Archive for the 'Negeriku' Category

Menyoal Perda Intoleran

Belakangan, bertambah lagi kontroversi di negeri ini, yaitu tentang pembatalan sekitar 3000an peraturan daerah. Alasannya ada 2 hal: pertama karena peraturan-peraturan tersebut dinilai menghambat investasi; dan kedua karena peraturan-peraturan tersebut intoleran. Kalau tentang menghambat investasi, mungkin saya tau peraturan seperti apa yang dimaksud. Pengalaman kerja saya di instansi pemerintah yang membidangi kebijakan dan iklim investasi di negeri ini, membuat saya beberapa kali terlibat dalam rapat pembahasan peraturan daerah mengenai investasi, misalnya peraturan daerah yang mewajibkan pengusaha membayar retribusi atau biaya-biaya pengurusan perizinan. Iya, itu menghambat pertumbuhan investasi. Continue reading ‘Menyoal Perda Intoleran’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Membesarkan Pelaku Kejahatan

Belakangan, marak saya baca kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Contoh kasus yang paling menghebohkan jelas kasusnya Yuyun, di Bengkulu. Kasus kekerasan seksual lain bahkan menyasar balita. Lebih gilanya lagi, pelaku mengakhiri aksi bejatnya dengan membunuh korban. Itu blum cukup parah? Coba lihat pelakunya, bahkan sebagian dari mereka pun masih di bawah umur.

Di media sosial yang saya ikuti, banyak saran dari orang tua, organisasi sosial, pengamat pendidikan, atau apalah, siapalah, dsb., yang berbagi cara mendidik anak-anak kita agar ndak menjadi korban kejahatan. Misalnya, himbauan kepada anak-anak untuk ndak menerima pemberian orang lain yang ndak dikenal, meminta anak-anak kita untuk segera berteriak saat seorang asing menyentuh bagian tubuh, dsb. Semuanya dianjurkan untuk melindungi anak-anak kita menjadi korban kejahatan orang ndak bertanggung jawab.

Tapi apakah kita pernah melindungi anak-anak kita agar ndak menjadi pelaku kejahatan itu sendiri? Continue reading ‘Membesarkan Pelaku Kejahatan’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Mereka yang Menjadi Korban

Kemarin (19/1) saya menonton berita pengusiran oleh masyarakat di Mempawah, Kalimantan Barat, terhadap warga yang diduga adalah anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Menurut berita, warga yang diusir sudah menetap di Mempawah cukup lama. Jumlah mereka pun ndak bisa dikatakan sedikit, sekitar 1000 orang. Saya tonton di televisi, sebagian dari mereka adalah perempuan dan anak. Mereka harus dikawal oleh aparat keamanan keluar dari tempat tinggal mereka yang dirusak dan dibakar oleh masyarakat yang menolak kehadiran mereka, menuju bus yang akan membawa mereka ke Pontianak, di tengah hujan deras.

Saya mengerti kemarahan masyarakat terhadap mereka yang diduga anggota Gafatar, tapi menurut saya ndak perlu mengamuk kepada mereka. Continue reading ‘Mereka yang Menjadi Korban’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Khayalan Tingkat Tinggi

Rombongan mahasiswa dari seluruh Jakarta, kota-kota sekitar dan perwakilan mahasiswa dari seluruh Indonesia mulai tiba di stadion Gelora Bung Karno. Hampir seluruh golongan masyarakat juga hadir di sana. Mulai dari buruh pabrik dan pegawai kantoran, mereka meninggalkan pekerjaannya di kantor. Ndak takut akan ancaman PHK dari perusahaannya masing-masing karena membolos kerja. Tukang ojek online dan pangkalan juga mulai berdatangan, mungkin sekitar 3000 sepeda motor mulai membanjiri areal parkir stadion. Sopir bis kota yang selama ini dikenal suka ugal-ugalan mengemudikan kendaraannya, kali ini tertib menuju Senayan, ndak ada balapan liar sesama sopir. Pokoknya semua golongan masyarakat hadir, kecuali mereka yang hidup bahagia di tengah kondisi negara yang ndak jelas seperti ini.

Sementara aparat kepolisian dan tentara berjaga-jaga di sekitar Senayan, di sekitar stadion dan sebagian lagi berjaga-jaga dengan cara berbaur bersama seluruh orang yang datang. Mereka tampak akrab dengan seluruh orang yang hadir di stadion, walaupun raut muka mereka tetap menunjukkan sikap siaga untuk menjaga keamanan masyarakat yang hadir dari adangan dari pihak lain yang berbeda pendapat.

Kalau dikira-kira, jumlah mereka semua melebihi 100 ribu orang. Mereka ada yang duduk, ada yang berdiri, namun semangat mereka sama. Ndak ada raut muka yang kuatir, takut atau malas. Kali ini, tekad mereka sudah bulat. Continue reading ‘Khayalan Tingkat Tinggi’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2015 Agung Pushandaka

Lebih Baik Diam?

Masih blum reda kehebohan tewasnya gadis cantik berumur 8 tahun, Angeline. Sejak awal hilangnya bocah ini, perhatian masyarakat sudah tersedot. Banyak opini dan dugaan bermunculan di luar investigasi resmi polisi. Ndak sedikit juga kesaksian di luar Berita Acara Pemeriksaan Kepolisian yang muncul di media massa. Ada tetangga atau orang lain yang kuat menduga, mendengar bahkan melihat sendiri, bahwa Angeline memang mengalami tindakan kekerasan di rumahnya. Apalagi sejak dipastikan bahwa Angeline telah ditemukan tewas di halaman belakang rumah. Semakin banyak kesaksian yang bermunculan. Continue reading ‘Lebih Baik Diam?’

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2015 Agung Pushandaka