Jessica, Kapan Bebas?

1 menit waktu baca

Semakin ke sini, persidangan kasus matinya Mirna Salihin semakin mengaburkan dugaan banyak orang terutama tuduhan Pak Dharmawan Salihin bahwa Jessica adalah pembunuh anaknya. Jangankan menemukan pembunuh anaknya, penyebab matinya Mirna pun semakin kabur. Sekarang ada fakta baru terungkap bahwa kandungan sianida yang ditemukan di lambung Mirna bukanlah dari asupan makanan/minuman dari luar.

Lagipula, kadar sianida yang ditemukan di tubuh Mirna ndak akan membunuh manusia. Fakta lain juga bahwa kalau sianida itu membunuh Mirna, maka yang teracuni bukan cuma lambung tapi seluruh tubuh karena sianida itu akan tersebar oleh darah.

Maka semakin kaburlah dakwaan jaksa di kasus ini.

Hal ini semakin memperkuat kejanggalan sejak penyidikan karena berkas yang diajukan penyidik kepolisian ke jaksa juga selalu ditolak. Namun di akhir masa penahanan, tiba-tiba kasus itu berlanjut ke kejaksaan dan segera disidangkan di pengadilan Jakarta Pusat. Kasus ini seperti dipaksakan.

Persidangan Jessica selama ini cuma ingin membuktikan bahwa Jessicalah pembunuhnya. Juga ditambah dengan vonis dini dari Pak Dharmawan dan banyak orang yang ndak tau apa-apa namun tergiring opininya untuk ikut menghakimi Jessica sebagai pembunuh.

Suatu persidangan seharusnya diadakan untuk membantu hakim dalam menemukan kebenaran. Apakah terdakwa memang bersalah atau sebaliknya. Tapi dari beberapa berita mengenai jalannya persidangan, bahkan anggota majelis pun ikut memojokkan terdakwa.

Jadi Yang Mulia Majelis Hakim, kapan Jessica bebas?

Atau dia benar-benar sudah dipilih sejak awal untuk menjadi kambing hitam atas matinya seseorang?

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

6 thoughts on “Jessica, Kapan Bebas?”

  1. Saya butuh pencerahan di sini :))

    Jika Jessica bukan pelakunya, mengapa J bersaksi bahwa pada pukul 15.30 ia masih berada di jalan? Begitu jg di history percakapan whatsapp. Saat ia sudah berada di lokasi, dia malah mengabari teman2nya kalau ia belum sampai. Motifnya apa?

    Hal sepele kayak gini aja aneh banget. Pembelaan tersangka adl kemungkinan dia salah lihat waktu. Tapi di percakapan whatsapp, jelas pelaku mengabari kalau dia msh di jalan. Yang mana jelas ada penunjuk waktunya. Kalaupun misalnya jam milik pelaku salah, tapi dalam waktu realnya, ia jelas2 mengabari masih di jalan pd pukul 15.30.

    Terlepas dari “seandainya” dia salah memberi keterangan waktu, tapi dia mengabari teman2nya bahwa ia masih di jalan justru pada saat dia sudah di olivier. Itu tidak ada hubungannya dgn salah lihat jam/salah mengira waktu.

    Selain itu, jika bkn karena sianida, lalu meninggal krn apa? Lalu mengapa saksi lainnya yang mencicipi kopi tsb mengalami gejala keracunan sianida (ini dikonfirmasi oleh saksi ahli, bahwa teman dan pegawai kafe yg mencicipi, positif menunjukkan gejala keracunan sianida)? Dr mana sianida tersebut dan mengapa ada di dalam kopi yg mereka cicip?

    Jika Jessica tidak terbukti bersalah, dan pelaku tidak diketahui, biasanya penyidikan diulang dari awal atau dihentikan ya, mas?

    Agung Pushandaka Reply:

    Lea yang baik, semua masih teka-teki.

    Kalaupun waktu Jessica memang berniat berbohong mengenai posisinya yang sudah berada di lokasi, apakah itu membuktikan bahwa dia pembunuhnya. Bisa saja dia berbohong karena pengen beli hadiah dulu untuk Mirna dan Hani, atau dia ada keperluan lain di GI. Sekali lagi, apa kebohongan itu membuktikan Jessica membunuhnya? Misalnya, dia datang duluan karena pengen beli racun. Nah, itu bisa memberatkan.

    Aku juga ndak tau meninggalnya karena apa, sebab pada periksaan medis sesaat setelah Mirna meninggal, ndak ditemukan sianida di tubuh Mirna. Ahli dari jaksa sendiri yang mengakui itu.

    Sianida dalam kopi juga aneh. Menurut data penyidikan kepolisian, kandungan sianida di dalam kopi adalah sekian (aku lupa), yang kalau benar demikian, jangankan diminum, aromanya pun akan membuat seisi cafe akan pingsan.

    Tapi ini cuma dugaanku saja. Aku bukan ahli sianida, bukan juga saksi yang tau langsung kejadiannya. Jadi aku juga menunggu pencerahan dari persidangan. Seharusnya persidangan membuka semua kebenarannya.

    Justru aku merasa aneh dengan bapaknya Mirna yang menolak otopsi, padahal itu justru akan membantunya menemukan penyebab kematian anaknya. Seperti ada yang ingin dia tutupi.

    Kalau Jessica tidak bersalah, maka Jessica harus dibebaskan dari segala dakwaan. Jaksa bisa mengajukan kasasi terhadap putusan itu. Tapi, Jessica ndak akan bisa dituntut lagi untuk kasus yang sudah diputus hakim.

    Kira-kira begitu Le.

  2. Kok bisa jadi njelimet gini yaaa kasusnya. Kalau nonton jg jadi bingung, mana yg benar dan yg seharusnya salah…moga cepat selesai yaa

    Agung Pushandaka Reply:

    Iya, kita cuma bisa ikuti persidangannya saja dan menunggu putusan hakim. Semoga yang benar diputus benar, yang salah dinyatakan salah.

  3. Kalau Jessica tidak salah kapan dia bebas?
    Kalau bersalah kenapa tidak segera diputuskan?

    Agung Pushandaka Reply:

    Rencana sidang putusan sih 21 Oktober 2016.

    Kenapa saya tanya kapan bebas (kalau ndak terbukti)? Karena kalau Jessica terbukti bersalah, maka jelas putusannya di tanggal itu. Tapi kalau ternyata ndak terbukti bersalah, blum tentu diputus bebas pada saat itu.

    Alasan saya? Saya melihat waktu penyidikan. Hasil penyidikan kepolisian bolak-balik ditolak kejaksaan, yang artinya bukti dari kepolisian itu ndak cukup. Tapi menjelang akhir penahanan, tiba-tiba buktinya cukup. Terkesan dipaksakan dan diada-adakan. Saya ndak yakin bahwa kasus ini berusaha untuk menemukan penyebab kematian Mirna, tapi cuma berusaha mengesahkan tuduhan bapaknya Mirna terhadap Jessica.

Comments are closed.