Ide (Gila) Untuk Lalu Lintas Denpasar

3 menit waktu baca

Hari ini, setelah menempuh perjalanan jarak pendek tapi melelahkan dari Renon ke Kerobokan, tercetus di otak saya tentang sesuatu yang (mungkin) gila.

Silahkan dibaca seutuhnya kalau tertarik. Kalau tidak tertarik, jangan memaksakan diri untuk membaca apalagi berkomentar.

Berikut ide saya;

Kita harus menyadari dulu di mana pusat masalah kesemrawutan lalu lintas Denpasar. Menurut saya, hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah kendaraan yang berlalu lalang di sini.

Pemerintah juga harus sadar, bahwa membuka jalan baru dan memperlebar jalan bukan solusi yang bagus.

Coba bayangkan beberapa tahun lagi, Denpasar atau bahkan Bali, isinya jalanan melulu. Lagipula Jakarta sudah membuktikan bahwa membangun jalanan tidak memecahkan masalah.

“Kemacetan bukan saja disebabkan dari jumlah kendaraan, tapi juga jumlah perjalanan yang bertambah. Kemacetan tidak akan berkurang karena penambahan jalan” kata Enrique Penalosa, mantan Walikota Bogota yang sukses menciptakan sistem busway, mengomentari keadaan jalanan ibu kota, Jakarta.

Inilah yang esktrim. Pemerintah Denpasar dan Bali harus berani mempersempit jalanan.

Rasanya kita tidak butuh jalanan seperti Jalan Teuku Umar, yang bisa dibagi 4 jalur.

Penyempitan jalan itu akan membuka lahan untuk pembangunan trotoar dan jalur sepeda yang lapang. Malah, jadi membuka tempat untuk menanam pohon perindang di sisinya.

Tapi di sisi lain, penyempitan itu akan membuat kemacetan yang luar biasa.

Justru dengan kemacetan itu, pengguna jalan akan lebih kreatif. Misalnya, dengan beralih ke sepeda. Apalagi, jalur sepeda sudah dibangun dengan penyempitan jalan tadi.

Pemerintah juga harus menawarkan sistem transportasi umum yang oke. Sehingga masyarakat bisa beralih ke transportasi umum.

Bisa disediakan shuttle bus ukuran menengah, tapi menjangkau titik-titik strategis. Sebaiknya dikelola pemerintah atau swasta, bukan perorangan.

Sementara bemo bisa dijadikan sebagai pengumpan menuju halte shuttle bus itu. Subsidi BBM seharusnya diberikan kepada sopir bemo itu.

Misalnya, rumah saya di Jalan Tukad Citarum, Renon. Untuk menuju Kerobokan, saya harus menumpang shuttle bus.

Maka saya akan menumpang bemo dari halte bemo terdekat, misalnya di Jalan Tukad Yeh Aya menuju halte shuttle bus, misalnya di Jalan Niti Mandala Renon. Dari Jalan Niti Mandala Renon, mungkin saya harus berganti shuttle bus beberapa kali.

Tidak masalah. Mungkin di Jalan Teuku Umar saya harus berganti shuttle bus jurusan Kerobokan. Kalaupun tidak sampai Kerobokan juga tidak masalah.

Misalnya, shuttle bus hanya melayani sampai Jalan Gunung Tangkuban Perahu. Sisa perjalanan saya lanjutkan dengan bemo lagi. Selama transportasi umum yang disediakan nyaman dan aman, pasti perjalanan tadi tidak melelahkan seperti sekarang.

Kenapa saya memilih untuk menomorduakan penyediaan transportasi umum? Sebab saya berpikir, sebagus apa pun transportasi umum yang diciptakan, selama masyarakat masih diberikan kesempatan untuk memilih, pasti mereka akan memilih memakai mobil pribadi mereka.

Tapi kalau sudah macet seperti yang sampaikan di atas, mereka mau tidak mau mereka akan meninggalkan mobil pribadinya dan beralih ke transportasi umum.

