10 November: Dulu dan Sekarang

1 menit waktu baca

Dulu kala, pada tanggal 10 November 1945, adalah salah satu  hari dari perlawanan besar masyarakat Surabaya yang ndak mau negara tercinta Indonesia dikuasai lagi oleh bangsa asing. Kemerdekaan yang sudah diraih dengan perjuangan tanpa lelah harus dijaga kalau perlu dengan berkorban nyawa. Jangankan diperintah oleh Belanda, melihat sehelai bendera Belanda berkibar pun, para pemuda itu sudah meledak amarahnya. Peristiwa di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945 menjadi saksi bagaimana keras kepalanya pemuda Surabaya menentang berkibarnya bendera asing.

Menurut wikipedia, 10 November 1945 adalah hari yang menjadi batas terakhir bagi pemuda Indonesia dan pemimpinnya untuk menyerahkan senjata dengan mengangkat tangan ke atas kepala. Jangankan mau menyerah, yang ada pemuda malah melawan. Jadilah hari itu menjadi hari pertempuran antara pemuda Surabaya melawan puluhan ribu pasukan sekutu yang didukung oleh senjata berat, puluhan pesawat tempur dan kapal perang. Dari prediksi pihak sekutu yang bilang bahwa Surabaya akan takluk dalam 3 hari, ternyata perang itu tetap berkobar selama sebulan sebelum akhirnya kota Surabaya jatuh ke tangan sekutu. Tapi apapun itu, perjuangan pemuda Surabaya telah meledakkan amarah pemuda di daerah lain untuk ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sekarang, 10 November 2009. 3 lembaga penegak hukum masih saling berseteru mempertahankan pendapat mereka yang sama sekali ndak kita tau kebenarannya. Perbedaan pendapat hampir selalu diselesaikan dengan konflik terbuka. Pemudanya tetap agresif dan pemarah, hampir sama dengan pemuda bangsa ini dulu. Tapi marahnya malah ditujukan ke sesama pemuda. Bentrok mahasiswa antar kampus seakan jadi kebanggaan. Pemimpin yang dulu dihormati dan dipercaya, sekarang dicurigai. Kekayaan alam negeri malah membuat sesama anak bangsa saling bunuh untuk menguasainya. Pemuka agama sekarang malah berbuat dosa.

Jangankan bangsa lain, sekarang ancaman untuk keselamatan bangsa malah datang dari anak bangsa sendiri. Para koruptor, teroris, pemimpin gerakan separatis, dan rakyat yang malas dan mau menang sendiri seakan-akan saling bekerja sama untuk merontokkan nama besar Indonesia di mata dunia. Intinya adalah, Indonesia, sang macan yang dulu ditakuti dunia sekarang tinggal macan lemah yang kehilangan taringnya.

Salah siapa? Kalau dicari siapa yang salah, saya yakin kita ndak akan bisa menemukan jawabannya. Yang ada, kita malah akan memulai perseteruan baru, karena untuk menjawabnya kita akan saling menyalahkan satu sama lain seperti biasanya. 64 tahun sudah terlewati sejak 10 November 1945 sampai sekarang. Saya ndak tau deh bagaimana sedihnya mereka, para pemuda di tahun 1945, kalau melihat keadaan terkini negara yang mereka bela dengan sepenuh jiwa dan raga mereka.

Sia-siakah perjuangan mereka dulu? Saya ndak bisa menjawabnya selain dengan doa untuk kebaikan dan kejayaan Indonesia.

Damai Indonesia..

Related Post

16 thoughts on “10 November: Dulu dan Sekarang”

  1. Kita memang mesti banyak berdoa dan sabar… sabar… kemarin terkejut juga waktu denger pengakuan saksi yang ngaku kalo dia sebetulnya berada di bawah ancaman (Pak Antasari ampe nangis)… duh Gusti…

  2. Mungkin betul Indonesia mesti dipimpin oleh orang bertangan besi supaya coro2-nya nggak banyak berulang/bertingkah… *wewwwww*

    pushandaka Reply:

    Ada kalanya saya juga berpikir bahwa negeri ini butuh pemimpin yang otoriter. Negara ini dijuluki Macan Asia waktu dipimpin oleh pemimpin yang otoriter seperti Soekarno dan Soeharto.

    Tapi kepemimpinan seperti itu ndak akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya. Nah masalahnya, masyarakat maunya cuma berpendapat. Diajak bertindak, susahnya minta ampun! Heheh…

  3. eh… jangan-jangan kita emang butuh musuh bersama (common enemy)? masa kolonial ada musuh bersama yaitu belanda. sekarang musuhnya terlalu abstrak/sistem/kebiasaan/dll. agak susah memang. tapi tampaknya perlu dicoba membuat musuh imajiner untuk mengintegrasikan bangsa ini. Dan saya pikir juga penciptaan musuh imajiner itu sudah terlihat dari facebooker dan blogger yang sudah merapatkan barisan untuk melawan korupsi dan beberapa kasus ketidakadilan–walaupun agar reaksioner siftanya, tapi gak menjadi soal lah. saya optimis Indonesia semakin baik di masa mendatang.
    Merdeka!!! :)
    .-= ketut sutawijaya´s last blog ..Bali di Mata Wisatawan =-.

    pushandaka Reply:

    Wah, anda betul! Saya setuju banget bli ketut.

    Kayanya kita memang harus punya musuh bersama. Tapi kayanya bukan korupsi deh. Buktinya ndak sedikit orang yang mendukung jalan itu untuk menafkahi diri. Hehe!

Comments are closed.