Film-Film Terlarang

3 menit waktu baca

Akhirnya, film Menculik Miyabi selesai dibuat dan sekarang sedang beredar di bioskop-bioskop tanah air. Seperti sebelumnya, pro dan kontra pun muncul mengiringi film ini. Saya sih ndak tertarik untuk menilai film ini, lagi pula saya sudah ndak tertarik sejak awal beredarnya gosip tentang film ini. Tapi saya lebih tertarik untuk mengamati kebiasaan masyarakat kita untuk meributkan sebuah film. Dalam perjalanan negeri ini, sudah banyak film yang malah menimbulkan kontroversi, bahkan sampai ada yang dicekal. Banyak alasan yang dipakai oleh masyarakat atau lembaga sensor untuk menolak beredarnya sebuah film. Mulai dari masalah budaya, sejarah, agama, bahkan sampai masalah moral. Padahal, sebuah film ndak seharusnya dinilai seserius itu. Blue film tentu sebuah pengecualian. Hehe..

Saya lihat di wikipedia ada beberapa film lokal yang pernah menimbulkan kontroversi. Sebut saja Romusha, yang dicekal karena ditakutkan dapat mengganggu hubungan diplomatik dengan Jepang. Atau yang masih segar dalam ingatan kita adalah film-film bertema seks seperti Buruan Cium Gue dan Suster Keramas yang dicekal karena dianggap ndak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan di negeri ini. Sementara film Nyoman Dan Presiden, harus saya tonton dengan judul Nyoman…, karena presiden dianggap sesuatu yang keramat waktu itu. Sebaliknya, film G30/S/PKI yang dulu rutin ditayangkan TVRI, sekarang malah dilarang beredar. Pernah juga saya dengar, rencana pembuatan film Perang Bubat malah dilarang. Padahal menurut saya, film ini akan mengulangi kejayaan film-film kolosal kita.

Sementara kemarin di Trans 7, saya melihat daftar film asing yang pernah dilarang beredar di Indonesia. Misalnya film The Year of Living in Dangerously, yang menceritakan tentang seorang wartawan Australia yang bertugas meliput keadaan Jakarta pada masa-masa genting di tahun 1965. Film yang mengorbitkan aktor besar Mel Gibson ini direkam di Philipina karena pemerintah orde baru menolak memberikan ijin untuk mengadakan syuting di Jakarta. Akhirnya, film ini dicekal oleh pemerintah karena dianggap ndak menggambarkan sejarah yang benar. Dalam film ini ada adegan yang menggambarkan penembakan massal yang dilakukan oleh pasukan baret merah. Pencekalan dicabut pada tahun 1999.

Film lainnya yang dicekal adalah Balibo. Film ini dinilai ofensif dan mengungkit luka lama karena menunjukkan kebrutalan tentara Indonesia yang membunuh lima wartawan Australia yang bertugas di Balibo, Timor-Timur pada tahun 1975. Padahal menurut versi tentara, wartawan-wartawan itu terbunuh karena berada di posisi berbahaya dalam sebuah konflik bersenjata terbuka. Bahkan, karena film ini Deplu menghubungi secara khusus Menlu Australia.

Saya juga ingat pernah ada film yang diributkan oleh sekelompok anggota masyarakat karena menggambarkan gerombolan penjahatnya berpakaian ala laki-laki Timur Tengah. Sayangnya, saya lupa judul film itu. Hehe, parah banget yah! Film Da Vinci Code juga sempat jadi kontroversi sebelum akhirnya laku keras di Indonesia. Begitu juga film 2012 yang bahkan sempat diharamkan oleh beberapa MUI di daerah. Mungkin masih ada lagi film lain yang dianggap meresahkan dan harus dilarang beredar di Indonesia.

Saya pribadi menyayangkan banget tindakan pencekalan-pencekalan semacam itu. Menurut saya, sebuah film adalah sebuah imajinasi dari pembuatnya. Sementara untuk film-film yang berlabel true story, saya melihatnya sebagai pendapat dan interpretasi pembuatnya. Misalnya film Balibo. Menurut saya, film itu dibuat berdasarkan pandangan si pembuatnya. Setiap orang punya pandangan yang berbeda terhadap suatu kasus. Tergantung dari sudut mana dia memandangnya. Tentu saja kita ndak bisa menyalahkan seseorang karena berbeda pandangan terhadap suatu hal atau kasus. Perbedaan pandangan/pendapat adalah hal yang lumrah.

