Apa Istimewanya Yogyakarta?
Belakangan ribut-ribut tentang keistimewaan Yogyakarta (juga disebut Yogya atau Jogja), banyak diberitakan. SBY yang selama ini berprinsip alon-alon asal klakson, kalau diterjemahkan secara sembarangan artinya biar lambat yang penting ribut (baca: kontroversi), menimbulkan perdebatan lagi. Bagi masyarakat Jogja, keistimewaan adalah mutlak. Sementara menurut SBY, seharusnya ndak ada keistimewaan dalam pemerintahan di Jogja. Saya ndak tau kenapa hal ini dipermasalahkan sekarang oleh SBY sehingga dia disebut sebagai orang yang lupa dengan sejarah. Tapi sebenarnya, anda tau ndak sih, apa istimewanya Jogja?
Untuk tau keistimewaan Jogja dalam kaitannya sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maupun dari segi politik, hukum, dll., anda lebih baik membacanya di blog atau halaman lain yang memiliki data atau sumber yang lebih akurat, bukan di sini. Apa yang akan saya tulis selanjutnya adalah keistimewaan Jogja di mata saya pribadi. Maka tentu saja penilaian istimewa di sini bersifat subyektif, berat sebelah, atau apalah namanya. Sebab, penilaian saya cuma didasarkan atas pengalaman saya pernah menetap beberapa tahun di Jogja.
Jogja istimewa karena: Pertama, punya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kasultanan ini menganut agama Islam, tapi ndak serta merta meninggalkan adat dan tradisi yang telah berlangsung lama di sana sebelum berasimilasi dengan agama Islam. Menurut saya, hal itu ndak mengurangi keislaman Sri Sultan Hamengkubuwono, sebagai raja. Kedua, Jogja punya universitas negeri tertua di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM). Tua bukan berarti kuno, karena sampai sekarang UGM masih mampu bersaing dengan universitas lain di Indonesia. Ketiga, Jogja (dan Jawa Tengah) punya Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi teraktif di dunia sekarang ini;
Keempat, Jogja memiliki sesuatu yang ndak terlihat, yaitu suasana yang selalu menarik perhatian saya dan mungkin hampir setiap orang yang pernah ke sana, untuk kembali pulang ke kota ini. Jogja memang ndak seramai Jakarta, ndak seheroik Surabaya, ndak juga seeksotik Bali, dsb. Jogja ndak sempurna, tapi dia punya suasana yang selalu saya rindukan. Kelima, Jogja itu baik. Makanya kata “yogya” sampai sekarang masih dipakai dalam bahasa persatuan kita untuk makna yang baik. “Seyogyanya”, masih lazim dipakai dengan makna yang sama dengan kata “sebaiknya”. Keduanya masih dipakai untuk sebuah penilaian yang baik.
Semoga, ribut-ribut keistimewaan Jogja ndak melebar ke mana-mana. Rakyat Jogja baru saja ditimpa musibah besar, jangan dulu pusingkan mereka dengan hal-hal semacam ini. Semoga SBY bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik dan (lebih) cepat.
This article has been Digiproved © 2010 Agung Pushandaka
Akhirnya ahli berbicara…
Bagi saya juga keistimewaan Jogja itu mutlak, dalam hal ini mutlak berarti nyata ada, secara de facto…, apalagi kemudian sudah didukung secara de jure. Nah, kok itu mau diungkit-ungkit
.
Agung Pushandaka Reply:
December 2nd, 2010 at 10:00 pm
@Cahya,
Ah, saya ini ahli apa. Tulisan saya cuma berdasarkan pengamatan pribadi kok. Mungkin banget dibantah.
Justru komentar anda lebih berdasar daripada tulisan saya.
Indonesia harus berterimakasih dengan Yogyakarta.
Agung Pushandaka Reply:
December 2nd, 2010 at 10:04 pm
Juga berterima kasih kepada daerah lainnya di seluruh Indonesia ya, kawan..
Kim Jeffrey Kurniawan yg pemain bola itu itu adiknya Jennifer Jasmin Kurniawan..
btw, saya baru nyadar tentang kata “seyogyanya” itu..
**malu
menurut saya pidato SBY kemarin juga tidak banyak memperbaiki situasi ya. bagaimana pendapat bli soal pidato itu? dalam arti, apakah pidato kemarin sudah menjadi mata air penyejuk di tengah situasi panas?
Agung Pushandaka Reply:
December 4th, 2010 at 6:56 pm
@indobrad,
Kalau boleh jujur, sebenarnya ndak ada kesalahan fatal dengan komentar SBY tentang monarki vs demokrasi. Memang sistem monarki cenderung ndak demokratis, walaupun kalau untuk kasus Jogja, ndak sepenuhnya benar juga. Sebab, Gubernur DIY walaupun ndak dipilih langsung oleh rakyat tapi masih bernuansa demokrasi karena ditetapkan oleh DPRD yang merupakan cerminan demokrasi karena posisinya sebagai wakil rakyat.
Kalau ditanya komentar saya tentang pidato SBY, sejujurnya saya blum pernah mendengar keistimewaan pidato SBY. Seringkali sudah bisa diprediksi sebelumnya. Hihi!
Di sini, di Jogja ini, saya menemukan orang yang semoga jadi jodoh saya, benar-benar istimewa menurut saya
Agung Pushandaka Reply:
December 4th, 2010 at 6:59 pm
@adin,
Kalau begitu nasib kita sama mas. Hehe! Ameeen.., semoga harapan anda terkabul.
He…he….he…. aku dibawah orang2 yang jantung hatinya ada di Jogja
mungkin ini masalah politik saja dan sengaja diserempetkan ke masalah monarki. Wallahualam…………
Bagi aku sendiri yang tidak ada sangkutpautan nya dengan Jogja tapi juga mengakui kalau DIY itu memang suatu yang istimewa. Dimana sebuah monarki masih legawa mengakui sebuah teritorial kesatuan wilayah NKRI. Malah monarki tersebut mendukung dengan segala daya upaya untuk menegakan NKRI. Malah prasangka burukku berbicara dengan kejadian ini, mungkin…. ini masih mungkin. Mungkin kader demokrat di Jogja banyak dan sudah minta diberi posisi strategis. Lha kalau masih sistem monarki gimana kader-kader yang sudah loyal pada demokrat mau dapat posisi empuk
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Agung Pushandaka Reply:
December 7th, 2010 at 12:21 pm
@Sugeng,
Saya juga memikirkan kemungkinan yang anda bilang. Ini cuma masalah politik, yaitu mencari celah untuk menempatkan “seseorang” di kursi gubernur. Hihi!
Saya ndak tahu istemewa-nya yogya dari sudut pandang pribadi, karena belum pernah kejogya.