Rokok, Sebuah Dilema..

2 menit waktu baca

Bulan ini, ada 2 siaran olahraga internasional yang ditayangkan di tivi. Pertama, semua orang tentu tau, siaran langsung Piala Dunia sepakbola yang lagi digelar di Afrika Selatan sampai bulan Juli nanti. Kedua, siaran langsung bulutangkis Indonesia Open. Keduanya adalah event olahraga favorit di Indonesia. Saya yakin, penonton kedua siaran langsung ini akan banyak banget. Tentu saja hal ini akan menguntungkan pihak stasiun tivi dan pihak sponsor. Cuma sayangnya, sponsor utama kedua tayangan olahraga ini adalah rokok. Anda tentu tau rokok apa yang menjadi sponsor tayangan Piala Dunia sepakbola dengan motto Intersport Pria Punya Selera. Begitu juga dengan sponsor tayangan dan turnamen bulutangkis yang bertajuk Djarum Indonesia Open. Rokok, lawan atau kawan?

Saya ndak tau bagaimana Gudang Garam Internasional bisa menjadi sponsor utama tayangan langsung kejuaraan sepakbola. Sebab setau saya, FIFA sebagai badan sepakbola dunia mengharamkan banget rokok berada di dekat-dekat olahraga terfavorit di dunia ini. Dulu Marcelo Lippi, pelatih Italia, bisa dengan bebas menghisap cerutunya di bangku cadangan pemain. Sekarang sudah ndak boleh lagi. Jangankan pelatih yang duduk di pinggir lapangan, penonton yang hadir ke stadion pun sekarang dilarang untuk merokok selama berada di dalam stadion. Stadion penyelenggara Piala Dunia Afrika Selatan, melarang rokok masuk stadion.

Penonton dilarang merokok di dalam stadion.

Saya juga ingat pernah ada salah satu klub sepakbola Indonesia dilarang mengenakan kostum yang mencantumkan logo produsen rokok di dadanya, pada ajang Liga Champions Asia. AFC, badan sepakbola Asia, juga melarang pemasangan baliho dan board di pinggir lapangan, yang menampilkan iklan rokok itu. Hal ini jelas bertolak belakang banget dengan fakta bahwa Liga Indonesia malah disponsori oleh produsen rokok. Padahal FIFA sejak tahun 1986 sudah menolak segala bentuk sponsor dari produk rokok.

Sementara untuk turnamen badminton dan tayangan langsung Indonesia Open di tivi, juga mendapat perhatian serius dari Seatca (Southeast Asia Tobacco Control Alliance). Tapi untuk hal ini, BWF, badan bulutangkis dunia, memang blum punya aturan dan gerakan yang setegas FIFA. Alasan itulah yang membuat PT. Djarum bisa menggelontorkan dana sebesar 600 ribu US Dollar untuk dibagi-bagikan kepada para pemenang. Sementara Undang-Undang anti tembakau yang konon akan berisi larangan bagi produsen rokok menjadi sponsor kegiatan olahraga, malah ndak jelas berada di mana sekarang ini.

Melihat “kontribusi” para produsen rokok itu terhadap tayangan bermutu di tivi kita, membuat saya semakin pesimis bahwa ada niat yang sungguh-sungguh dari pemerintah untuk membatasi rokok. Apalagi saya yakin, tanpa sponsor rokok, tayangan olahraga bermutu ndak akan bisa dinikmati secara gratis oleh masyarakat Indonesia. Dari hal ini saya yakin masyarakat umum akan berterima kasih kepada produsen rokok itu. Mereka jadi lupa bahwa rokok harus kita jauhi.

Kalau sudah begini, dilema yang dihadapi pemerintah dan pihak-pihak anti-rokok akan semakin berat. Saya cuma bisa berharap agar rokok benar-benar bisa dibuang jauh dari semua kegiatan olahraga yang justru melibatkan generasi muda yang seharusnya dilindungi dari bahaya rokok. Sehatlah negeri..

Related Post

37 thoughts on “Rokok, Sebuah Dilema..”

  1. aku waktu SMA suka ikut kompetisi basket, sponsornya juga selalu produk rokok. Dari SMA sebenernya udah terganggu dengan hal kayak gini. kok olahraga sponsornya rokok? seperti sebuah ironi.
    Tapi sayangnya, justru produsen rokok lah yang punya dan berani untuk menggelontorkan dana untuk kegiatan kompetisi olahraga…

    pemerintah juga pasti ada alasan dibalik penundaan peraturan larangan sponsor oleh rokok bagi kegiatan olahraga, persenannya gede gitu misalnya :p

    Agung Pushandaka Reply:

    Iya betul, alasannya pasti melulu karena uang. Negara ini benar-benar jadi kapitalis. :P

  2. Go! Indonesia go! Hehe! Rokok emang jadi dilema, penyumbang cukai yang besar tapi juga alat buat bunuh diri secara perlahan, hoho, saya sendiri anti rokok!

