Bukan Cuma di Sekolah

Tanggal 2 Mei semua orang tau adalah tanggal kelahiran tokoh pendidikan Jawa yang kemudian diangkat menjadi tokoh dan pahlawan pendidikan nasional dengan menetapkan tanggal itu sebagai hari pendidikan nasional, yaitu Ki Hadjar Dewantoro. Tapi kok saya lihat kemudian, pendidikan itu identik dengan sekolah saja. Padahal menurut saya, mutu pendidikan itu ndak cuma bisa dipatok sama dengan mutu sekolah. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah cuma bagian dari proses pendidikan itu sendiri.

Saya percaya, bahwa beban mendidik masyarakat ndak cuma diemban bapak dan ibu guru di sekolah, tapi juga para orang tua di rumah, pemimpin/pemerintah yang mengelola negara dan tentu saja Sang Pemilik Segala Ilmu, Tuhan yang Maha Kuasa, yang terakhir ini ndak akan saya bicarakan di sini. Mereka semua punya porsi dan bidangnya masing-masing untuk ikut serta dalam proses pendidikan.

Nah! Pas banget dengan momen hari pendidikan nasional, muncullah sosok Koboy Palmerah yang menghebohkan. Penyelesaian masalah dengan menenteng senjata, ntah itu mainan atan betulan, ditambah dengan aksi pukul dan makian, dipertontonkan di depan mata banyak orang dan disebarluaskan melalui layar tivi. Aksi ini seakan menjadi cerita bersambung yang ndak ada habisnya tentang tindakan kasar aparat pemerintah saat menghadapi dan menyelesaikan sebuah masalah.

Maka, seperti itu pulalah masyarakat terdidik untuk memecahkan masalah. Siapa yang menang bukan melulu bagi mereka yang benar, tapi justru lebih sering bagi mereka yang kuat. Bentrok fisik sesama warga semakin sering kita lihat menjadi solusi yang diambil para pihak yang bersengketa. Kenapa bisa seperti itu, ya karena masyarakat kita terdidik seperti itu dari apa yang mereka lihat dari para aparat.

Akhirnya saya cuma bisa bilang, guru-guru di sekolah butuh banget kerjasama semua pihak pendidik, orang tua dan pemerintah. Apalagi ternyata sekolah cuma jadi tempat mendidik yang ndak menyenangkan, terbukti dari apa yang kita lihat pada siswa-siswa sekolah menjelang ujian nasional. Mereka takut menghadapi ujian, bak seorang terpidana mati yang menanti detik-detik eksekusi.

Saya berharap, di luar sekolah masyarakat bisa mendapat ilmu dengan cara yang lebih menyenangkan, yang ndak cuma membuat mereka lebih pintar saja, tapi juga lebih bijak dalam memanfaatkan kepintaran mereka. Ameeen,,

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

2 Responses to “Bukan Cuma di Sekolah”


  1. @zizydmk

    Setelah punya anak, dan anak saya sudah sekolah nih (even masih preschool), kekhawatiran sudah terasa. Karena sepertinya sekolah sudah jadi momok, dan anak2 jadi takut dan cemas setiap kali mau ujian.
    Well, pendidikan memang tanggung jawab bersama, include orang tua..

  2. imadewira

    Pendidikan khususnya untuk anak menurut saya dimulai dari lingkungan terdekatnya, dalam hal ini keluarga, lalu sekolah, dan seterusnya.