Belajar Menjadi Lilin

2 menit waktu baca

Suatu malam di Kobe, sebuah kota yang tidak seglamor Tokyo, saya dan teman asal Kolumbia, berada di persimpangan jalan.

Kami tidak tahu arah. Paket data nomor Indonesia yang saya aktifkan di Jepang telah habis, tidak bisa memakai applikasi peta.

Ingin bertanya orang yang lalu lalang, agak ragu. Sebab mereka jalan cepat, seperti buru-buru.

Saya juga tidak bisa bahasa Jepang dan saya tahu mereka hampir pasti tidak bisa bahasa Inggris.

Sampai akhirnya, karena waktu terus berjalan, kami nekat mencegat seorang lelaki, mungkin lebih tua beberapa tahun dibandingkan umur saya.

Dia mengenakan setelan jas lengkap dan menenteng tas, yang berjalan agak cepat.

Seketika dia berhenti dan menatap kami. Menggunakan bahasa Inggris kami minta dia memberi tahu ke arah mana kami harus berjalan untuk menemukan restoran sushi.

Sama sekali tidak penting, kan?

Seperti yang kami duga, dia tidak bisa bahasa Inggris.

Bahkan untuk mencoba menggunakan kata-kata sederhana seperti yes, no, right, left, dsb., pun dia seperti enggan.

Kami hanya berusaha mengikuti kemana gerakan tangannya mengarah tanpa memperhatikan kata-kata yang dia ucapkan.

Dia memperhatikan muka bego kami karena tidak mengerti apa yang dia maksud.

Akhirnya, dia menggerakkan tangannya dan seperti berkata, “Ayo ikuti saya”

Iya, dia mengantarkan kami menuju tempat tujuan.

Padahal tidak searah dengan perjalanan dia sebelum kami cegat tadi. Akhirnya kami berjalan bersama, tanpa bicara, sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.

Okay, mungkin itu karena di kota kecil, jadi orang-orangnya tidak terlalu sibuk dan punya banyak waktu untuk membantu sesama. Lagipula, siapa yang tidak tahu kemurahan hati orang Jepang.

Tapi saya pernah juga mengalami itu di Shanghai.

Bila dibandingkan orang Jepang, orang-orang di Cina lebih cuek, bahkan bisa dikata tidak pedulian.

Sore itu, saat jam pulang kantor, saya ingin kembali ke hotel setelah meeting, saya bingung menentukan arah.

Kali ini seorang perempuan, yang mungkin lebih muda sedikit dari saya, sedang menunggu bis mencoba berbahasa Inggris. Tapi saya tetap tidak mengerti.

Melihat muka plongo saya, dia pun menawarkan diri untuk mengantar.

 

Bahkan di New York!

Kota yang katanya tidak pernah tidur.

Seorang laki-laki (maaf) berkulit hitam, di tengah cuaca dingin nol derajat, pernah mengantar saya yang sedang bingung menuju Time Square saat dia sedang jalan pulang.

Saya tahu Time Square tidak searah dia pulang karena setiba di tujuan, dia say good bye dan berjalan ke arah sebaliknya.

Luar biasa, kan?

Padahal dia bisa saja menolak membantu saya dengan alasan harus cepat sampai rumah.

Mana dingin pula.

Dari kejadian di atas, saya belajar bahwa tidak perlu melakukan hal besar untuk menjadi penerang bagi orang lain.

Apa yang mereka lakukan mungkin sederhana, karena bisa dilakukan oleh semua orang. Tapi tidak semua orang mau atau mampu melakukan hal semacam itu.

Mereka seperti lilin yang berpijar.

Lilin cuma kecil, tidak pernah sebesar obor.

Lilin juga sederhana, tidak pernah secanggih senter.

Cahayanya pun cuma redup kalau dibandingkan dengan cahaya petromak.

Bahkan lilin akan habis meleleh dan hilang terbakar apinya sendiri.

Tapi dia sanggup memecah gelap yang paling pekat di sekitar kita tanpa harus menyilaukan mata kita dan setiap orang yang melihatnya.

Menjadi lilin berarti berbuat sesuatu yang sederhana untuk orang yang membutuhkan, tanpa perlu membuat mereka silau dengan apa yang kita lakukan, atau silau dengan status kita.

Berbuat seikhlasnya, sehingga kita tidak pernah takut mereka akan melupakan kita saat kita nanti “habis meleleh”.

Jadi, sudahkah kita menjadi lilin hari ini?

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016-2017 Agung Pushandaka

Related Post

1 thought on “Belajar Menjadi Lilin”

  1. banyak cara untuk menjadi lilin. menulis cerita penuh inspirasi ini pun bagian dari upaya memberi terang itu. makasih ceritanya, gung..

Comments are closed.