yang berlebihan tentang Jokowi, apalagi tentang pribadinya. Biarkan dia bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan perannya sebagai gubernur. Nanti saat pekerjaan menghasilkan sesuatu, boleh diberitakan secara fair. Kalau seperti sekarang ini, saya bosan..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

Related Post

10 thoughts on “Bosan Dengan Jokowi”

  1. Pemberitaan yang banyak bagi Jokowi bisa jadi baik dan tidak. Jokowi jadi bisa lebih berhati-hati jangan sampai membuat kesalahan karena selalu disorot media.

  2. soal berkendara tanpa pengawal bersirine itu, saya kira perlu dia rasakan, dengan begitu dia lebih bisa berempati kayak apa sih yang kena macet. Selama ini ‘kan pejabat tuh pada enak2 aja karena dikawal, makanya gak pada mikirin macet. cuma rakyat aja yg teriak2 :(

    yeah, soal bosan berita ttg Jokowi sih menurutku relatif ya :) ini kan bisa2nya pencari berita yg jeli melihat pasar, animo masyarakat yg besar dan selalu ingin tahu gerak gerik seorang pemimpin yang unik dan tidak biasa, jadi yaaa bikin laku media cetak dan online deh.

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya tau dan yakin kalau Jokowi sosok yang pintar, cerdas dan baik. Saya rasa, dia ndak butuh ikut terjebak macet untuk bisa merasakan penatnya warga Jakarta di jalan. Sama seperti kita ndak perlu membakar diri untuk tau panasnya api. Apalagi, sebagai gubernur dia dituntut untuk memiliki mobilitas tinggi karena pekerjaannya.

    Saya yakin, semua gubernur Jakarta memikirkan solusi untuk mengurai macetnya kota ini, tapi mungkin mereka blum menemukan cara terbaik. Semoga Jokowi mampu dan segera menjalankan segala upaya yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas lalu lintas jalanan ibu kota.

    :)

  3. Jokowi belum tentu lebih baik dari gubernur2 sebelumnya. Fasilitas diberikan kan memang untuk mensupport pekerjaannya. Kalau gara2 gak mau pakai foraider ya dia bakal telat toh, justru jadi gak efisien.

  4. Waduh, komen saya tadi waktu blogwalking pake HP belum masuk ya..

    Saya setuju dengan tulisan ini. Euforia kemenangan Jokowi pada Pilgub Jakarta sepertinya sudah lewat. Sekarang saatnya Jokowi bekerja, membuktikan kepada Rakyat Jakarta dan juga bahkan seluruh Indonesia bahwa masih ada pejabat yang baik di negeri ini.

  5. ya medianya,, pak Jokowi pun pernah mengatakan kepada awak media secara langsung bahkan awak media pun menyiarkannya. Pak Jokowi bilang, “ya orang kalian kok yang selalu mengikuti saya, saya tidak harus diikuti terus, saya mau kerja..”.. begitulah kurang lebihnya,,

Comments are closed.