UN, Diadakan untuk Ditiadakan?

1 menit waktu baca

Sejak pertama kali dilaksanakan, Ujian Nasional (UN) terkesan terburu-buru mengejar kualitas sumber daya manusia yang dimiliki negara tetangga.

Tapi niat mulia itu ditanggapi berbeda oleh peserta didik dan orang tua. Kontroversi terus berlanjut bahkan sampai sekarang. Permintaan untuk meniadakan UN masih sebesar saat UN pertama kali diadakan.

Apakah UN memang harus ditiadakan saat ini juga seperti saat UN diadakan pertama kali?

Kalau menurut saya pribadi, UN ndak perlu ditiadakan. Kita harus kembali ke tujuan awal diadakannya UN.

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 66 ayat 1, UN bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional.

Menurut pasal 68, hasil UN akan digunakan untuk;

1. pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;

2. dasar seleksi masuk jenjang pendidikan selanjutnya;

3. penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan;

4. pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Bila dilihat dari butir 1 dan 4 maka tambah banyak lagi manfaat positif dari UN.

Tapi, kalau UN dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa, maka menurut saya UN blum layak.

Kenapa? Karena standar kualitas pendidikan di negara ini blum bisa distandarkan.

Maksud saya begini. Kualitas pendidikan di kota besar dan di daerah terpencil bak bumi dan langit.

Nah, kalau standar pendidikan setiap sekolah saja berbeda-beda, lha kok pemerintah seenaknya membuat standarnya sendiri untuk meluluskan peserta didik.

Begitu juga kalau UN juga dijadikan standar penerimaan ke jenjang pendidikan selanjutnya (perguruan tinggi dan sederajat), rasanya tidak tepat.

Coba perhatikan contoh seorang siswa sudah diterima di sebuah universitas luar negeri melalui seleksi khusus, tapi malah tidak lulus UN beberapa bulan kemudian.

Tapi dari semua kelemahan UN yang saya sebut di atas, saya tetap tidak setuju UN ditiadakan. Biarlah UN tetap ada, tapi tujuannya yang direvisi sementara.

Kalau hasil UN dipakai untuk butir 1 dan 4 pasal 68 di atas, saya rasa tidak masalah.

Dari hasil UN pemerintah tahu daerah atau sekolah mana saja yang proses belajarnya masih berkualitas rendah. Sehingga dari sana pemerintah bisa memberikan bantuan agar sekolah itu memiliki standar yang sama dengan sekolah lain yang sudah mempunyai mutu pendidikan yang bagus.

Biarlah UN tetap dilaksanakan, tapi tidak menjadi penentu kelulusan. Percayakan saja penilaian kelulusan dilakukan oleh pihak sekolah.

Memang, bisa saja penilaian oleh sekolah subyektif sifatnya. Tapi menurut saya tidak masalah. Sebab para guru pasti tidak sembarangan meluluskan muridnya.

UN jangan ditiadakan.

Related Post

37 thoughts on “UN, Diadakan untuk Ditiadakan?”

  1. ya, saya rasa pendapat anda memang jalan terbaik untuk saat ini, dan suatu saat nanti ketika situasi dan kondisi memenuhi, silahkan pakai UN sebagai penentu kelulusan…
    .-= imadewira´s last blog ..Apa Itu Dummy Blog? =-.

    didta Reply:

    setuju aja deh. mampir ke blog saya juga ya pak

    dyudh4p.com Reply:

    Hore….

  2. yupe bener banget bos, kualitas pendidikan di tiap2 sekolah belum bisa disamakan apalagi dengan sarana dan prasarana yang tidak sama.
    setuju banget dengan postingan ini :D

  3. yup anda benar tuan…

    setuju juga kalau UN hanya untuk menilai sejauh mana perkembangan pendidikan kita, apakah sudah merata atau tidak dan tidak setuju kalau UN dijadikan tolak ukur kelulusan seorang siswa…

    jadi Ingat, saya mati-matian belajar waktu mau Ujian SMA dimana standar kelulusan itu 4,5 dengan nilai tidak minimal 4 atau kalau ada satu yang dibawah 4 minimal rata2 harus 4,5…why belajar mati2an karena waktu Ujian pemantapan nilai rata2 saya 4…hehehe tapi untung lulus ternyata soal Ujiannya sedikit lebih gampang dari Ujian pemantapan…

