Archive for the 'Tempo Doeloe' Category

PS. Bali Ngipi

Melihat gegap gempitanya dukungan suporter Bali United Pusam pada turnamen sepakbola Piala Bhayangkara, saya teringat bagaimana suasana dukungan masyarakat Denpasar dan sekitarnya di stadion Ngurah Rai saat PS. Gelora Dewata menghadapi lawannya. Sekian tahun perjalanan sepakbola Bali yang saya tau, sejak jaman Gelora Dewata sampai dengan sekarang, Bali (pernah) memiliki beberapa pemain sepakbola yang diakui secara nasional, baik yang bermain di klub asal Bali maupun klub di luar Bali. Saya pun kemudian berkhayal, dari sekian nama beken pemain sepakbola yang pernah mengharumkan nama Bali, berada pada periode waktu yang sama, dengan kemampuan terbaik yang dimiliki seperti masa jayanya, akan terbentuk suatu tim yang kuat.

Kenapa Bali? Pertama, karena saya adalah warga Jakarta yang lahir dan tumbuh besar di Denpasar. Bagaimana pun, tetap ada rasa senang saat melihat seorang anak Bali yang memiliki prestasi di skala nasional. Kedua, karena selama ini Bali lebih dikenal sebagai pusatnya seni dan budaya. Sepakbola bukan sesuatu hal yang mengakar kuat sebagai tradisi di Bali. Berbeda dengan Jawa, yang fasilitas pembinaannya mungkin paling komplit, atau Papua yang secara alamiah selalu melahirkan pemain sepakbola berbakat, tentu ndak sulit untuk mencari pemain-pemain terbaiknya di setiap masa. Continue reading ‘PS. Bali Ngipi’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Nostalgia di Tivi

Setelah seminggu ndak bisa melakukan aktifitas blogging dan sejenisnya karena ada masalah teknis yang ndak saya mengerti, baru sekarang saya bisa menyentuh rumah maya saya lagi. Sebagai tulisan pemanasan, saya pengen tulis tentang tivi. Iya, saya tertarik untuk bernostalgia tentang program acara kuis/permainan yang dulu marak di layar tivi. Kebetulan, sekarang di RCTI beberapa kuis jadul itu dimainkan kembali dengan gaya dan presenter baru. Kuis-kuis yang ditayangkan kembali itu antara lain adalah Taktik Boom, yang dulu dibawakan oleh Dede Yusuf sekarang dikawal oleh Charles Sirait. Ada juga kuis Apa Ini Apa Itu yang dulu jadi tontonan wajib saya sepulang sekolah, kini dibawakan oleh Olga Syahputra menggantikan peran Jeffry Waworuntu. Ada juga Family 100 yang tayang kembali dengan nama Super Family.

Tentang Sepeda Motor Saya

Mungkin anda akan mengatai saya aneh. Tapi beberapa kali dalam suatu perjalanan bersepada motor sendirian, saya melakukannya sambil (seperti) berbicara dengan seseorang, tapi ndak sampai terdengar oleh orang lain. Bukan melalui handphone yang diselipkan di dalam helm, seperti yang sering dilakukan beberapa orang di Bali. Tapi saya mengobrol dengan sepeda motor saya. Apa yang kami obrolkan, anda ndak akan mengerti sebab cuma saya yang bisa “mendengar” dan mengerti apa yang dikatakan oleh sepeda motor saya. Hehe!

10 November: Dulu dan Sekarang

Dulu kala, pada tanggal 10 November 1945, adalah salah satu  hari dari perlawanan besar masyarakat Surabaya yang ndak mau negara tercinta Indonesia dikuasai lagi oleh bangsa asing. Kemerdekaan yang sudah diraih dengan perjuangan tanpa lelah harus dijaga kalau perlu dengan berkorban nyawa. Jangankan diperintah oleh Belanda, melihat sehelai bendera Belanda berkibar pun, para pemuda itu sudah meledak amarahnya. Peristiwa di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945 menjadi saksi bagaimana keras kepalanya pemuda Surabaya menentang berkibarnya bendera asing.

Masih Tentang Malaysia, Kita Harus Apa?

Sebenarnya, saya sudah malas membicarakan tingkah laku malaysia terhadap kita, Indonesia. Saya sekarang cuma pengen menyampaikan solusi yang mungkin bisa dijalankan oleh pemerintah kita. Saya akan mengkategorikan solusi ini mulai dari yang paling sopan, sampai yang paling kasar. Kenapa saya harus menyuarakan sebuah solusi kasar? Karena solusi semacam ini memang dibenarkan dalam hukum internasional, selama solusi ini menjadi alternatif terakhir setelah percobaan solusi damai yang ndak pernah berhasil.