Jadi kalau boleh saran sih, sebaiknya masyarakat kita ndak usahlah menyikapi secara serius keberadaan film terutama yang fiksi. Beredarnya sebuah film sama halnya dengan terbitnya sebuah buku. Itu cuma imajinasi atau pandangan/pendapat/opini si pembuatnya. Sekarang cuma pintar-pintarnya kita saja menilai hasil karya itu. Sebaiknya, lembaga sensor juga lebih bijak menggunakan gunting sensornya. Kalau sekedar menggunting adegan seks dalam sebuah film, ya okelah. Tapi kalau sampai mencekal, janganlah. Semakin kita terbuka dengan perbedaan pandangan/pendapat/opini atau versi, maka semakin terbuka luas juga wawasan kita dalam memandang sebuah kasus.

Pencekalan film sebenarnya juga terjadi di negara lain. Tapi untuk di Indonesia, semoga ndak ada lagi pencekalan-pencekalan seperti itu. Biar saja penonton yang memilih. Malah saya bilang, pemerintah pun juga boleh kok membuat film sejarah menurut versi mereka sendiri. Ntar kita lihat saja, filmnya bagus atau ndak. Hehe! So, enjoy the movie..

Related Post

38 thoughts on “Film-Film Terlarang”

  1. film menculik miyabi dari awal nggak minat untuk nonton, bukan karena apa sih, kelihatannya biasa aja, aktor dan ktris nya juga kualitasnya kurang lah.
    .-= Tulisan terbaru tary sonora di [blognya]: Yang emak nggak tau… =-.

    julie Reply:

    setuju film bernada sama juga seperti suster keramas itu
    ga penting ditonton kan? :D

    delia Reply:

    setuju juga…
    gak ada bagus2nya…
    heran gara2 nama “miyabi” tuh
    .-= Tulisan terbaru delia di [blognya]: Mencoba Romantis =-.

  2. ngomong in ttg aksi pencekalan, kenapa ya..
    misal sebuah film di cekal, namun selang beberapa saat, tiba-tiba film yang dicekal itu, bisa beredar lagi ?!

    apakah aksi pencekalan film tersebut hanya ‘alibi’ suatu pihak untuk mendapatkan uang ?!
    .-= Tulisan terbaru NoRLaNd di [blognya]: It’s Been a Half of the Year =-.

  3. Kalau begitu ada yang traktir dan nemenin nonton saya sih biasanya oke saja buat nonton film apa-pun. Saya memang lebih sering ditraktir seperti nonton IronMan 2 kemarin :)

    Kalau masalah pencekalan dan pelarangan, apa sampai begitu parahnya sampai tidak bisa tertangani lembaga sensor (yang notabene juga sering dapat protes)?
    .-= Tulisan terbaru Cahya di [blognya]: Buku Harian, Surat dan Tulisan =-.

    delia Reply:

    ngomong2 tentang IM 2…. kok kurang seru ya dibandingkan iron man …. padahal udah rela antri kemarin.. hhehhehe
    .-= Tulisan terbaru delia di [blognya]: Mencoba Romantis =-.

  4. kadang kala pencekalan itu berdalil norma/kaidah/adat padahal …..itulah kenyataanya, sebelum dicekal kan sudah ada bagian yang membidangi, mana yang layak atau tidak layak secara umum (tumben serius nich) heee. sukses selalu
    .-= Tulisan terbaru budiarnaya di [blognya]: tak usang dimakan usia =-.

  5. mindset orang indonensia masih belum mampu untuk mencerna itu sebuah film yang berdasarkan fiksi atau beneran gung.
    apapun yang disuguhkan di depan mata, entah benar atau salah, sedikit banyak akan mempengaruhi.

    *Jayalah Indonesia.!!!*
    .-= Tulisan terbaru Yanuar di [blognya]: scarffaces [Flickr] =-.

  6. hehehe, tapi kalo film indie 3gp yang ehem-ehem, gimana mas?hehehe….

    Agung Pushandaka Reply:

    Wah, kalau film yang ini tentu saja di luar jangkauan lembaga sensor karena peredarannya ndak sama seperti film layar lebar atau layar kaca. :)
    .-= Tulisan terbaru Agung Pushandaka di [blognya]: Film-Film Terlarang =-.

  7. sebenarnya saya juga ga suka dengan pencekalan,cukuplah lembaga sensor yang menangani..dan lembaga sensor juga harus bermoral dan mampu menjaga budaya indonesia yang beragama ini..

  8. isu pencekalan dan pelarangan terhadap suatu film malah jadi antagonis dengan maksud pencekalan

    mungkin semua produser ingin filmnya dijadikan kontroversi sebelum bisa diputar di bioskop

    hitung hitung promosi gratis yang manjur

    salam
    .-= Tulisan terbaru jarwadi di [blognya]: Optimal Memanfaatkan Teknologi =-.

  9. Sudah hampir 15 tahun saya tidak pernah nonton di bioskop maupun film produksi dalam negeri.
    Mengenai film-film yang dilarang, menurut saya sebuah pekerjaan yang sia-sia; saya terus terang saja merasa dibodohi oleh lembaga sensor film dan orang-orang yang mengaku sok suci melarang sebuah film beredar. Bangsa ini sudah terlalu dewasa, jadi tidak perlu diatur seperti anak kecil.
    Ada film yang menceritakan kebenaran dilarang, sementara film samlehoy beredar diglodok nggak ada yang melarang :oops:

  10. kalau filmfilm yang lebih banyak ngejual tubuh semacam miyabi itu aku paling males nontonnya
    tapi kalo yang berunsur politik atau seperti 2012 itu menurutku emang ga perlu pencekalan karena seperti kata mas agung itu adalah imajinasi kreatif dari pembuatnya

    hehehe
    .-= Tulisan terbaru julie di [blognya]: NEGERI AWANGGA (2) =-.

  11. Iya sih, seharusnya film-film fiksi yang merupakan imajinasi kreatif dari sang sutradara ga perlu sampai dicekal kayak gitu.
    Di Luar sana, yang saya tahu nggak ada tuh yang namanya pencekalan. LSF disana hanya memberi rating terhadap film seperti R, PG13, G.
    .-= Tulisan terbaru Dirgantara di [blognya]: Review: Inside (À l’intérieur) =-.

  12. Karena lebih gampang melarang drpd mengedukasi penonton agar sadar utk ngebedain film sbg sebuah pendapat sang pembuat dg kenyataan. Lagian lembaga sensor menurutku ga perlu ada, yg perlu lembaga rating film. Jd tiap film dkasih rating disesuaikan dg target penontonnya. Cuma masalah sulitnya si, apa pihak bioskop bisa nyensor penontonnya sesuai dg rating filmnya? hehehe. Jadi rumit ya? :P

    Btw, ngapain liat miyabi pake baju kalo yg gak pake baju beredar di internet dg mudahnya hehehehehh :P

    Agung Pushandaka Reply:

    Hmmm.., lembaga rating film? Kayanya saya harus setuju dengan pendapatmu. :)

  13. Pencekalan juga gak jelas sebenarnya apa yang dicekal, pokoknya ada komunitas yang gak suka, cekal! Ga ada reason yang bisa diterima.

  14. Iya aneh.. banyak film bagus yang dicekal karena alasan sara politik dll.. Penonton kan sudah dewasa.. bisa memahami baik buruknya.. lia sependapat dengan norland.. dicekal ujung2nya biar film nya meledak…. ckckcckk

    Film terlarang yang lia suka itu
    the davinci code…keren….
    .-= Tulisan terbaru delia di [blognya]: Mencoba Romantis =-.

  15. setuju dengan pendapat bli, kalau pilem itu dibuat berdasarkan imajinasi liar seseorang, ide kreatif yang harusnya bisa bebas di eklpoitasi tanpa adanya batasan2 dari aturan2 dunia.

    penonton kita sudah semakin dewasa dalam memilih film yang bagus ataupun tidak, naum penonton kita juga terlalu sering latah jika ada isu2 pencekalan ataupun yang laennya.

    setuju saya degnan pendapat jika isu pencekalan hanya untuk menaikkan penjualan dari suatu film

    salam bli :D
    .-= Tulisan terbaru indratie di [blognya]: and everything is blue =-.

Comments are closed.