Interview Palsu di TVOne

2 menit waktu baca

Satu lagi berita menyedihkan yang saya baca hari ini tentang dunia pertelevisian kita. Tivi, yang belakangan saya rasa semakin meninggalkan fungsi edukasi, semakin ndak jelas lagi tujuannya. Setelah bertahun-tahun ini selalu dengan bangga menayangkan program sinetron yang sama sekali ndak berbudaya Nusantara, ditambah lagi dengan program reality show yang ndak mendidik, juga program-program berita yang cenderung provokatif dan kualitas presenter yang jauh dari memuaskan, hari ini di sini, TVOne ketauan mengadakan sebuah interview palsu. Apa maksudnya ini?

Kalau anda ndak sempat membaca di tautan yang saya sediakan di atas, saya ceritakan secara ringkas. Dalam sebuah program acara, TVOne menghadirkan seseorang yang disebut sebagai salah satu makelar kasus yang beredar di Mabes Polri. Si narasumber yang bernama Andri Ronaldi (AR) mengaku saat interview bahwa dirinya sudah 12 tahun beraksi di Mabes Polri. Dia juga bilang dibalik topeng yang dikenakan di TVOne, pernah mengantarkan uang 1 miliar untuk sebuah kasus dan mendapat imbalan 1,5 juta.

Dari interview itu, Polri kemudian memeriksa si narasumber yang sempat melarikan diri ke Bali. Tapi, dari pemeriksaan kemudian terungkap bahwa dia cuma berakting sebagai makelar. Kesaksian yang diberikan di TVOne cuma menjalankan skenario yang disediakan presenter acara itu. Bahkan, belakangan terungkap bahwa si AR sama sekali blum pernah berada di Mabes Polri.

Jadi, apa maksud diadakan interview ini?

Saya tau, Kepolisian RI sekarang adalah lembaga yang bercitra buruk banget di mata masyarakat. Tapi apakah dengan begitu, tivi boleh merekayasa sebuah berita atau fakta yang semakin memperburuk citra polisi? Ini tentu sudah merupakan pembohongan dan pembodohan publik. Maka ini bertentangan dengan pasal 3 UU Penyiaran yang menetapkan tujuan penyiaran adalah salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekarang, si AR sudah ditahan polisi sebagai saksi. Menurut saya, pihak tivi juga harus digiring ke Mabes Polri. Interview palsu ini sudah tentu ndak adil banget untuk Kepolisian. Seburuk apapun citra mereka sekarang ini, mereka berhak mendapatkan perlakuan yang adil oleh pers. Tivi sebagai media jurnalisme harus bertindak netral dan fair dalam memberitakan sebuah fakta. Sementara TVOne malah membuat fakta palsu yang jelas-jelas ndak netral.

Sebaiknya sekarang TVOne ndak berlindung di balik ketiak Dewan Pers, KPI, atau apalah namanya untuk menghindarkan diri dari penyelesaian secara hukum. Tapi di sisi lain, saya juga berharap agar Kepolisian menggandeng pihak-pihak itu untuk mendapat solusi penyelesaian yang paling tepat. Kalaupun polisi beritikad baik untuk menyelesaikan kasus ini di luar ranah hukum, saya acungi jempol untuk korps baju cokelat.

Saya harap dengan terbongkarnya kasus ini, menjadi pelajaran bagi stasiun tivi lainnya. Menarik perhatian pemirsa adalah hak setiap pelaku siaran tivi. Tapi, berlakulah yang jujur. Beritakan fakta yang benar-benar terjadi. Bukan merekayasa sebuah fakta yang mungkin dapat menimbulkan kontroversi di masyarakat, bahkan dapat memecah belah persatuan bangsa. Pelajaran juga buat kita semua untuk menerima fakta-fakta melalui media tivi.

Jadi sekarang, TVOne adalah stasiun tivi yang “Terdepan Mengabarkan…Kebohongan”?? Atau jangan-jangan TVOne cuma makelar fakta/berita?

* Saya menulis ini sebelum ada konfirmasi resmi di TVOne. Cuma berdasarkan berita di Kompas dan Metro TV.

* Berita terbaru : TVOne membantah telah merekayasa berita. (edited: 8 April 2010, pkl. 21.40)

Related Post

34 thoughts on “Interview Palsu di TVOne”

  1. Bli Gung. Saya baru tau adanya kebohongongan ini. Awalnya saya salut sama TVOne, tapi kalau kebohongan interview ini benar adanya, maka acungan jempol saya akan saya balik 180 derajat.

    Polri di mata saya, mereka benar-benar sedang melakukan Trust Building. Sedikit keberhasilan pengungkapan terorisme, sudah ditutupi lagi oleh kasus Century dan Cicak Buaya kemarin, kasian. Saya ngakak baca istilah bli Gung ttg makelar fakta/berita…. kosakata baru!
    .-= Tulisan terbaru budiastawa di [blognya]: Perokok, Asapmu Bukan Untukku =-.

  2. Jika berita aktual saja sudah diperlakukan seperti sinetron apa jadinya ?
    Saya sependapat Mas, seharusnya pihak TVOne juga diseret ke Markas Kepolisian, paling tidak penanggung jawab acaranya.

    Agung Pushandaka Reply:

    Tentu saja diseret ke Mabes untuk didengarkan kesaksian mereka secara adil ya mas.

