About

Tentang Blog Pushandaka

Dulu,, 3 Maret 2009,  tagline blog ini “habis baca terbitlah nulis”, dibikin untuk mengakomodasi isi pikiran saya yang konon harus dilampiaskan secara rutin dengan cara menulis biar otak saya ndak penuh trus meletus di dalam tengkorak. Tagline itu saya pilih karena saya pernah diberi tau orang bahwa semakin baik kemampuan menulis kita artinya semakin baik juga kemampuan membaca kita. Membaca di sini maksudnya ndak cuma mengeja tulisan dan mengerti isinya, tapi meluas menjadi memperhatikan, mengamati, dan mungkin meneliti. Semua itu kan membaca juga, yaitu membaca situasi, keadaan, atau kejadian. Iya, kan? Iya sajalah..

Tapi seiring perjalanan waktu, isi pikiran ternyata bisa disampaikan dengan lebih singkat di facebook dan twitter. Blog ini mulai saya tinggalkan. Sebenarnya sayang, tapi teman-teman blogger lain juga mulai jarang menulis sehingga saya merasa apa yang saya lakukan ndak sepenuhnya salah. Misalnya, dulu saya sering bermain futsal bersama teman-teman. Trus kemudian teman-teman mulai meninggalkan futsal dan beralih ke basket,, apa saya akan tetap ke lapangan futsal sendirian? Malah jadi aneh, kan? Jadi begitulah..

Sekarang,, 6 tahun lebih sejak post pertama, saya pulang lagi ke blog. Tagline masih tetap sama, tapi dengan sedikit modifikasi. “Habis bacaan, terbitlah tulisan” sengaja saya pakai biar ndak pakai kata kerja. Jadi bukan prosesnya lagi yang saya utamakan, tapi hasilnya. Toh yang terlihat dari sebuah blog adalah tulisannya, bukan proses menulisnya. Ah, apalah..

Satu hal yang blum berubah dari blog ini dan yang paling penting untuk diketahui. Blog saya adalah saya. Jadi, jangan berharap blog ini bisa memenuhi semua keinginan anda. Kalau anda ndak suka, saya ndak akan memaksa anda untuk tetap baca blog saya. Tapi kalau anda tetap pengen baca, terima blog ini apa adanya. Ya sudahlah..

Tentang Saya

Nama saya Agung Pushandaka. Saya cuma cowok biasa, dengan langkah yang ndak luar biasa, tapi dikelilingi oleh orang-orang yang sangat istimewa.

Saya dibesarkan dengan banyak adat, budaya, agama, bahkan tingkat sosial dan ekonomi. Saya tumbuh di tengah-tengah budaya Bali dan Jawa yang saya pelajari dari kedua orang tua saya. Saya berbuat didasari oleh banyak ajaran agama. Makanya, saya ndak pernah fanatik dengan satu ajaran agama saja. Sayangnya, saya harus memilih satu agama untuk dicantumkan di KTP. Andai saja kolom tentang agama bisa segera dihapus dari KTP..

Kalau di luar blog, saya lebih memilih untuk “membaca” dan kemudian saya tulis di sini. Menimbang pesan nenek saya yang bilang, “Ndak semua kejadian yang kamu alami perlu dikomentari atau ditanggapi. Kadang-kadang, diam adalah reaksi terbaik untuk menyikapi suatu hal”, maka cuma hal-hal yang saya anggap penting yang akan saya tulis di blog ini.

Ah, cukuplah. Terlalu banyak omong tentang diri sendiri ntar dikiranya sombong dan suka pamer. Ntar juga anda tau saya seperti apa, dengan membaca blog saya. Kalo anda tetap ndak mengenal saya dari tulisan blog ini, ada 2 kemungkinan. Pertama, reading skill anda yang ndak bagus, atau kedua, tulisan saya yang blum bisa menunjukkan seperti apa karakter saya. Hehe!

Terima kasih,

Agung Pushandaka

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011-2015 Agung Pushandaka