Kecewa Soegija

Kemarin, Senin (18/6), saya membulatkan tekad pergi ke bioskop untuk menonton film Indonesia. Sudah sejak lama saya kurang berminat untuk menonton film produksi bangsa sendiri di bioskop. Terakhir kali, saya menonton film Tanah Air Beta sewaktu di Jogja. Apalagi, film Indonesia belakangan ini lebih banyak tentang setan dan belahan dada perempuan seksi. Kali ini, Soegija yang saya harap mampu memuaskan kerinduan saya akan film Indonesia yang bermutu baik, setidaknya di mata saya. Tapi, setelah menonton filmnya, saya kecewa..

Faktor yang membuat saya kecewa adalah karena saya seorang pecinta film yang berdasarkan kisah nyata. Saya juga menyukai sejarah, jadi film-film yang berdasarkan kisah nyata akan sarat dengan sejarah, baik itu sejarah sesorang maupun suatu kejadian. Saya ke bioskop tanpa bekal apapun tentang Soegija. Iya, saya ndak pernah tau ada pejuang kemerdekaan melalui jalan dakwah yang bernama Soegija sebelumnya. Saya berharap banyak akan tau tentang uskup pribumi pertama di Indonesia dari film karya Garin Nugroho ini.

Tapi, justru tokoh utama, Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ. yang dipanggil Soegija, tampil sedikit banget dalam film ini. Saya sama sekali ndak mendapat pengetahuan apa-apa tentang dia. Saya cuma tau apa yang dia lakukan dalam film, bukan apa yang dilakukan untuk berjuang bahu-membahu bersama umat dan kaum lainnya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kalau pun film ini cuma pengen mengangkat sisi humanis Soegija dari dialog-dialog ringannya dengan tokoh lainnya, itu pun juga ndak memuaskan saya.

Pak Garin justru lebih banyak bercerita tentang kisah fiktif si Mariyem yang ditinggal pergi kakaknya ke medan laga dan pulang tinggal jasad tanpa nyawa. Juga kisah cintanya dengan Hendrick, wartawan perang yang prihatin dengan keadaan yang menimpa negeri terjajah. Ada juga kisah gadis kecil bernama Ling Ling yang terpisah dari ibunya dan bertemu kembali menjelang akhir film tanpa saya tau kemana sebenarnya si ibu selama film berlangsung. Semuanya tanpa keterlibatan Soegija secara langsung. Intinya, pengetahuan yang saya dapatkan tentang Soegija, maaf, hampir nol besar dari film ini. Saya pikir, Sang Pencerah -yang saya tonton di video penerbangan Garuda Indonesia- lebih sukses menggambarkan tentang Ahmad Dahlan.

Tapi bagaimana pun saya tetap salut dan bangga dengan film ini. Membuat film tentang sejarah seseorang bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi dengan setting keadaan kota Semarang dan Jogja pada periode 1940-1950an. Suasana kota di masa itu digambarkan dengan cukup baik di film ini, walaupun sudut kota yang terlihat sempit banget. Kapan ya ada film sejarah bikinan negeri ini yang bisa menggambarkan keadaan kota secara luas seperti film-film sejarah bikinan luar negeri seperti Saving Private Ryan dan film-film sejarah lainnya. Hehehe, mungkin impian saya berlebihan, tapi siapa tau besok jadi kenyataan.

Maka, mohon maaf untuk penggemar film-film karya Garin Nugroho. Tapi saya ndak terlalu puas dengan film ini. Saya pikir film ini akan lebih bagus kalau judulnya bukan Soegija karena justru kisah tentang Soegija sedikit banget.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

16 Responses to “Kecewa Soegija”


  1. a!

    bersyukurlah. setidaknya kamu bisa nonton film tersebut. daripada aku di bali yg cuma bisa baca ulasanmu. :p

