Hikmah Tragedi Tugu Tani

Prihatin, itulah yang saya rasakan waktu melihat pertama kali tayangan di tivi tentang tragedi kecelakaan di Tugu Tani, Jakarta. Sebenarnya banyak kecelakaan lalu lintas pernah terjadi, tapi saya cukup menaruh perhatian untuk kejadian kali ini sebab sejak Kepala BKPM masih dijabat oleh Menteri Perdagangan, saya jadi cukup sering melintasi lokasi kecelakaan ini. Ngeri rasanya membayangkan kejadian itu. Yang lebih mengerikan lagi adalah saat melihat ekspresi si pelaku yang bertubuh gembrot seperti babi, yang seperti sama sekali ndak ada rasa takut, terkejut apalagi menyesal melihat mayat berserakan akibat ulahnya. Tapi sudahlah, bukan itu yang mau saya bicarakan.

Dari kejadian ini semakin terlihat bahwa pejalan kaki bisa menjadi korban kecelakaan di mana saja, bahkan di “wilayah kekuasaannya” sendiri. Iya kan, mereka mati sia-sia di trotoar yang seharusnya aman untuk mereka. Sementara kualitas trotoar kita kebanyakan kondisinya memprihatinkan banget. Ada yang karena pembuatannya sejak awal cuma seadanya, ada juga yang berlubang-lubang setelah pengerjaan sesuatu di bawahnya dan ada juga yang karena gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang semakin membuatnya sesak.

Pemerintah selama ini cuma memanjakan pemilik mobil pribadi. Jalan raya ditambah terus, bahkan sampai bertingkat-tingkat. Aspalnya dibuat mulus secara rutin. Jalan tol ndak pernah berhenti dibangun. Iya, semuanya itu cuma untuk pemilik mobil. Sementara yang pejalan kaki, penumpang kendaraan umum dan pengendara sepeda motor jadi anak tiri. Padahal, mobil-mobil itulah biang kemacetan di jalan raya. Mereka juga yang tanpa malu menghabiskan jatah premium untuk orang ndak mampu. Sekarang, mereka juga yang paling kencang berteriak untuk kewajiban penggunaan pertamax atau bahan bakar gas.

Semoga setelah kejadian ini, pemerintah jadi semakin terbuka mata dan hatinya bahwa yang seharusnya dimanjakan adalah para pejalan kaki, pihak yang ndak pernah lelah dan bosan untuk selalu berusaha menikmati perjalanan mereka walaupun fasilitas yang disediakan untuk mereka memprihatinkan banget. Lindungi mereka dari pengguna mobil pribadi dan pengguna jalan lain yang ndak bertanggung jawab di jalan raya. Biar ndak ada lagi pejalan kaki yang mati sia-sia bahkan di trotoar yang seharusnya melindungi mereka.

Semoga kita semua selalu dilindungi dari hal-hal buruk di jalan raya dan di mana pun. Hati-hati di jalan.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

8 Responses to “Hikmah Tragedi Tugu Tani”


  1. Agus Lenyot

    Begitulah, pejalan kaki adalah kaum paling marjinal di jalan raya. Haknya diserobot oleh pedagang kaki lima, saat jalan kaki diklakson oleh pengendara motor di jalur yang menjadi haknya. Sekarang diseruduk pula oleh pengemudi mabuk. Sembari menunggu pemerintah sadar, jalan untuk menghindari bahaya adalah waspada.
    Ini juga tulisan saya tentang jalan raya dan segala kondisinya http://bit.ly/AfCgQi

  2. Cahya

    Padahal sebenarnya ingin lihat kalau ada trotoar yang cukup lebar dengan taman-taman yang memagarinya dari jalan besar :).

  3. kishandono

    Negara auto pilot, kebijakan memanjakan pengguna mobil konon adalah “titipan” dari para produsen mobil.

  4. sulung

    kabarnya emang trotoar di sana kurang layak buat para pejalan kaki, ya?

  5. @zizydmk

    Sekarang mau mengemudi pun saya semakin ekstra hati-hati….
    kejadian ini memberi hikmah bagi semua orang.

  6. Ely Meyer

    miris ya jadi pejalan kaki di sana. Ngeri aku kalau membayangkan kejadian maut itu

  7. TuSuda

    iya…kita semua sangat berharap sekali, dari setiap kejadian apapun, ada penataan kebijakan yang lebih memperhatikan kembali keselamatan buat semua pengguna jalan.

  8. imadewira

    Pernahkah mereka yang membuat kebijakan berjalan di atas trotoar?