Awalan Untuk Kata “Ubah”

2 menit waktu baca

Anda pernah mendengar kata “ubah”? Kata ini seringkali dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi yang berbeda dari kondisi semula.

Misalnya dalam kalimat, “Orang itu berubah menjadi serigala di waktu purnama tiba”.

Tapi saya heran banyak sekali orang tidak tepat dalam menambahkan awalan pada kata ini.

Tidak jarang saya baca dalam sebuah tulisan pada sebuah blog, seseorang menulis kata “merubah” dan/atau “dirubah”.

Begitu juga di media lain seperti facebook, twitter, dsb. Padahal ilmu mengenai imbuhan (awalan, sisipan dan akhiran) adalah ilmu dasar dalam grammar Bahasa Indonesia.

Pernah suatu kali saya mengetik kata “merubah” pada search engine di internet. Ternyata kata ini jamak digunakan dalam sebuah kalimat.

Misalnya, “Cara merubah tampilan layout facebook“.

Sebelum memuat tulisan ini di blog, saya juga coba ketik kata “dirubah” pada search engine. Hasilnya juga tidak kalah banyak.

Salah satunya contohnya adalah “Pola pikir guru Indonesia harus dirubah“.

Sementara dua kata tersebut tidak ditemukan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia daring.

Saya akhirnya berusaha mencari tahu kembali tentang koleksi imbuhan yang dimiliki Bahasa Indonesia.

Seingat saya terdapat 3 macam imbuhan, yaitu awalan, letaknya di depan kata dasar; sisipan, letaknya di tengah kata dasar; dan akhiran di akhir kata dasar.

Sekarang kita fokus pada awalan saja.

Di wikipedia saya lihat, kita punya awalan me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per- dan se-. Awalan me- ndak selamanya berbentuk me-. Ada kalanya me- berubah bentuk menjadi mem-, men-, meng-, menge- dan meny-.

Contoh: me + baca = membaca, bukan mebaca. Contoh lain : me + jadi = menjadi, bukan mejadi. Begitu juga me + kais = mengais. Atau me + serah = menyerah.

Tapi, kenapa kala me + ubah = merubah?

Seharusnya, kata “ubah” saat mendapat awalan me- akan menjadi “mengubah”. Awalan me- ndak pernah berubah bentuknya menjadi mer-.

Ada kalanya juga kata dasarnya yang harus berubah bentuk di saat mendapat awalan me-. Seperti me + tulis = menulis.

Kata “ubah” tidak perlu diganti bentuknya menjadi “rubah” saat mendapat awalan me-.

Begitu juga awalan di-.

Awalan ini digunakan untuk kalimat pasif, yaitu obyek kalimat disebutkan sebelum predikat.

Misalnya dalam sebuah kalimat aktif; Budi melempar batu. Dalam kalimat pasif akan menjadi Batu dilempar (oleh) Budi.

Penggunaan awalan di- lebih mudah lagi, sebab hampir semua kata yang berawalan di- tidak berubah bentuknya. Seperti di + baca = dibaca, di + ambil = diambil, di + pukul = dipukul, dsb.

Begitu juga dengan perubahan awalan di- hanya menjadi diper- dan/atau diikuti oleh akhir -kan atau -i. Misalnya di + mudah = dipermudah atau dimudahkan.

Untuk kata di + ubah bukan menjadi dirubah, melainkan diubah.

Tapi terkadang sesuatu yang salah menjadi benar karena lazim digunakan dalam pergaulan.

Sehingga jarang sekali orang mempermasalahkan keadaan ini.

Atau jangan-jangan kata “rubah” juga sudah berganti maknanya dari nama sejenis hewan menjadi sama artinya dengan kata “ubah”??

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post

13 thoughts on “Awalan Untuk Kata “Ubah””

  1. Itu karena kebiasaan Mas Pushandaka, saya juga sering ditegur Bli Dani karena masalah ini. Dia bilang, ayoo…, “mana rubahnya”.

    Padahal sudah ngerti sih bukan itu yang benar, tapi kebiasaan itu melekat”ken” kita pada sesuatu yang tak seharusnya begitu :D

    Fox is foxxy…, he he
    .-= Cahya´s last blog ..Let Me Say, “Be my Valentine” =-.

  2. ternyata saya banyak menggunakan kesalahan penulisan
    akan segera saya ubah artikel saya yang salah mas, tapi bagi penulis amatir seperti saya rasanya mesti bisa memakluminya lagi. bukan kesalahan fatal bukan?
    .-= liudin´s last blog ..Memaafkan, Hal Mudah yang Sulit Dilakukan =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Wah, jangan gitu donk mas. Ini kan ndak ada hubungannya dengan amatir/profesional. Saya pun masih amatir kok dalam bidang tulis-menulis.

    Saya menulis tentang hal ini ndak bermaksud untuk menyalah-nyalahkan orang yang menulis “merubah” atau “dirubah” mas. Kalaupun ternyata kata-kata itu sering dipakai orang saya ndak mempermasalahkannya kok. :)

    Terima kasih untuk komentarnya.

  3. ngakak baca komen pertama. salah awalan sama dengan alay. setuju!!
    jadi ingat saya pernah disetrap di depan kelas karena salah memberi awalan. fiuh…

    Agung Pushandaka Reply:

    Kalau menurut saya, alay itu lebih kepada gaya. Maksud saya, sebenarnya mereka tau yang benar, tapi dibuat berbeda.

    Sementara kalau yang saya perhatikan di dunia maya, para penulis “merubah” dan “dirubah” kebanyakan karena mereka ndak menyadari bahwa itu salah secara ilmu bahasa. Walaupun ndak fatal sih. :)

  4. seingat saya kata yang diawali huruf g,h,k,a,i,u,e,o, diawali imbuhan meng-
    sebenarnya masih ingat sih tentang awalan. Tapi kadang karena terbiasa menulis dengan salah jadi gak gitu memperhatikan. Ck… harusnya ga boleh gitu ya… XDDD

    Agung Pushandaka Reply:

    Kalau saya sebenarnya ndak ingat pasti tentang imbuhan. Tapi waktu membaca kata “merubah” dan “dirubah” saya merasa kok ada yang aneh. Hehe!

  5. Setuju sama pendapat di atas.
    Menurut EYD memang awalan Me – akan berubah menjadi Meng –
    apabila kata dasar diawali dengan huruf vokal, dan beberapa huruf konsonan, seperti “g,h,dan k”.

    Kalau orang Indonesia banyak salah.. maklum, bro. Kita hanya pengguna, kita tidak “belajar” bahasa.
    Coba tanya orang Inggris tentang grammar… lebih pintar orang Indonesia kok, percaya deh!
    .-= Gek´s last blog ..Pencerahan =-.

  6. terlanjur, sudah salah kaprah.. mungkin bahasa indonesia juga perlu dikaji ulang; eh,’kaji’ jadi mengaji, mekaji, atau mengkaji ya? hehe… salam
    :D

Comments are closed.