  4. Kalau UN sudah digunakan untuk menjustice kelulusan siswa, berarti roh Kurikulum terbaru yang dipakai saat ini sebenarnya sudah ilang mas, yaitu peran guru yang seharusnya (penilaian) lebih tahu tentang kemampuan muridnya, namun mingsih dianggep kurang dipercaya oleh pemerintah, maka dari itulah diadakan serifikasi guru. Saya yakin, jika semua guru sudah memiliki sertifikat guru, maka kemungkinan besar penilaian akan diserahkan kepada guru. Secara singkat, saya kurang setuju diadakannya UN jika mangsutnya sampai pada tingkat menentukan lulus tidaknya siswa. Bisa dibayangkan, 3 tahun dihapus dengan 4-5 hari (2 jam/hari) = 8 – 10 jam. Kecuali kalau memang pemerintah hanya ingin menilai perkembangan murid saja. :D

    pushandaka Reply:

    Saya juga bilang ndak setuju dengan UN kalau ditujukan sebagai salah satu penentu kelulusan dan penentu penerimaan ke perguruan tinggi. Makanya saya bilang, tujuan UN sebaiknya diubah tapi ndak harus menghapus UN-nya.

    Sertifikasi guru? Saya rasa itu saja ndak cukup. Untuk memenuhi standar pendidikan bagus yang merata, butuh lebih banyak daripada sekedar sertifikasi guru. Tapi, mungkin sertifikasi guru bisa jadi titik awal untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

  5. Saya sebenarnya cukup setuju dengan penghapusan UN. Terkadang murid malah berlomba untuk lulus, namun esensi pendidikan menghilang.

    Tapi bagaimana pun pasca sekolah dan belajar juga perlu melihat bagaimana yang dicapai oleh seorang pelajar, tentunya ujian diperlukan. Namun apa dan bagaimana itulah yang mungkin harus dipertimbangkan seperti yang disampaikan apda tulisan blog ini.

    Belajar aja kadang sudah membosankan bagi banyak murid, jangan sampai nanti ujiannya menjadi mengerikan. Entah kenapa lingkungan pendidikan kita susah dibuat menyenangkan.
    .-= Cahya´s last blog ..Dikalahkan Lebah =-.

    pushandaka Reply:

    Daripada dihapus, yang saya yakin akan menimbulkan biaya lebih besar dan blum dipersiapkan dengan matang calon penggantinya, kenapa UN ndak tetap dilanjutkan saja, tapi fungsi dan tujuannya yang diubah, yaitu bukan untuk penentu kelulusan siswa. Untuk urusan itu, serahkan saja kepada pihak sekolah. Mereka pasti lebih tau apa seorang murid layak diluluskan atau ndak.

    Tapi saya setuju dengan pendapat anda yang menilai bahwa sistem pendidikan kita susah banget dibuat menyenangkan. Mungkin hal ini bisa dijadikan salah satu kategori untuk mutu pendidikan yang bagus, yaitu proses dan suasana belajar harus menyenagkan.

  6. mungkin hanya nama atau istilahnya saja yang diganti. pelaksanaan dan peraturannya, pasti tidak jauh berbeda dengan yang telah berlalu. ebtanas menjadi UAN, UAN menjadi UN, sekarang???? hhe. salam kenal yaa
    .-= gek mirah´s last blog ..Warung Bintang =-.

  7. berati gini ya, bro. UN itu harus ada. tapi, mungkin pemerintah harus mulai dari awal. mutu pembelajaran di semua daerah disamakan dulu, baru bisa bikin UN.

    btw, rada OOT nih,

    universitas terkemuka di Jogja melalui jalur khusus yang diadakan universitas yang bersangkutan

    kalo maksudnya UM-UGM, itu reguler lho. :mrgreen: standard soalnya lebih tinggi daripada SPMB dan 85% mhs UGM dari UM. :mrgreen:
    .-= morishige´s last blog ..Karma =-.

    pushandaka Reply:

    Maksud saya PBUD masbro. Yaitu Penjaringan Bibit Unggul Daerah. Kebetulan, saya tembus UGM melalui seleksi khusus ini. Diadakan sebelum kelulusan.

  8. kalo menurut aku pribadi, UN sama sekali nggak bisa jadi standar kelulusan. pertama, fasilitas yang ada tidak merata.
    kedua, mutu guru juga ga merata. tanpa bermaksud menghina almamater, walaupun dulu aku SMA nya di SMU negeri kategori unggulan, mutu pengajarnya gak oke. sering bolos lah, ga menguasai materi atau ga menguasai cara penyampaiannya.
    menurut aku ga adil pemerintah nuntut segitu banyak dari pelajar, padahal fasilitasnya tidak memadai. apa artinya proses?
    banyak kok temenku yang pinter tp ga lulus, dan yang bodoh dan jarang masuk sekolah, bahkan bisa bolos sampe sebulan penuh, tapi bisa lulus. ga adil kan?
    .-= macangadungan´s last blog ..Anak Exist =-.

  9. UN, sepertinya selama ini menjadi salah-kaprah dimana kebanyakan orang berupaya sekuat tenaga untuk bisa lolos darinya.. dimana (menurut saya), UN itu adalah sebagai gerbang pelepasan menuju ujian oleh waktu (the test of time) dimana setiap individu akan benar-benar diuji bagaimana dirinya bisa bertahan dan lolos dari prosesi waktu ini..

    Bukan hanya perlu lolos UN, namun juga berhasil dalam mengarungi hidup dan mampu membawa diri pada taham ujian berikutnya.. faham akan upaya menjadi individu seutuhnya dan piawai dalam memberdayakan komunitasnya.. – that’s the real test (in life).. and to begin with, one must pass this UN-thing for once.. :D
    .-= Domba Garut!´s last blog ..Serah Terima Tugas Satgas Konga Lebanon =-.

  10. Mungkin UN perlu diganti dgn istilah lain yang lebih fresh krn anak2 sekarang kan sudah stress duluan begitu dengar kata “UN”.

  11. Mestinya disamakan dulu mutu pendidikan di seluruh nusantara baru bisa UN jadi standar kelulusan. Ato tiap ujian semester dan kenaikan kelas soalnya yg mbikin nasional, jadi dah terlatih sejak dini. Mutu juga bisa terpantau.

    Menurutku, UN jgn dijadikan standar kelulusan. Luluskan aja berdasarkan nilai raport ato ujian lokal ato apalah.Tapi klo mang kebangetan ya gak usah diluluskan. Biarkan seleski alam yang terjadi. Yang penting psikis anak tidak terganggu.
    .-= chocovanilla´s last blog ..Kisah Cinta Seorang Gadis =-.

  12. bener tuh…. seandainya pemerintah terketuk pintu hatinya buat ngeganti UN jdi standart kelulusan…
    capeekk man anak pelajar skarang ini…
    blum lgii ntar ada pemajuan jadwal UN lah..
    kenaikan nila UN lah..
    pemerintah mungkin emang waktu jamannya kagak pernah UN apa yah??? blum pernah ngerasain gimana rasanya di jaga ama tim Independence atw semacamnya nthu…

    buat saya sih,, UN tetep di adain aja..
    tpii gag perlu lah buat jdi standart kelulusan…

    tapi percuma juga UNAS di adain..cba pkir deh..
    ada UNAS tapi masii ada juga para org2 yg
    sukanya nyebar jawaban UNAS ke ank2
    didik mereka.. mungkin di slah satu LBB ada juga yg kyk gt.. malah mungkin saja di sekolah juga ada yg kayak gt…
    lha trus apa guna UNAS klo kyk gt???

    masa sekarang sekolah 3 Tahun trus kagak lulus cuman gara2 gag bisa mencukupi standart UNAS???
    uda uang kebuang buat biaya sekolah yg mahal..
    kena MALU pula…

    xoxo lady hippo

Comments are closed.