Dilema SEA Games

Besok, (11/11) SEA Games akan dimulai secara resmi. Indonesia sebagai negara tuan rumah menghelatnya di 2 kota, Jakarta dan Palembang. Prestasi Indonesia di SEA Games beberapa tahun belakangan ini, semakin turun dan turun. Dulu, Indonesia seperti ndak perlu membanting tulang terlalu keras untuk meraih medali emas. Lawan terberat di Asia Tenggara, Thailand, mudah kita taklukkan. Tapi belakangan ini, Indonesia harus berhadapan dengan Malaysia, Singapura dan Vietnam untuk sekedar memperebutkan tempat kedua di bawah Thailand. Untuk SEA Games kali ini, ada 2 poin yang jadi perhatian saya..

Pertama, urusan olahraga seperti ini pun, ndak lepas dari korupsi. Gaung SEA Games Jakarta-Palembang rasanya masih kalah oleh heboh korupsi wisma atlet yang melibatkan aktor-aktor ternama ibu kota. Entahlah, mungkin koruptor di negeri ini terlalu kreatif mencari celah mengambil uang negara yang seharusnya ndak diambil. Bahkan untuk satu-satunya kegiatan yang bisa membuat rakyat Indonesia lupa dengan semua masalah, bersemangat dan bersatu dalam jiwa dan raga Indonesia, mereka malah merusaknya dengan korupsi.

Kedua, tentang prestasi Indonesia di SEA Games. Seperti yang saya bilang, prestasi Indonesia belakangan ini turun banget. Ndak ada salahnya Indonesia memanfaatkan momen menjadi tuan rumah untuk merengkuh gelar juara umum lagi. Tapi yang jadi masalah adalah, niat menjadi juara itu rasanya sudah terlambat. Untuk apa sih kita menjadi juara dengan mengerahkan “pasukan” terbaik kita, sementara lawan yang datang cuma mengirimkan atlet-atlet juniornya?

Iya, negara sebelah seperti Thailand dan Malaysia malah “memagangkan” atlet-atlet mudanya di SEA Games. Mereka ndak mengincar juara sebagai prioritas utama, tapi pematangan skil dan mental atletnya untuk menghadapi ajang yang lebih bergengsi, Asian Games dan Olimpiade. Sementara kita masih berharap dari atlet-atlet papan atas yang kita punya. Secara ndak sadar, kita justru melatih dan membina atlet muda negara sebelah untuk menjadi atlet hebat di masa depan. Trus atlet muda kita, belajar di mana? PON cuma level nasional. Sementara kompetisi olahraga dalam negeri kita blum mumpuni untuk mencetak atlet muda yang berprestasi.

Jadi, saya rasa menjadi juara tetaplah penting. Cuma ya pembinaan jangan dilupakan. SEA Games adalah ajang paling tepat bagi atlet muda menimba ilmu, mendapatkan pengalaman dan mempelajari kemampuan musuh yang mungkin akan sering mereka hadapi di masa mendatang. Sementara untuk menghadapi koruptor kelas kakap yang saya bilang di poin pertama, saya harap polisi, jaksa dan komisi anti korupsi kita akan menurunkan “atlet-atlet” terbaiknya untuk menjadi juara!

Ayo! Indonesia bisa!!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

3 Responses to “Dilema SEA Games”


  1. @zizydmk

    Hmm…
    Mungkinkah sea games ini memang tak lepas dari politik juga?

  2. morishige

    malu2in banget sea games kali ini. mendulang banyak emas tanpa diimbangi dengan melakukan persiapan fasilitas dengan baik sama aja boong. penguasa yang di jakarta kayak katak dalam tempurung, biarlah dia dipuji rakyat sendiri meskipun cercaan datang dari luar. kalau udah kayak gitu gimana mau berkembang?

    harusnya begitu ngerti persiapan fasilitas sea games kacau, bahkan setelah acara dimulai ada yang belum jadi venuenya, menteri pemuda dan olahraga dengan besar hati mundur. karena memang sudah gagal, plus malu2in bangsa.

  3. imadewira

    Kalaupun akhirnya kita berhasil menjadi juara umum, sebaiknya jangan jumawa, karena itu faktor tuan rumah dan juga banyaknya atlet yang dikirim. Saya setuju dengan anda, pembinaan merupakan hal yang penting.

    Dan satu lagi, pemerintah harusnya bisa menjamin masa depan atlet-atlet khususnya yang berprestasi, jangan sampai masa tua mereka setelah pensiun jadi berantakan karena mereka sibuk “membela” negara di masa muda.