Cobalah Untuk Menerima, atau Pergilah..

3 menit waktu baca

Saya adalah orang yang ndak punya banyak teman. Yah, memang seperti itu faktanya. Saya bukan tipe orang yang pintar bergaul. Saya betul-betul orang yang mengutamakan kepentingan diri sendiri dulu, sebelum mendapat teman baru. Hehe! Kesannya sombong mungkin, tapi justru saya adalah orang yang realistis.

Maksud saya begini, kita tentu ndak bisa berharap semua orang menjadi orang yang membuat kita senang, atau sesuai dengan keinginan kitalah, gampangnya. Misalnya, saya berkenalan dengan seseorang. Tapi ternyata dia tidak seperti apa yang kita inginkan. Trus apa yang bisa kita lakukan?

Kalau saya pribadi, honestly, saya akan mencoba untuk mengubah orang itu menjadi seperti apa yang saya mau. Egois ya? Iya memang. Hehe! Tapi, jujur deh, semua orang pasti seperti itu. Tapi setelah dipikir-pikir, itu semua sia-sia. Siapa sih yang bisa mengubah orang lain kecuali orang itu sendiri. Bahkan, seorang ibu pun blum tentu bisa mengubah karakter atau kebiasaan anaknya, apalagi kita? Ya kan? :P

Trus, kalau sudah seperti itu harus bagaimana? Okelah, kita harus menurunkan sedikit kadar idealisme kita. Caranya? Yah, kita harus mencoba untuk menerima kebiasaan teman baru kita. Apa yang dia suka, kita coba untuk ikut menikmatinya. Tapi, apa ada yang seperti itu? Rasanya ada, tapi pasti ada maunya. Hayo, jujur deh..

Biasanya nih ya, orang berusaha menerima kebiasaan orang lain, kalau pas ada feeling ke orang itu. Misalnya, ke cewek yang kita incar untuk jadi pacar. Kita yang ndak pernah beli pizza untuk dimakan sendiri karena mahal misalnya, bela-belain beli pizza pake uang kita karena ternyata cewek itu doyan pizza. Kita yang sebal banget nonton infotainment, jadi hafal jam tayang infotainment di tivi karena ternyata si dia hobi banget nonton berita selebritis itu. Iya kan? Yah, mungkin ndak separah itu, tapi pasti ada kebiasaan kita sendiri yang kita korbanin karena ternyata ndak pas dengan kebiasaan dia.

Contoh lain, kita berada dalam kelompok yang hobinya ngobrol tentang blue film alias bokep. Serius, saya pernah lho! Hehe! Hobinya ngobrol tentang bokep, sewa bokep, atau ngobrol tentang cewek cuma karena cewek itu berbodi luhur. Awal-awalnya saya bisa menikmati, karena saya beberapa kali juga pernah nonton bokep (tapi sekarang ndak lagi, takut terjerat UU Porno). Tapi kok lama-lama, obrolannya jadi ndak mengenakkan banget.

Di luar semua contoh tadi, memang paling adil dan baik kalau kita mau mencoba menerima kebiasaan teman baru, di lain pihak, teman baru pun beritikad baik untuk menerima kebiasaan kita. Itu memang yang paling pas. Kesannya saling menghargai banget ya? Hehe!

Tapi gimana kalo ternyata kita ndak bisa menerimanya? Gimana kalo kita ndak bisa mencocokkan kebiasaan kita dengan dia/mereka yang benar-benar bertolak belakang? Atau si teman baru ndak bisa menerima kebiasaan kita?

Maka pergilah! Itu jalan yang selalu saya tempuh kalau saya benar-benar ndak bisa menerima kebiasaan orang lain. Saya ndak pernah memilih untuk tetap dan terus memaksakan keinginan saya ke teman baru. Masa saya trus marah-marah ke kelompok yang saya bilang tadi, “Bisa ndak kalian ngobrolin selain sex?? Saya paling ndak suka ngobrolin topik ini! Ngobrolin tentang politik donk sekali-kali!!!”

Mereka berhenti? Blum tentu! Yang ada, saya mempermalukan diri saya sendiri di depan mereka. Iya kan? Nah, kalo kaya’ gitu keadaannya, pergi menjauh adalah sikap yang paling logis dan elegan. Ndak usahlah kita berusaha mati-matian mengikuti kebiasaan orang kalo kita emang ndak bisa. Ndak penting juga kita berusaha mengubah mereka menjadi seperti yang kita mau. Pergilah dari sana! Dunia ini ndak selebar daun kelor, kata orang. Masih banyak calon teman baru yang lebih sesuai atau minimal mendekati seperti apa yang kita inginkan.

