Archive Page 2

Menyoal Perda Intoleran

Belakangan, bertambah lagi kontroversi di negeri ini, yaitu tentang pembatalan sekitar 3000an peraturan daerah. Alasannya ada 2 hal: pertama karena peraturan-peraturan tersebut dinilai menghambat investasi; dan kedua karena peraturan-peraturan tersebut intoleran. Kalau tentang menghambat investasi, mungkin saya tau peraturan seperti apa yang dimaksud. Pengalaman kerja saya di instansi pemerintah yang membidangi kebijakan dan iklim investasi di negeri ini, membuat saya beberapa kali terlibat dalam rapat pembahasan peraturan daerah mengenai investasi, misalnya peraturan daerah yang mewajibkan pengusaha membayar retribusi atau biaya-biaya pengurusan perizinan. Iya, itu menghambat pertumbuhan investasi. Continue reading ‘Menyoal Perda Intoleran’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Jangan Datang ke Jakarta

Siang itu, saya berjalan agak tergesa di atas jembatan penyeberangan orang Semanggi. Suasana jembatan agak sepi karena mungkin banyak orang yang menghindari aktifitas di luar ruangan selama bulan puasa ini. Saat sedang bergegas mengejar waktu, saya disapa seorang pemuda berpenampilan sederhana, dengan tas punggung menempel erat di badannya. Suaranya memanggil pelan.

Saya harus mendekatkan telinga saya untuk bisa mendengar ucapannya. Kurang lebih dia berkata, “Bang, tolong saya. Saya lapar, sudah 2 hari belum makan. Mau pulang ke kampung (di luar Jawa) tapi tidak punya uang”

Saya hentikan langkah. Continue reading ‘Jangan Datang ke Jakarta’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Membesarkan Pelaku Kejahatan

Belakangan, marak saya baca kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Contoh kasus yang paling menghebohkan jelas kasusnya Yuyun, di Bengkulu. Kasus kekerasan seksual lain bahkan menyasar balita. Lebih gilanya lagi, pelaku mengakhiri aksi bejatnya dengan membunuh korban. Itu blum cukup parah? Coba lihat pelakunya, bahkan sebagian dari mereka pun masih di bawah umur.

Di media sosial yang saya ikuti, banyak saran dari orang tua, organisasi sosial, pengamat pendidikan, atau apalah, siapalah, dsb., yang berbagi cara mendidik anak-anak kita agar ndak menjadi korban kejahatan. Misalnya, himbauan kepada anak-anak untuk ndak menerima pemberian orang lain yang ndak dikenal, meminta anak-anak kita untuk segera berteriak saat seorang asing menyentuh bagian tubuh, dsb. Semuanya dianjurkan untuk melindungi anak-anak kita menjadi korban kejahatan orang ndak bertanggung jawab.

Tapi apakah kita pernah melindungi anak-anak kita agar ndak menjadi pelaku kejahatan itu sendiri? Continue reading ‘Membesarkan Pelaku Kejahatan’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

PS. Bali Ngipi

Melihat gegap gempitanya dukungan suporter Bali United Pusam pada turnamen sepakbola Piala Bhayangkara, saya teringat bagaimana suasana dukungan masyarakat Denpasar dan sekitarnya di stadion Ngurah Rai saat PS. Gelora Dewata menghadapi lawannya. Sekian tahun perjalanan sepakbola Bali yang saya tau, sejak jaman Gelora Dewata sampai dengan sekarang, Bali (pernah) memiliki beberapa pemain sepakbola yang diakui secara nasional, baik yang bermain di klub asal Bali maupun klub di luar Bali. Saya pun kemudian berkhayal, dari sekian nama beken pemain sepakbola yang pernah mengharumkan nama Bali, berada pada periode waktu yang sama, dengan kemampuan terbaik yang dimiliki seperti masa jayanya, akan terbentuk suatu tim yang kuat.

Kenapa Bali? Pertama, karena saya adalah warga Jakarta yang lahir dan tumbuh besar di Denpasar. Bagaimana pun, tetap ada rasa senang saat melihat seorang anak Bali yang memiliki prestasi di skala nasional. Kedua, karena selama ini Bali lebih dikenal sebagai pusatnya seni dan budaya. Sepakbola bukan sesuatu hal yang mengakar kuat sebagai tradisi di Bali. Berbeda dengan Jawa, yang fasilitas pembinaannya mungkin paling komplit, atau Papua yang secara alamiah selalu melahirkan pemain sepakbola berbakat, tentu ndak sulit untuk mencari pemain-pemain terbaiknya di setiap masa. Continue reading ‘PS. Bali Ngipi’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Terima Kasih, Bu Sri.

Sore ini (24/3), saya dan Rebecca serius memilah dan memilih kain batik di sebuah toko pakaian dan bahan batik terkemuka di mal Kota Kasablanka. Setelah beberapa menit melihat-lihat, Rebecca tertarik dengan salah satu bahan batik berwarna pink dan berniat untuk memotretnya. Agak lama Rebecca merogoh ke dalam tas untuk mengambil handphone, tapi ndak ketemu.

Setelah memastikan dengan teliti bahwa handphone-nya memang ndak ada di tas, maka kemungkinan terbesar dimana handphone itu berada adalah di toilet wanita lantai 2 mal. Sebelum menuju toko batik Rebecca memang pergi ke toilet. Rebecca buru-buru menuju toilet untuk mengambil kembali handphone-nya walaupun dalam hati, saya ndak terlalu yakin handphone itu masih ada di tempatnya semula. Continue reading ‘Terima Kasih, Bu Sri.’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka