Naik Kereta Listrik Mahal

2 menit waktu baca

Hari ini (4/1) pertama kalinya saya menggunakan fasilitas transportasi umum kereta listrik menuju kantor. Sebelumnya, saya pernah menumpang kereta listrik, tapi bukan menuju kantor dan tidak terdesak oleh waktu, sehingga perjalanannya bisa saya tempuh dengan santai.

Waktu saya masih tinggal di rumah kos di sekitar Setiabudi, Jakarta Selatan, untuk menuju kantor di jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, masih mudah saya lakukan dengan mengendarai sepeda motor pribadi. Sekadar informasi, jarak dari Setiabudi ke kantor kira-kira 5 kilometer melewati jalan Sudirman. Bisa saya tempuh dengan waktu rata-rata 7 menit.

Tapi sejak menempati rumah susun di sekitar Cakung, Jakarta Timur, maka saya harus mempertimbangkan transportasi selain sepeda motor menuju ke kantor.

Alasan utamanya tentu saja karena jarak yang harus saya tempuh semakin jauh, kira-kira 25 kilometer. Tentu perjalanannya akan lebih melelahkan.

Tapi ternyata menumpang kereta listrik pun cukup melelahkan. Alasan pertama tentu jumlah penumpang yang belum sepenuhnya bisa ditampung secara maksimal oleh jumlah kereta yang ada, sehingga penumpukan penumpang masih terlihat di beberapa stasiun.

Alasan kedua adalah waktu kedatangan dan keberangkatan kereta yang belum bisa diprediksi secara akurat. Sehingga banyak penumpang yang memaksakan diri masuk ke dalam gerbong padahal penumpang di dalam sudah sangat penuh sesak, daripada harus menunggu kereta selanjutnya yang tidak jelas kapan datangnya. Itu juga yang kami alami hari ini, berhimpitan di dalam kereta dengan kesesakan yang luar biasa.

Selain kondisi itu, ternyata biaya perjalanan dari rumah ke kantor memakai kereta listrik lebih mahal daripada mengendarai sepeda motor pribadi. Benarkah?

Hari ini saya dan Rebecca, istri saya, menghitung biaya perjalanan yang kami bayar. Menuju stasiun Cakung dari rumah, kira-kira 300 meter, saya tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Sepeda motor saya parkir di dekat stasiun.

Harga karcis kereta dari stasiun Cakung ke stasiun Sudirman (stasiun terdekat dari kantor) adalah Rp. 6,000 berdua. Maka ditambah perjalanan sebaliknya saat pulang, total biaya menumpang kereta saja adalah Rp. 12,000.

Informasi tambahan, dengan harga itu kami melewati (berhenti di) 7 stasiun termasuk pindah kereta di stasiun Manggarai. Waktu tempuh kira-kira 40 menit dengan terburu-buru.

Dari stasiun Sudirman menuju kantor, kami masih harus menumpang bis umum, baik itu Metromini atau Transjakarta. Sekali jalan kami membayar Rp. 7,000 berdua. Kalau dijumlahkan dengan perjalanan sebaliknya, dari kantor menuju stasiun Sudirman, maka totalnya menjadi Rp. 14,000.

Dari biaya kereta ditambah biaya bis, maka total pengeluaran kami mencapai Rp. 26,000.

Tapi itu belum seluruhnya. Biaya parkir sepeda motor di dekat stasiun sebesar Rp. 8,000 terhitung dari pagi sampai sore.

Maka total biaya yang kami keluarkan untuk menuju kantor dan pulang adalah Rp. 34,000.

Itu tentu bukan biaya yang murah.

Kalau saya bandingkan dengan biaya perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, saya cukup membayar biaya bahan bakar bensin saja. Apabila saya membeli bensin seharga Rp. 34,000 maka saya bisa mendapatkan beberapa liter bahan bakar jenis Pertamax untuk pemakaian beberapa hari.

Tentu lebih hemat, bukan?

Tapi tentu penghitungan itu akan berbeda kalau saya menambahkan biaya perawatan sepeda motor saya, termasuk biaya pajak kendaraan yang harus saya bayar. Di sisi itu mungkin biaya perjalanan menggunakan kereta listrik akan bisa terasa lebih murah dibandingkan dengan perjalanan dengan sepeda motor pribadi.

Mungkin.

Lagipula, saya masih belum mencoba perjalanan dari rumah menuju kantor, dan juga sebaliknya, dengan menumpang bus umum seperti Transjakarta. Kalau dari segi biaya, seharusnya akan jauh lebih murah karena setahu saya dengan cuma membayar Rp. 3,500 kami sudah bisa menuju ke semua jurusan, termasuk halte Transjakarta tepat di depan kantor.

Tapi apakah dengan harga itu perjalanannya akan lebih menyenangkan? Harus menjadi pertimbangan, dengan menumpang bus Transjakarta, kami harus berhenti atau transit dan pindah bus lebih banyak daripada yang kami lakukan saat menumpang kereta listrik.

Untuk membuktikannya, saya harus mencoba bus Transjakarta di lain waktu.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post