Saat Nakal Menjadi Kriminal

Beberapa hari ini, sebuah video kekerasan yang melibatkan beberapa gadis remaja beredar di internet. Video ini menambah panjang deretan bukti akan kejadian atau peristiwa ndak mengenakkan yang dilakukan oleh remaja-remaja jaman sekarang. Mulai dari pencurian, penganiayaan, perusakan, perkosaan, pelacuran bahkan pembunuhan. Apa memang seperti ini sekarang standar kenakalan remaja? Atau mereka memang pelaku kriminal? Trus masyarakat harus bagaimana menyikapi hal ini?

Pertama, kita harus tau dulu perbedaan antara nakal dan kriminal. Menurut saya, seorang remaja disebut nakal di saat mereka melakukan perbuatan yang mengabaikan aturan sosial yang berlaku di keluarganya atau lingkungan masyarakat yang lebih banyak disebabkan karena mereka (harus dianggap) blum mampu berpikir dan bertindak dengan matang. Sedangkan kalau kriminal, sudah jelas adalah sebuah perbuatan yang melawan hukum.

Tapi masalahnya kemudian, banyak aturan sosial yang ditegakkan/ditegaskan menjadi aturan hukum. Saya ingat seorang dosen di kampus pernah bilang, saat aturan (norma) sosial – juga norma agama – dibuat menjadi aturan hukum, maka itu menunjukkan bahwa moral masyarakatnya menurun. Penurunan moral itu ditunjukkan dengan bukti bahwa masyarakat ndak lagi takut dengan sanksi sosial bahkan sanksi akhirat, maka kemudian oleh penguasa yang bertugas menertibkan kehidupan masyarakat, disusunlah aturan hukum dengan sanksi yang lebih tegas dan nyata.

Trus bagaimana dengan fenomena remaja yang terjadi sekarang ini? Sebenarnya, penganiayaan seperti dalam video yang saya bilang tadi, ndak cuma terjadi sekarang. Dulu jaman saya masih duduk di bangku sekolah dasar, sudah jamak terjadi. Bedanya, dulu ndak ada handphone untuk merekamnya.  Hehe! Tapi seingat saya, ndak banyak kenakalan remaja jaman dulu yang harus berlanjut di meja hijau.

Maka, apakah mereka cuma nakal atau memang kriminal ndak terlalu penting menurut saya. Sebab semua itu cuma ditentukan oleh beberapa baris kalimat dalam peraturan hukum. Saat seorang remaja laki-laki melakukan kenakalan menggoda teman perempuannya dengan mencolek pinggulnya, maka itu bisa menjadi tindakan kriminal karena dalam peraturan pidana perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan ndak menyenangkan, pelecehan seksual, dsb.

Sekarang yang penting bagaimana kita memberi maaf yang proporsional terhadap kenakalan mereka. Saya ingat kasus seorang anak yang diadili karena menempelkan tawon di pipi temannya sampai tersengat. Secara hukum, itu termasuk penganiayaan. Tapi menyeretnya ke meja hijau sangatlah berlebihan. Seorang anak yang nakal pastilah sudah merasa dihukum saat melihat temannya kesakitan. Ada perasaan bersalah yang muncul saat itu terjadi.

Begitu juga dengan aksi kekerasan yang terjadi Bali kemarin. Mereka para pelaku ketakutan dengan apa yang mereka lihat di video. Saya rasa itu sudah cukup sebagai hukuman untuk mereka. Itu menunjukkan, mereka masih labil, masih merasa takut dan punya rasa bersalah. Penyelesaian secara damai seharusnya menjadi prioritas utama. Tentu dengan pengawasan yang lebih ketat untuk selanjutnya.

Kalaupun ternyata moral mereka sekarang mengalami degradasi, mengingat banyak banget aturan hukum yang mereka abaikan, itu ndak sepenuhnya salah mereka. Salah kita juga, salah penguasa juga. Kita ndak bisa memberikan kesenangan yang pantas untuk usia mereka. Mereka butuh merasa senang, tapi yang tepat untuk mereka. Pelaku aksi kekerasan dalam video diduga adalah anggota sebuah komunitas motor. Lah, umur belasan kok sudah dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya? Itu artinya, para orang tua ndak bisa menyenangkan anak-anaknya dengan tepat!

Maka, kesimpulan saya adalah bahwa mereka para remaja membutuhkan kesenangan yang pas. Bahkan sekolah pun ndak bisa mendidik mereka dengan cara yang menyenangkan. Blum lagi program tivi yang semakin membuat mereka ndak merasa gembira. Itulah tanggung jawab kita sebagai orang dewasa yang berada di sekitar mereka. Saat kita ndak bisa memberikan kesenangan yang tepat, mereka akan mencarinya sendiri di luar pengawasan kita yang mungkin banget lebih ndak pas.

Kalaupun akhirnya mereka melakukan tindakan yang di luar kewajaran, mereka membutuhkan tindakan yang tepat. Mengadili di meja hijau bukanlah sesuatu yang salah, tapi seharusnya itu jadi upaya terakhir dan hanya untuk kenakalan yang benar-benar jauh di luar kewajaran. Kita sebagai orang yang (dianggap) mampu berpikir dan bertindak secara dewasa seharusnya bisa memilah mana yang bisa dimaafkan dan mana yang ndak.