Naikkan pajak kendaraan. Sehingga keinginan masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi terbatas.

Buatlah sarana penunjang lainnya secara cepat dan tepat. Misalnya, karena jalanan jadi lebih sempit, maka sistem parkir juga harus diubah.

Tidak mungkin lagi membiarkan parkir kendaraan di pinggir jalan. Bikinlah pusat parkir di beberapa tempat strategis untuk menitipkan kendaraan pribadi.

Dari tempat parkir, perjalanan ke tempat kerja dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menumpang transportasi umum tadi.

Parkir di pusat parkir seharusnya gratis dan keamanannya terjamin. Agar tidak makan banyak lahan, buatlah pusat parkir yang bertingkat.

Sebenarnya, ini poin yang paling penting. Yaitu DISIPLIN!

Kita semua harus disiplin dalam melaksanakan kewajiban, tidak hanya bisa menuntut hak.

Pemerintah disiplin dengan penggunaan pendapatan dari pajak kendaraan untuk membangun sarana penunjang. Misalnya membangun pusat parkir, membangun trotoar dan jalur sepeda, menanam pohon perindang, memperbaiki lampu lalu lintas, dsb.

Masyarakat juga harus disiplin. Kebanyakan semrawutnya lalu lintas Denpasar sekarang ini juga disebabkan oleh kurang disiplinnya pengguna jalan.

Sepeda motor naik ke trotoar, menerobos lampu merah, mobil berhenti di depan rambu dilarang berhenti, parkir seenaknya, dsb. Itu harus dihentikan, dan diganti dengan disiplin tinggi menaati peraturan lalu lintas.

Polantas juga harus disiplin. Jangan suka mencari-cari kesalahan pengguna jalan. Kalaupun ada pengguna jalan yang salah, perlakukan dengan adil.

Nah, itulah ide saya. Kalau semua itu bisa dilaksanakan, saya membayangkan jalanan Denpasar akan sangat menyenangkan.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post

19 thoughts on “Ide (Gila) Untuk Lalu Lintas Denpasar”

  1. Wah, ide gila yang bener-bener gila. Kalau orang mesti ke mana-mana bawa motor/mobil, bukan hanya sekadar biar cepat sampai, tapi biar nyaman.

    Siapa coba yang mau jalan kaki atau bersepeda sambil menghirup asap buangan kendaraan bermotor, dan terpanggang matahari. Siapa juga yang mau naik angkutan umum yang bikin gatal-gatal, dan perasaan ga tenang.

    Saya rasa kenyamanan orang-orang yang bepergian harus diubah pola acunya. Dari naik mobil mewah ber-AC, sambil melihat kiri-kanan dengan gagah dan pede, menjadi berjalan atau bersepeda santai di bawah rimbunnya pepohonan hijau kota, dengan udara bersih yang menyehatkan :)

    Jika lelah perjalanan jauh, orang bisa berhenti di taman-taman kota yang sejuk. Air yang bisa langsung/aman konsumsi dari keran umum, WC umum yang bersih, tempat yang lapang di mana orang bisa duduk sekadar membaca novel kegemarannya, atau membuat lukisan keramaian dengan berbekal buku sketsa sederhana. Bisa juga duduk dengan membuka notebook dan area WIFI sudah siap menyambut.

    Nah, setelah jenuh terobati, kembali menikmati perjalanan di kota budaya yang indah. Walau perjalanan panjang, namun setiap saat menjadi penuh makna.