  2. mardiani eka novandari

    haha,
    akhirnya nonton filmnya juga , sbnrnya saya juga agak kecewa dengan film tersebut , apalagi saya mendengar selentingan kabar bahwa film tersebut aslinya tidak cm 1.45 menit melainkan 2.5jam. sungguh penasaran melihat dengan full 2.5jam. apalagi kalau kabar itu ternyata benar klop deh rasa kecewanya.
    cerita mariyem dan lingling harus nya bisa sebagai “bumbu penyedap” dalam film itu.Dan lebih ditekankan dari sisi apa dan bagaimana perjuangan soegija..
    yes..sang pencerah,
    ak setuju mas. saya sebagai non muslim melihat film itu bs kok melihat bagaimana sosok ahmad dahlan dan nilai sejarah ajaran agama islam yang digambarkan disana oleh kisah ahmad dahlan.
    semoga saja kedepannya bisa ada film sejarah yang lebih bisa mengangkat nilai perjuangan dari tokoh sejarah dan kiprahnya dimasa itu.
    saranku. mas bisa baca bukuny soegija.

    ^-^

  3. Cahya

    Kita mungkin mesti punya studio sebesar kabupaten untuk membuat latar kota yang apik. Perfilman kita memang masih tertinggal.

    Pun demikian, saya tetap setuju sama Mas Anton, saya di Bali – ndak bisa nonton film :(.

  4. fb

    Entar kisah si Mariyem malah yang dianggap kisah nyata ya :D
    Jangan sampai film kita tertinggal sama negara tetangga nih..

  5. BangKoor

    saya nggak bisa komentar banyak nih mas. Lah wong belum liat film-nya kayak gimana. Sang Pencerah-pun saya belum nonton. Hehe…
    Mendengar penuturan mas pushandaka, ditambah komentarnya mbak Mardiani, saya jadi kurang semangat juga nontonnya. Tapi kita tetep harus menghargai toh. Kan gimanapun juga, bikin film yang langka gini nggak gampang. Untuk setting-nya, alur ceritanya, sumber ceritanya, pasti perlu persiapan dan referensi yang matang banget

  6. giewahyudi

    Sudah terbayangkan sebelumnya sih. Pencarian informasi tentang Soegija ini pasti susah seperti Hanung yang harus membongkar-bongkar pustaka lama tentang Ahmad Dahlan..

  7. imadewira

    Film? Bioskop?

    Sudah lama tidak bertemu dengan bioskop :-( Paling2 saya cuma nonton Bioskop TranTV.

    Saya saya ikut senang mendengar bahwa sudah ada lagi film asli Indonesia yang bukan bercerita dan menampilkan hantu2 seksi itu lagi. Kalau mau yang seksi dan bikin nafsu, mending kan nonton bokep aja sekalian.

    *maaf kalau agak OOT

  8. kontraktor bangunan

    semangat yaaa…:)

  9. komuter

    saya juga sudah lama sekali tidak pergi ke gedung bioskop.
    melewatinya sering.
    nonton bioskop di tv saja….

  10. isnuansa

    Di twitter juga ramai diomongin sama yang sudah nonton, katanya nggak sesuai dengan ekspektasi. Saya sendiri masih penasaran karena belom nonton. :)

  11. Sugeng

    Memang begitu yang saya baca dari banyak review di berbagai blog. Saya juga sama sekali nol besar dari seorang pejuang yang bernama Soegija. Pada saat lita trailer nya juga gak ngeh karena ada banyak tokoh yang di gambarkan (tahunya setelah membaca banyak ulasan) mulai dari Soegija, ling-ling, hendrik dan lain-lain. :?

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  12. Gek

    Mungkin sengaja dibuat demikian, biar kritikus film juga kebagian ngritik! :p

  13. indobrad

    saya juga sama kecewanya. film ini tidak maksimal mengangkat kisah Soegija :(

  14. @zizydmk

    Wew. Saya gak nonton jadi jujur masih meraba-raba dan cuma bisa lihat komentar lainnya. Tapi memang saya jarang nonton film Indonesia sih, kecuali yang banyak direkomenkan orang.

  15. SIge

    Halo, lam kenal..wah bioskop yah..nampaknya kata itu gag asing di telinga..^^

  16. rental mobil disurabaya

    klo saya sih lbih sja film fiktif.. :D haha