Penanganan yang pas menurut saya misalnya dengan melarang mereka menggunakan handphone karena terbukti mereka ndak mampu menggunakannya untuk keperluan yang wajar. Atau anggota genk motor itu, dilarang bersepeda motor lagi sampai mereka menyadari kenakalannya ndak bisa diterima lingkungannya. Biar saja mereka membuat klub sepeda atau jalan sehat. Hihi!

Sekali lagi, memejahijaukan mereka ndaklah salah, tapi kita harus tau kapan saat yang tepat untuk menjadikan mereka seorang pesakitan di hadapan hukum.

Tapi apapun itu, akhirnya saya cuma bisa mendoakan agar kita semua terhindar dari hal-hal buruk ntah sebagai pelaku ataupun korban.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

8 Responses to “Saat Nakal Menjadi Kriminal”


  1. Cahya

    Zaman sekarang, entah kenapa kesannya kok susah ya jadi orang tua. Ada yang ndak mau repot mendengar rengekan anak, dari kecil sudah ini langsung dikasih, itu dikasih, anak yang merengek/memaksa di warung langsung dibelikan camilan agar diam.

    Mungkin anak-anak yang merasa dari kecil bisa mendapatkan “sesuatu yang menyenangkan” dengan mudah, akan merasa tidak keliru jika ia memaksakan kehendaknya untuk sesuatu yang ia pikir bisa memuaskannya. Apalagi kalau orang tua keduanya sibuk, ndak sempat memikirkan perkembangan anak, perlu apa-apa semuanya diganti dengan materi yang seketika.

    Anak yang dididik dengan baik saja kadang masih melakukan kenakalan, apalagi anak yang dibiarkan. Jadi kadang jika anak melakukan kenakalan hingga tindak kriminal, yang salah siapa? – Saya jadi sering bingung.

    Agung Pushandaka Reply:

    Yang salah siapa? Pertanyaan yang menarik dan juga tercetus di otak saya.

    Saya pengen sebenarnya mengalihkan tanggung jawab si anak/remaja kepada orang dewasa yang mengawasinya. Misalnya, remaja penabrak belasan orang di Makassar, atas kejadian itu maka orang tuanyalah yang dihukum atas dasar kelalaian. Sekaligus itu juga hukuman dan pelajaran utk si remaja, yaitu melihat orang tuanya dihukum secara pidana karena tindakan nakalnya.

    Tapi saya rasa itu juga ndak sepenuhnya adil utk si dewasa dan menambah beban si dewasa di jaman yang berat ini. Walaupun seharusnya mereka sudah siap dengan konsekuensi dan tanggung jawab saat memiliki anak berusia remaja.

    Terima kasih Mas Cahya.

    Cahya Reply:

    Mas Pushandaka,

    Saya pernah nonton berita bahwa di luar negeri ada orang tua yang disidangkan karena lalai membuat anaknya menjadi obesitas, pengadilan mencabut hak-nya sebagai orang tua karena tidak mampu membesarkan anaknya dengan baik selayaknya orang tua.

    Kadang saya ingin tahu, apa kasus-kasus seperti ini mungkin muncul di negeri ini.

    Agung Pushandaka Reply:

    Kayanya sulit. Kalau kasus yang anda bilang di atas, tindakan orang tuanya telah menyebabkan berkurangnya kesehatan si anak. Si anak murni sebagai korban. Sementara kasus yang kebanyakan terjadi belakangan, si anak/remaja menjadi pelaku tanpa ada suruhan orang dewasa.

  2. imadewira

    Saya setuju bila kejadian yang terekam video itu merupakan sebuah “hasil” dari sekian banyak sebab. Kita tidak bisa menyalahkan langsung pelaku begitu saja, ada banyak faktor lain yang mungkin bisa kita pertimbangkan, khususnya tentang lingkungan dan pendidikan remaja itu dari kecil hingga sekarang.

    Betul juga tentang kejadian seperti ini sudah ada sejak dulu, cuma baru jaman sekarang ada fasilitas untuk merekam. Disamping itu derasnya informasi yang kita terima tanpa disaring dengan baik ikut menjadi penyebab perubahan prilaku.

    Saya sendiri ketika SD, SMP, SMA beberapa kali melihat perkelahian diantara teman-teman, bahkan ada yang sampai berdarah-darah. Tapi ya begitulah, tidak sampai ada yang dimejahijaukan. Hampir semua berakhir damai. Itu jaman labil.

    Sekarang menjadi tugas kita semua yang merasa diri sudah tidak labil lagi untuk ikut berperan serta mengawasi, mendidik dan juga memberi contoh yang baik bagi anak, adik saudara yang semua yang kita anggap masih labil itu. Bisa?

  3. indobrad

    meski ada banyak faktor namun biasanya bisa dilacak ke satu sumber: didikan orang tua yang salah :(

  4. adin

    kiatnya ok nih, faslitas motornya dicabut :D untung saya cuma tergabung sama klub sepeda, hehe lebih sehat dan anti kekerasan

  5. ongisnade

    your post is nice.. :)
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. :)