Belajar Menjadi Lilin

3 menit waktu baca

Suatu malam di Kobe, sebuah kota yang ndak seglamor Tokyo, saya dan teman asal Kolumbia, berada di persimpangan jalan. Kami ndak tau arah. Paket data nomor Indonesia yang saya aktifkan di Jepang juga lagi habis, ndak bisa memakai applikasi peta. Mau tanya orang yang lalu lalang, agak ragu. Selain karena mereka jalan cepat, seperti buru-buru, juga karena saya ndak bisa bahasa Jepang dan saya tau mereka juga hampir pasti ndak bisa bahasa Inggris.

Sampai akhirnya, karena waktu terus berjalan, kami nekat mencegat seorang lelaki, mungkin lebih tua beberapa tahun dibandingkan umur saya, mengenakan setelan jas lengkap dan menenteng tas, yang berjalan agak cepat. Seketika dia berhenti dan menatap kami. Dengan bahasa Inggris kami minta dia memberi tau ke arah mana kami harus berjalan untuk menemukan restoran sushi. Ndak penting banget, kan?

Seperti yang kami duga, dia ndak bisa bahasa Inggris. Bahkan untuk mencoba menggunakan kata-kata sederhana seperti yes, no, right, left, dsb., pun dia seperti enggan. Kami hanya berusaha mengikuti kemana gerakan tangannya mengarah tanpa memperhatikan kata-kata yang dia ucapkan.

Tapi muka kami ndak bisa bohong. Dia memperhatikan muka bego kami karena ndak mengerti apa yang dia maksud.

Akhirnya, dia menggerakkan tangannya dan seperti berkata, “Ayo ikuti saya”

Iya, dia mengantarkan kami menuju tempat tujuan. Padahal ndak searah dengan perjalanan dia sebelum kami cegat tadi. Kami berusaha menolak dengan gerakan tangan juga, tapi dia meyakinkan kami untuk ndak terlalu mikirin dia. Akhirnya kami berjalan bersama, tanpa ngobrol, sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.

Okay, mungkin itu karena di kota kecil, jadi orang-orangnya ndak terlalu sibuk dan punya banyak waktu untuk membantu sesama. Lagipula, siapa yang ndak tau kemurahan hati orang Jepang.

Tapi saya pernah juga mengalami itu di Shanghai. Tau juga kan, kalau dibandingkan orang Jepang, orang-orang di Cina lebih cuek, bahkan hampir ndak pedulian. Sore itu, saat jam pulang kantor, saya mau kembali ke hotel setelah meeting, saya bingung menentukan arah. Kendalanya masih sama dengan kejadian di Kobe.

Kali ini seorang perempuan, yang mungkin lebih muda sedikit dari saya, sedang menunggu bis, yang menjadi “korban” saya. Dia mencoba berbahasa Inggris, semampunya. Tapi saya tetap ndak mengerti. Melihat muka plongo saya, dia pun menawarkan diri untuk mengantar.

Saya menolak, karena saya pikir setelah seharian bekerja dia pasti butuh cepat tiba di rumah. Apalagi lalu lintas di sana saat jam pulang kerja juga sibuk. Karena saya menolak, dia mencoba sekali lagi menjelaskan arah yang harus saya tuju. Tapi minimal, dia bersedia mengantarkan. Untuk menyenangkannya, saya pura-pura sudah mengerti.

Yah, saya berbohong sedikit sih, tapi toh akhirnya berkat penjelasan dia saya sampai di hotel.

Bahkan di New York! Kota yang kata orang ndak pernah tidur, yang katanya selalu sibuk. Seorang laki-laki (maaf) berkulit hitam, di tengah cuaca dingin nol derajat, pernah mengantar saya yang lagi bingung menuju Time Square saat dia sedang jalan pulang. Saya tau Time Square ndak searah dia pulang karena setiba di tujuan, dia say good bye dan berjalan ke arah sebaliknya. Luar biasa, kan?

Padahal dia bisa saja menolak membantu saya dengan alasan harus cepat sampai rumah. Mana dingin pula.

Dari kejadian di atas, saya belajar, bahwa ndak perlu melakukan hal besar untuk menjadi penerang bagi orang lain. Ndak butuh jabatan, ndak butuh kekayaan atau fasilitas lainnya untuk bermanfaat bagi orang lain. Apa yang mereka lakukan mungkin sederhana, karena bisa dilakukan oleh semua orang. Tapi ndak semua orang mau atau mampu melakukan hal semacam itu.

Mereka seperti lilin yang berpijar.

Lilin cuma kecil, ndak pernah sebesar obor. Lilin juga sederhana, ndak pernah secanggih senter. Cahayanya pun cuma redup kalau dibandingkan dengan cahaya petromak. Bahkan lilin akan habis meleleh dan hilang terbakar apinya sendiri.

Tapi dia sanggup memecah gelap yang paling pekat di sekitar kita tanpa harus menyilaukan mata kita dan setiap orang yang melihatnya.

Menjadi lilin. Berbuat sesuatu yang sederhana untuk orang yang membutuhkan, tanpa perlu membuat mereka silau dengan apa yang kita lakukan, atau silau dengan status kita. Berbuat seikhlasnya, sehingga kita ndak pernah takut mereka akan melupakan kita saat kita nanti “habis meleleh”.

Di Jakarta, saya jujur saja blum pernah membantu orang seperti itu. Tapi saya yakin, akan ada cara lain buat kita untuk menjadi lilin bagi orang lain. Dan saat kesempatan itu datang, saya yakin, kita ndak akan menyia-nyiakannya. Iya, kan?

Jadi, sudahkah anda menjadi lilin hari ini?

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

1 thought on “Belajar Menjadi Lilin”

  1. banyak cara untuk menjadi lilin. menulis cerita penuh inspirasi ini pun bagian dari upaya memberi terang itu. makasih ceritanya, gung..

Comments are closed.