Ndak Enak Hati..

2 menit waktu baca

Berantem, bertengkar, ribut, atau apalah kata yang tepat untuk menggambarkan adanya konflik kepentingan atau perbedaan pendapat yang sampai membuat para pihak yang terlibat jadi saling adu kencang urat leher, trus saling diam bahkan mungkin bermusuhan, ujung-ujungnya cuma bikin ndak enak hati. Ndak peduli ribut dengan siapa pun, tetap saja ndak enak. Terutama lagi kalau kita ribut dengan orang yang dekat dengan kita, yang seharusnya saling bekerja sama untuk meraih tujuan dan cita-cita bersama. Hufh, kalau untuk saya, ribut dengan orang dekat bisa bikin ndak enak hati. Kalau sudah ndak enak hati, semuanya jadi ndak enak. Ndak enak makan, ndak enak nonton, ndak enak tidur, bahkan main game yang paling seru pun jadi terasa basi.

Mungkin rasa ndak enak hati juga dirasakan oleh orang-orang yang pernah atau sedang terlibat pertengkaran dengan orang dekatnya di atas sana. Mulai dari kasus waktu para penyidik dan penegak hukum di negeri ini (KPK, Kepolisian dan Kejaksaan) saling bertengkar, padahal orang-orang di ketiga lembaga itu ya polisi dan jaksa juga. Begitu juga waktu kasus Bank Century dibahas di pansus, “pertengkaran” melibatkan Partai Demokrat dan beberapa partai koalisi yang dianggap membelot. Sekarang, Pak Susno Duaji mungkin juga ndak enak hati karena harus “bertengkar” dengan koleganya di Kepolisian. Begitu juga Nurdin Halid yang sekarang lagi “ribut” dengan beberapa anggota PSSI yang pro Kongres Sepakbola Nasional.

Mungkin mereka juga merasakan apa yang saya rasakan, ndak enak hati karena harus bertengkar dengan orang dekat. Ujung-ujungnya, kalau sudah merasa ndak enak hati seperti ini, yang ada cuma penyesalan. Kenapa harus bertengkar untuk menyelaraskan semua perbedaan yang ada. Sudah buang-buang tenaga, masalahnya pun blum tentu terpecahkan, malah mungkin menambah masalah baru dari pertengkaran itu.

Andai kata mereka, juga saya, bersama-sama mengedepankan tujuan dan cita-cita bersama yang jauh lebih besar daripada keinginan pribadi, rasanya pertengkaran itu bisa dihindari. Ndak perlu mencari siapa yang salah siapa yang benar, cuma melihat kembali apa sebenarnya tujuan dan cita-cita bersama yang ingin diraih. Apalagi, kita sebagai bagian masyarakat Nusantara sejak kecil diajarkan untuk mengutamakan musyawarah. Kalau cita-cita bersama dan musyawarah itu selalu melandasi setiap langkah kita untuk menyelaraskan perbedaan, mungkin pertengkaran ndak perlu terjadi.

Tapi toh di sisi lain, pertengkaran kadang-kadang seperti ndak bisa dihindari. Juga ada yang bilang bahwa pertengkaran merupakan bumbu yang dapat membuat hidup kita lebih lezat (baca: lebih baik). Selama kita selalu mengambil hikmah dari semua pertengkaran yang pernah kita hadapi menjadi pelajaran dan pedoman untuk langkah kita selanjutnya, mungkin kebaikan akan kita dapatkan dari sebuah pertengkaran. Walaupun saya harus akui, ego setiap orang terkadang membuat kemungkinan itu mengecil.

Sumpah, bertengkar cuma membuat saya capek dan ndak enak hati. Mereka mungkin merasa seperti itu juga. Semoga pertengkaran hari ini akan membawa dampak yang baik untuk keadaan di masa datang.

Damailah di hati, di negeri, di bumi, selamanya..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

22 thoughts on “Ndak Enak Hati..”

  1. seperti ulasan saya sebelumnya…
    lia juga menyesali kenapa persoalan2 diselesaikan dengan pertengkaran… :( …
    Ayoo marilah kita menyikapi dengan kepala dingin..

    salam kenal mas agung
    .-= delia´s last blog ..Malam Minggu lage….. =-.

  2. Kadangkala karena ego dan emosi, proses bertengkar tidak bisa dihindari. Namun harus terkendali, karena pertengkaran malah memperkeruh masalah, lebih baik mengalah saja dan mengambil hikmahnya…
    .-= Puskel´s last blog ..4 MACAM SISTEM RUJUKAN UPAYA KESEHATAN =-.

    TuSuda Reply:

    Bila ada pertengkaran saya lebih banyak mengalah, karena merasa tidak nyaman hidup ribut dan ribet…
    .-= TuSuda´s last blog ..MENYIKAPI UJIAN NASIONAL DENGAN SENANG DAN TENANG =-.

  3. pertengkaran itu menyebalkan sangat, merusak silaturahim, membuat adanya GAP yang besar, tapi jika lulus dari ujian pertengkaran, maka persahabatan, subuah hubungan akan menjadi indah dan semakit erat ;)

  4. mungkin kalo perbedaan pendapat itu hal biasa yg sangat indah..tapi jika perseteruan itu karena berawal dari hal yg sudah jelas kesalahannya saya fikir seharusnya fihak yg benar ga perlu merasa g enak hati,,,justru yg jelas² salah..seyogyanya meminta maaf…hehehe *panjang bgt komeng ku*

    salam, ^_^
    .-= Didien®´s last blog ..Apa enaknya punya FB? =-.

  5. Setuju gung, memang gak enak banget bertengkar. Ngabis2in energi aja. Tapi kadang bertengkar gak bisa dihindari, karena itu kita musti belajar utk bertengkar yang “sehat”. Yang habis bertengkar, masalah bisa selesai tanpa ada masalah baru lagi.

    “Bertengkar” di futsal aja gung, bikin sehat dan bahagia kayaknya, hehehehe.
    .-= aprian´s last blog ..Logika cinta =-.

  6. bertengkar adalah proses bagaimana kita menghadapi suatu pembelajaran akan sesuatu.
    dan didalam proses itu masih terdapat proses-proses kecil yang lain. dan selama proses2 kecil itu belum terselesaikan, akan tetap ujung2nya pertengkaran yang membuat tidak enak hati.
    .-= Yanuar´s last blog ..Day of Silence =-.

  7. betul sekali gan.. pertengkaran hanya membawa rasa malu dan menyesal. toh gak ada gunannya jg bertengkar.. kan kita udh dewasa dan harus menyelesaikan perkara dgn hal2 yg dewasa jg.. hehe.. semangat gan,,.. :D

Comments are closed.