  3. saya tadi baru nonton TV, orngnya udah ketangkap kok.. emank tidak ada kesengajaan dari TV one.. lagian udah ada konfirmasi berita dari TV one klo itu markus palsu.

    yah itulah.. memang saat ini banyak TV yg gak mendidik.. bahkan siaran liga italy pun gak ada.. mau nonton inter gimana lg klo begitu.. inter VS cska moskow aja gak disiarin.. benar2 TV gak mendidik.. hahaha.,.. :D

  4. Sepertinya sy ketinggalan informasi, bgmn mau nonton krn siaran TV kabelnya ada gangguan. Bbrpa hari ini hilanglah kesempatan menonton aksi spongebobs dg berita suara anda bersama kuis super family yg seger beneer…

  5. saya penikmat berita yg ada aja deh mas..hehehehe
    tapi tetep akan menyikapi secara bijak ttg berita yg di tayangkan…harus sesuai realitanya..
    siapapun yg merekayasa, entah TVone maupun Kepolisian saya percaya suatu saat akan terbongkar kebenarannya…

    salam, ^_^

  6. waduh bli, klo berita ini saya baru tau, maklum udah beberapa hari gak sempet liat berita. tapi seandainya saya boleh mengumpamakan dan membandingkan dua TV swasta tvOne dg MetroTV.
    tvOne itu seperti koran lampumerah (sekarnag lampu hijau) yang memberikan berita dengan kesan frontal tanpa cek n ricek yang valid, sedangkan untuk metroTV seperti koran2 papan atas seperti kompas ataupun media indonesia, meskpun berita yang ditayangkan seringkali kalah cepat dengan tvOne, tapi mereka menyajikannya secara elegan, atau bisa dibilang main cantik, dibungkus sedemikian rupa dengan dilakukan cek n ricek terlebih dahulu tentunya.
    ini hanya pendapat saya probadi bli, salam :D
    .-= Tulisan terbaru indratie di [blognya]: saat rasa cinta harus ditepikan sejenak =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Wah, menarik banget penilaian kamu terhadap 2 stasiun tivi itu. Secara umum saya sepakat.

    Tapi kalau boleh saya tambahkan, saya merasa TVOne terlalu provokatif dan justru memanfaatkan moment yang terjadi untuk menarik penonton dan meningkatkan rating, tanpa ada solusi yang jelas. Bisa dilihat dari talkshownya. TVOne cenderung menampilkan pertengkaran di antara narasumber yang hadir. Kalau sudah saling bertengkar, presenternya malah senyum-senyum saja. Akhirnya, talkshow itu malah ndak ada solusi yang bisa dipetik.

    Ini juga pendapat pribadi dari hasil membandingkan tivi-tivi yang ada di Indonesia, terutama program berita dan talkshownya. :)

  7. kalau sudah begini, entah siapa lagi yang bisa kita percaya. Percaya pejabat? Percaya polisi? Percaya hakim? Percaya jaksa?

    Sekarang, apakah kita masih bisa percaya pada media??
    .-= Tulisan terbaru imadewira di [blognya]: Ide Tulisan Dari Posting di Blog Lain =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Di tengah rasa kendakpercayaan anda kepada lembaga-lembaga atau instansi yang ada sekarang, saya rasa yang paling tepat adalah mempercayai hati nurani saja, bro. Ikuti saja apa kata hati nurani, masih ndak sih kita pantas percaya kepada mereka. Kalau hati nurani anda bilang sudah ndak pantas lagi percaya mereka, ikuti saja. Kembali ke hati nurani saya rasa menjadi jalan paling tengah/netral yang bisa kita lakukan

  8. Tapi benarkah ini paslu
    Kita lihat saja :)

    Agung Pushandaka Reply:

    Lho, kan memang palsu mas? Kedua belah pihak juga mengakuinya kok walaupun dengan masing-masing versinya.

    Versi si markus bilang, dia diarahkan untuk berbicara sesuai keinginan si presenter. Sementara pihak TVOne bilang, bahwa mereka ditipu oleh si markus. Intinya, interview itu palsu. :)

  9. Biasanya kalawo sudah mau On air kan semuanya harus nampak bagus dan enak dilihat orang banyak mas, makanya penuh dengan triks dan rekayasa dan rekadaya. :lol:

  10. padahal tvone tu salah satu channel favorit saya, soalnya ga ada sinetronnya,hehehe…tapi kalo bener terbukti interview kemaren itu rekayasa aja, waduh, ga’ tau deh…

  11. ga pa2,,aq dukung tv one,,kepolisian memang perlu di kasih shock terapi,,mereka arogan soalnya
    .-= Tulisan terbaru arafi di [blognya]: Download, E-book, Tutorial Membuat Blog =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya juga mendukung reformasi Polri dan sedikit pelajaran kepada polisi biar lembaga ini berubah menjadi jauh lebih baik.

    Tapi cara yang dipakai menuju ke sana tentu harus dengan cara yang lebih berpendidikan, bukan sekedar mencari keuntungan pribadi di atas carut marut keadaan negeri. :)

  12. yah, mana sih TV yang baru berdiri langsung dapat prestasi memukau kalau bukan TV-One. Mungkin ingin selalu sukses cepat itu lah yang menjadikan berbagai macam cara ditempuh.
    .-= Tulisan terbaru Hanif di [blognya]: Cari Theme Di Sini =-.

  13. Ng nyangka juga tvOne berani berbuat seperti itu. Padahal saya terkadang juga sering menonton tvOne. Penyalahgunaan pers yang tidak bertanggung jawab seperti inilah yang akan berdampak fatal bagi kehidupan masyarakat karena akan berpotensi untuk melahirkan opini yang salah, bahkan kemungkinan terburuknya akan menciptakan konflik di kalangan masyarakat.
    .-= Tulisan terbaru infini3 di [blognya]: Mengenal Lebih Dekat Fitur Hibernasi Pada Komputer =-.

  14. Hanya gara2 ingin meraih kepopuleran dalam waktu singkat, berita pun direkayasa. Yang begitu biasanya cepat juga jatuhnya karena orang pasti tidak percaya lagi.

Comments are closed.