Daripada kita memaksakan diri di tempat yang ndak sesuai dengan keinginan kita, dan membuat kita ndak nyaman, pergi dari sana akan jauh lebih baik dan benar. Kita jadi ndak mengganggu kebiasaan orang, dan kebiasaan kita pun ndak jadi terganggu. Intinya, kalau ndak suka, cobalah untuk menerima, atau, pergilah dari sana, cari teman lain yang lebih cocok. :)

Related Post

5 thoughts on “Cobalah Untuk Menerima, atau Pergilah..”

  1. hm… rasanya kok jahat banget ya!
    “pergilah” semudah itukah? klo aku, semisal ga bisa menerima ya ga sampe segitunya untuk pergi menjauh, yah paling gak nambah vocab pertemanan aja, semain beragam teman yang kita dapet bukannya itu bakal bisa membantu kita kelak, paling gak kita punya orang yang bisa ditanya ketika menghadapi situasi yg mungkin teman kita lebih mengenalnya hehe.. piss gung..

    pushandaka Reply:

    Sabar wo..
    Aku memilih pergi karena aku ngrasa ini yang paling bagus. Daripada aku marah-marah ndak karuan, ya kan? Pergi bukan maksudnya tinggalin phisically. Tapi, ndak mau lagi punya urusan sama dia/mereka. Kalau misalnya aku harus berada di lokasi yang sama untuk kegiatan yang sama, ya ndak apa-apa. Tapi sebisa mungkin aku akan menolak segala urusan yang melibatkan aku dan dia/mereka secara bersamaan.

    Masalah banyak teman banyak bantuan, aku sebenarnya juga punya asas yang sama seperti itu. Tapi aku mending sedikit teman gpp, asal berkualitas. Hehe!

  2. gung, aku ralat ya.

    setauku yg membuatmu gak nyaman tuh bukan suasananya tapi gaya satu orang itu saja. agak overgeneralisir kalau contoh dari satu orang itu kemudian kamu pukul rata sebagai sikap seluruh kelompok tersebut. ini yg disebut stereotipe. dan itu berbahaya.

    kita menilai satu kelompok hanya dari apa yg terlihat, dan parahnya itu yg jelek. kenapa tidak melihat kelompok itu dari yg enak2: becanda, banyak teman, jalan-jalan, makan2..

    kalo ada satu yg jelek, ya itu sudah keniscayaan. tidak ada yg sempurna..

    pushandaka Reply:

    Sabar Ton..

    Kalo kasusnya seperti itu, karena kebiasaan satu orang di dalam kelompok yang ndak saya suka, trus saya meninggalkan kelompok, itu bukan karena saya memukul rata semua orang di kelompok itu sama seperti orang yang itu. Saya akan meninggalkan kelompoknya, kalo ternyata saya merasa semua anggota kelompok bisa menerima kebiasaan orang itu. Ndak mungkin donk, saya trus menghasut teman-teman lainnya untuk ikut ndak menerima kebiasaan orang itu.

    Justru saya menghormati pilihan teman-teman lain yang bisa atau minimal mau mencoba untuk menerima kebiasaan orang itu. Gitu boss! (sekedar catatan, si a! ini adalah big bossnya Bali Blogger Community, komunitas di mana blog ini numpang eksis)

  3. Kalo saya, jika menemui suatu kelompok yang bertolak belakang secara pemikiran, biasanya lebih memilih diam dan mengamati saja. Levelisasi ketidakcocokan mempunyai tingkatan sendiri-sendiri. Jika memang saya mendapatkan siksa lahir dan batin serta banyak ruginya, tetap akan diam dan pasang kuda-kuda (tameng) untuk melindungi diri.

    Diam dan menyendiri memang dibutuhkan oleh manusia, mungkin lebih ke diri saya pribadi sih. Kalau pergi, tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau saya, akan merasa kalah. Dan ini akan menyiksa diri jika saya kalah hehehe.

    Tulisan bagus bli. Ini menunjukkan bahwa manusia itu memang berbeda satu sama lain. Kebersamaan itu tercipta dari saling menghormati dan memahami perbedaan.

    Makasih buat masukannya Mas. Tapi seperti yang saya bilang, langkah pertama yang saya coba lakukan adalah mencoba untuk menerima kebiasaan teman baru, dan itu saya lakukan dengan diam. Saya membiarkan dia/mereka melakukan kebiasaannya. Andaikata saya tetap ndak bisa, atau lama-lama menjadi bosan untuk diam, saya lebih baik memilih pergi daripada harus berkonfrontasi dengan dia/mereka yang saya yakini ndak ada untungnya buat saya. Gitu Mas..

Comments are closed.