  3. seperti di wayang ceng blonk pernah mengatakan :

    semua kembali ke kita, kitalah yang harus memilih, rokok jelas membahayakan kesehatan kita dan orang lain, makanya diisi tulisan peringatan di bungkus rokok, sekarang terserah kita, mau merokok atau tidak, asalkan jangan mengganggu orang lain.

  4. Pasalnya, Pak Agung, saya tidak yakin adakah produsen lain yang lebih kaya daripada pabrik rokok sehingga mampu mensponsori siaran bola. Mungkin perusahaan milik orang terkaya di negeri ini bisa melakukannya, tetapi dia terlalu “sibuk” menalangi kasus lumpur Lapindo.

  5. Permasalahan ini memang sepertinya dari dulu tidak pernah kelar2. Selalu saja terjadi pro kontra tentang rokok ini. Sepertinya ini memang menjadi dilema bagi pemerintah. Di satu sisi ia menghasilkan suatu keuntungan besar, disisi lain ianya merupakan penyebab utama banyaknya kematian akibat TBC

  6. Ironis memang ya Bli, peraturan itu dilanggar komitmentnya.
    Semoga ada regulasi yang tegas untuk memajukan olahraga, dengan dukungan pihak sponsor yang terkait dengan kesehatan.

  7. kalo saya melihat disini produsen rokok satu-satunya yang mau berinvest sebesar yang stasiun tv harapkan, dan tentu, dengan orientasi profit hal-hal seperti itu akan langsung diambil, ga memerhatikan kalangan yang awam (penonton). Kedewasaan stasiun tv, antara realis dan idealis masing-masing disini terbentur, kebutuhan atau keinginan. Jika bisa bersikap lebih tegas, masing-masing stasiun tv seharusnya bisa memelintir sponsor rokok menjadi sponsor lainnya, dan kalo ada kemauan, itu yang paling penting.

    Agung Pushandaka Reply:

    Kalau menurut saya, produsen rokok mau melakukan invest sebesar itu karena mereka memang niatnya promosi brother. Apalagi sekarang gencar banget kampanye anti-rokok. Mereka butuh sesuatu yang popular sebagai ajang berpromosi. Salah satunya ya olahraga, terutama sepakbola dan bulutangkis yang jadi favorit rakyat Indonesia.

  8. Sulit sekali tampaknya menegakkan aturan yang konsisten, karena ada banyak kepentingan lainnya yang perlu diakomodir, di luar faktor sportifitas dan kesehatan.
    Inilah pilihan yang serba dilematis.

  9. susah kalo prabrik rokok belum bisa ditutup sama pemerintah apalagi pajak paling besar adalah rokok ….
    salam sukses sobat

    Agung Pushandaka Reply:

    Ndak perlu sampai menutup pabrik rokok sih, mas. Saya lebih pengen rokok itu dibatasi, terutama dari jangkauan generasi muda termasuk anak-anak.

  10. Memang dilema sih. Habis gimana, di satu sisi rokok memang memberi banyak pemasukan untuk negara. Uangnya juga banyak dan sanggup saja mempromosi ini itu. :-S

  11. selamanya akan tetap menjadi dilema..bayangkan pajak paling besar di indonesia adalah pajak rokok, baik pajak pabrik maupun cukainya..mau ditutup?mmhh…mana berani pemerintah

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya ndak pengen pabriknya ditutup sih, sob. Kayanya kok ndak benar juga kalau pabriknya ditutup. Tapi saya cuma mau rokok dibatasi, ndak dihapus sampai keakar-akarnya. Hehe..

  12. pertanyaan bodoh saya: mengapa pabrik rokok tidak ditutup saja?
    salam persahablogan

    Agung Pushandaka Reply:

    Jawaban bodoh saya: baru mau dibatasi saja pabrik rokok dan simpatisannya sudah belingsatan, apalagi kalau ditutup. :P

    Salam kembali mas..