    Saya kira itulah yang mungkin saya impikan dari kota-kota di Bali :)

  2. saya punya ide boleh…

    setuju dengan menaikkan pajak bagi kendaraan kalau bisa pajaknya paling gede diantara pajak2 yang lain, dengan pajak yang gede itu kan orang2 jadi mikir untuk membeli sepeda motor…kemudian harga sepeda gayung dibuat miring, atau murah, sekarang harga sepeda itu kalau tidak salah 5 jutaan yang paling bagus, harga yang cukup mahal bagi saya…Dengan melihat pajak sepeda motor yang mahal dan harga sepeda gayung yang murah, orang2 jadi akan beralih ke sepeda gayung…bumi pun sehat kalau bersepeda gayung..

    tapi kalau bersepeda tanpa fasilitas yang bagus pun mustahil, minimal buatlah jalur khusu bersepeda seperti di negara luar selain itu jalanan harus lebih dipenuhi dengan pohon2 perindang supaya pesepeda tidak kepanasan….

    hehehehe…pengen banget lihat jalur khusus bersepeda…

  3. Dari semua ide gila di atas, saya yang paling setuju adalah yang no 7 dan 8. Mungkin ini dapat menjadi ide tambahan… kita kan pernah hidup di Yogya, sepertinya ide Ring Road cocok untuk diterapkan untuk Denpasar, Ring Road : jalan besar yang mengitari kota.. sehingga misal kita hendak pergi ke Kerobokan dari Sanur, mungkin bisa dialihkan ke ring road, tanpa harus masuk ke kota.

  4. bener-bener ekstrim
    kalo mao lebih ekstrim…
    dilarang penggunaan kendaraan bermotor pribadi dikota dan dijalan raya karena menimbulkan global warning. kecuali bus dan angkot
    ato nda setiap orang diwajibkan untuk bersepeda ato rolling skate
    hehehe
    .-= Action Figure Toy´s last blog ..Share Toys for Tots =-.

  5. ya mungkin aja semua ide itu bisa terwujud dan sapa tau emang solusinya…

    tapi kalau masalah pajak kendaraan, kayaknya mang udah diberlakukan ya!??!?
    .-= nico´s last blog ..Panas =-.

  6. Saya setuju sama yang udah ngasih komen di atas2, Bang. Ini bukan ide gila, tapi jenius! Cuma, mungkin untuk pelaksanaannya rada sulit… apalagi untuk jadi pertimbangan pemerintah Dps hehe. Saya suka sama point 4 & 5. Dengan semakin banyak yang make sepeda, polusi berkurang kan? Ditambah point plus dari penanaman pohon di sepanjang jalan. Gile, keren banget tuh ide. Cumaaaaaaaaa… ya lagi2… kadang2 ide masyarakat, sejenius apa pun, dianggap sampah sama yang… yang itu lah :D

    Kabuuurrr… :D hehehe.

  7. Terkadang penting untuk menjadi gila, karena kalau sudah gila apapun bisa dilakukan.. apalagi untuk sebuah ide yang jenius seperti ini. saya sarankan lebih baik ide ini dibawa ke pemda bali untuk dikaji lebih gila lagi oleh pakar yang ahli dan saya yakin hasilnya pasti gila alias sangat bermanfaat.

  8. menurut saya, ide ini gak gila dan gak jenius, palingan yang punya ide ini distributor sepeda biar sepedanya laku, ato juragan bemo biar bemonya laris, ato dagang pohon hias biar daganganya laku keras. ato pasti tukang samsat ya biar banyak dapat komisian nyamsatin orang ato jangan jangan kamu orang pemda yang sedang ngusul ide ini ke pimpinan trus posting ke internet untuk nunjukin bahwa ide kamu banyak yang dukung, ato jangan jangan yang dukung disini staf bawahan kamu yaaa….

    yang gila itu kalo idenya di bawa ke pemda trus di kaji ama mereka n dijadikan proyek wahhhh, kalo udah gini PEMDAnya kan dapat komisian gila gilaan dari sang kontraktor, nah pemda baru idenya gila n jenius

    Agung Pushandaka Reply:

    Semua dugaan kamu salah. Sedikit pun ndak ada yang benar. Coba, lebih pintar lagi kalau mau berpikiran buruk. Ndak ada yang jualan pohon di sini, atau tukang samsat, dsb. :)

    Tapi, thanks untuk masukannya di alenia terakhirmu. ;)

Comments are closed.