Timnas Adalah Segalanya

Semua orang pasti tau kekalahan memalukan yang diderita timnas sepakbola Indonesia kala menghadapi Bahrain pada pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Bukan cuma kalah, Indonesia bahkan menderita gol 10 kali oleh tim lawan. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari kualitas lawan yang lebih unggul, wasit yang berat sebelah dan penampilan timnas yang blum padu dan solid karena menurunkan pemain-pemain usia muda bahkan beberapa pemain melakoni debutnya pada pertandingan ini. Tapi, bukan tentang itu yang mau saya tulis lebih lanjut.

Oke, kalah tetaplah kalah. Gelontoran 10 gol lawan jelas memalukan banget, ndak cuma bagi pemain tapi juga untuk semua pecinta timnas. Tapi yang mengesalkan adalah adanya beberapa orang yang memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan lawan politiknya di dunia sepakbola nasional. Kekalahan ini seharusnya bukan cuma tanggung jawab PSSI dan kompetisi Liga Prima Indonesia (LPI), tapi juga seluruh insan sepakbola termasuk Liga Super Indonesia (LSI).

Kalau anda blum tau, perpecahan sepakbola sedang terjadi di bumi Indonesia. Ada sinyalir, persaingan politik merembet ke dunia olahraga khususnya sepakbola. PSSI yang dipimpin Djohar Arifin menyelenggarakan LPI dan ndak mengakui LSI. Sementara yang anti PSSI menyelenggarakan kompetisi tandingan yaitu LSI sekaligus menolak LPI.

Saya ndak mendukung atau menolak salah satu dari kedua kompetisi itu. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan di mata saya. LPI, saya sebut sebagai liga profesional. Yaitu liga yang benar-benar swasta, yaitu ndak ada intervensi yang berlebihan dari pemerintah. Poin ini saya jadikan nilai positifnya. Liga ini baru berjalan beberapa bulan, jadi masih banyak kekurangan yang harus dibenahi, misalnya keuangan klub yang masih kembang-kempis karena harus berjuang sendiri mencari laba dari kegiatan perusahaan yang menjalankan klubnya.

Sementara ISL masih dianggap kompetisi terbaik. Saya rasa wajar, sebab LSI dipenuhi oleh bintang-bintang sepakbola nasional yang sering memperkuat timnas sehingga setiap pertandingannya selalu dipenuhi suporter. Ini saya anggap nilai positif LSI. Tapi LSI masih menyusu dari APBD. Klub-klub daerah masih menggerogoti miliaran uang daerah untuk menggaji pemain-pemainnya. Ndak wajar jadinya sebab pemain-pemain itu blum punya prestasi yang patut dinilai dengan gaji ratusan juta per bulan. Ini negatifnya LSI, memiskinkan keuangan daerah untuk hal yang kurang layak. (baca juga: Sepakbola Indonesia Cuma Benalu)

Persaingan ndak cuma tentang kompetisi, tapi juga tentang timnas. Bahkan beberapa pendukung LSI malah mendoakan agar timnas kita kalah, supaya jadi alasan kuat untuk merebut kembali kekuasaannya atas PSSI. Saya kecewa sekali melihat fakta ini. Memalukan banget mereka memanfaatkan momen timnas kalah demi kepentingan kelompok mereka saja. Timnas adalah kepentingan bangsa dan negara, dikesampingkan oleh kepentingan segelintir orang. Mereka mengorbankan timnas untuk memuluskan ambisi pribadi dan kelompok.

Maka saran saya adalah, janganlah korbankan timnas. Untuk LPI, coba rangkul lagi klub-klub LSI. Serap apa kemauan mereka, diselaraskan dengan profesionalisme LPI. Sementara untuk LSI, ndak perlulah mengklaim diri sebagai yang terbaik. Buktinya, walaupun dibiayai miliaran rupiah setiap tahun dengan menghabiskan uang kas daerah, LSI blum pernah meraih prestasi yang patut dibanggakan. Jadi juara ASEAN pun ndak sanggup. Apa ndak malu dengan gaji puluhan juta per bulan yang kalian terima?

Akan lebih baik kalau klub berusaha mandiri dari pengelolaan klub yang berbentuk badan hukum. Uang daerah yang bernilai miliaran rupiah itu bisa dimanfaatkan untuk membangun/merenovasi stadion, biar kualitas kompetisi sepakbola kita semakin baik. Dengan kualitas stadion yang baik, pemain-pemain akan semakin optimal menunjukkan kualitasnya. Bintang sepakbola nasional seharusnya bukan dilihat dari seberapa besar gajinya atau seberapa sering memperkuat timnas, tapi seberapa banyak kontribusinya untuk prestasi timnas.

Malu karena kekalahan timnas 10 gol tanpa balas seharusnya ndak cuma dirasakan PSSI/LPI, tapi juga LSI. Mereka yang menertawakan kekalahan timnas, justru sedang menunjukkan kebodohan mereka sebab mereka jugalah yang membuat timnas seperti ini. Jadi mari tempatkan kepentingan timnas di atas segalanya.

Tetaplah tabah timnas Indonesia. Jalan masih panjang untuk meraih prestasi. Hidup Indonesia!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

6 Responses to “Timnas Adalah Segalanya”


  1. indobrad

    lelah mas melihat carut-marut di PSSI. saya udah gak perhatian lagi sama berita2 sepakbola Indonesia :)

  2. adiarta

    saya bahkan malu nontonnya Bli, kebanyakan kalah, apalagi jika di kandang sendiri… :(

  3. @zizydmk

    Banyak yang ingin ikut campur mengurusi PSSI, akhirnya timnas jadi korban. Yeah, kita memang hanya bisa bilang, tak apa masih bisa lain kali…. tapi sebenarnya di dalam hati kan kuciwa bo’……

  4. imadewira

    Setuju 100% dengan anda, Timnas adalah segalanya, seharusnya kepentingan kelompok2 tertentu di PSSI jangan sampai mengorbankan Timnas.

    Kekalahan 10-0 itu benar-benar memalukan, saya rasa yang bukan penggemar sepakbola pun akan ikut malu karena ini menyangkut harkat dan martabat bangsa. Kalau ndak salah ini kekalahan terbesar sepanjang sejarah Indonesia ya?

    Tapi sudahlah, seperti kata anda, semoga kekalahan ini membuka mata mereka yang sedang “berkelahi” di tubuh PSSI. Kita sebagai penggemar sepakbola dan Timnas sudah hampir muak dengan perebutan kekuasaan di PSSI, harapan untuk maju sejauh ini masih jauh, yang ada malah kemunduran.

  5. HA Peduli

    postingan yang sangat menarik :)
    sangat bermanfaat.. ^_^
    keep posting yaa..

    ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
    kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)

  6. Mas Bro

    kangen liat TIMNAS berprestasi mas :(