  13. pantes aja prestasi olahraga kita gak bisa meningkat, lha para calon atletnya ( generasi muda ) sudah “dibantai” dulu sama industri rokok

  14. aku waktu kuliah kalo ada acara di kampus pasti sponsornya rokok meskipun mereka ga boleh masang pos promosinya
    sudah bisa dilihat siapa yang menghasilkan uang terbesar

  15. Makanya saya setuju dengan pembuatan area publik bebas rokok, termasuk di dalamnya hal-hal yang mengiklankan rokok. Jadi nanti tempat olahraga masyarakat juga bisa dijauhi dari aroma tembakau.

  16. pilihannya, kalau nggak ada rokok,
    ya masyarakat harus siap bayar tayangan bermutu..

    Agung Pushandaka Reply:

    Tontonan bermutu sih memang seharusnya mahal. Daripada uangnya untuk beli rokok, saya rasa lebih baik dipakai untuk berlangganan tivi berbayar, kan?

  17. wah, saya sih gak anti rokok, dulu saya merasa memang rokok mengganggu, lalu saya coba bagaimana sih orang merokok itu begitu menikmatinya, dan ternyata benar, ada semacam “obat” saat mencoba rokok untuk terus mencobanya, saya yakini begitu, karena saat mencoba jadi tahu, mereka juga sulit lepas dari rokok mereka… jadi seperti perang batiniah individu yg merokok itu sendiri. maka dari itu pendapatan negara besar dari rokok karena sulitnya orang berhenti merokok.

    Agung Pushandaka Reply:

    Mas, saya merokok sejak umur saya 13 tahun dan itu berlangsung selama belasan tahun. Tapi sekarang saya sudah setahun berhenti merokok. Perasaan ndak bisa lepas dari rokok cuma sugesti, yang seharusnya bisa dikalahkan karena sugesti toh muncul dari pikiran kita sendiri.

    Saya pun ndak anti rokok. Tapi saya anti rokok (termasuk juga perokok) yang ndak menghargai non-perokok. Menurut saya, kegiatan olahraga seharusnya adalah kegiatan yang menyehatkan, jauh bertolak belakang dengan dampak rokok. Seharusnya rokok dan olahraga harus dipisahkan secara tegas. Itu saja kok yang saya mau.

  18. Bli Gung Pushandaka,
    Orang-orang di industri rokok sepertinya selalu lebih kreatif mencari celah promosi. Walau iklan dibatasi sana-sini, toh iklannya tetap nampak menarik. Mereka tetap punya dana berlimpah (di atas sekian banyak paru-paru yang ‘hangus’). :(

    Selama belum ada penerapan aturan yang tegas, celah itu akan jadi hal yang saling menguntungkan. Miris memang. Ujung-ujungnya duit.

    Asal jangan sampai ada kesan:

    a) “Saya perokok. Saya membiayai Anda supaya bisa menonton gratis. Jadi beri saya duduk di depan!”

    b) “Terima kasih buat perokok. Saya bisa nonton Piala Dunia di televisi!”

    Lainnya mungkin berpendapat: “Peduli amat dengan sponsor. Yang penting saya tidak merokok dan dapat nonton gratis!”

    Agung Pushandaka Reply:

    Bli Dani,

    Saya setuju dengan pendapat bli di alenia terakhir, banyak yang ndak terlalu peduli dengan sponsor rokok. Kebanyakan dari masyarakat kita merasa terganggu cuma karena asapnya saja.

  19. aku sudah hampir 4 tahunan berhenti merokok. dulu saat baru pertama kali berhenti, nafsu merokok selalu hadir saat melihat orang merokok. tapi syukur sekarang malah gak tahu dimana letak kenikmatan merokok :lol:
    btw, tentang sponsorship di ajang olah raga,…… seperti buah simalakama. dimakan bapak mati gak dimakan ibunya mati karena sekarang Indonesia dan masyarakatnya banyak yang bergantung dari hasil olahan tembakau. :sad:

  20. Pesimis negeri ini akan sehat. Jumlah perokoknya aja No 2 di dunia setelah China. Tp kalo perduli terhadap orang lain dg tidak menyebarkan asapnya sih gak papa. Siyalnya, para perokok di Indo tsb mau mati aja ngajak2x orang laen.

  21. Kalau kejadiannya seperti ini, siapa yang harus malu ya? Semua orang tahu, semua dokter tau, semua praktisi kesehatan tahu bahwa merokok itu adalah merugikan kesehatan :lol:

    Ah, saya jadi geli sendiri melihat hal ini.

  22. bener2 dilema sih mas.. soalnya sponsor yg paling berani mengeluarkan dana besar emang produsen rokok..
    sepakbola pun masih liga djarum :D

Comments are closed.