Lindungi Bali..

Membaca berita utama di harian Radar Bali hari ini (11/10), benar-benar membuat saya prihatin. Berita berjudul RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) Bali Digugat, sudah jelas menunjukkan bahwa ada segelintir orang Bali yang sudah dibutakan oleh kibasan uang.  Bayangkan, Peraturan Daerah (Perda) yang disahkan untuk melindungi kesucian pura malah digugat oleh sekelompok masyarakat Bali sendiri. Alasannya, Perda ini menghalangi niat mereka untuk membangun akomodasi pariwisata  di sekitar pura. Gugatan ini diajukan oleh Forum Hukum Adat Masyarakat Pecatu. Memalukan!

Bisnis properti memang menjanjikan banyak uang bagi masyarakat Bali terutama yang memiliki tanah di sekitar obyek wisata terkenal. Ratusan juta bahkan miliaran rupiah bisa diperoleh dalam waktu singkat kalau bersedia menjual tanah mereka kepada investor — kebanyakan asing — untuk segera dibangun fasilitas akomodasi pariwisata seperti hotel, villa, restoran, dsb. Tapi, kibasan uang itu membutakan mata dan hati sebagian masyarakat Bali dan juga beberapa aparat pemerintah.

Mereka, para pemilik tanah, rela menjual tanah yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur dan orangtuanya cuma untuk mendapatkan uang sesaat yang ndak jelas penggunaannya di kemudian hari. Kalau saja semua orang Bali seperti itu, menjual tanahnya kepada investor asing — dengan bersembunyi di balik nama orang lokal — maka habislah tanah di Bali. Perjanjian-perjanjian di balik jual-beli tanah itu selalu mengarah kepada pemilikan tanah tersebut oleh orang asing sebagai pemilik modal dengan menguasai hak waris atas tanah itu.

Begitu juga dengan aparat di pemerintahan yang berwenang di masalah ini. Saya ndak tau bagaimana caranya, tapi beberapa bangunan bisa berdiri dengan nyamannya di atas tanah jalur hijau. Padahal, jalur hijau sudah jelas ndak boleh dibangun. Apakah itu artinya bangunan-bangunan di jalur hijau ndak ber-IMB (Ijin Mendirikan Bangunan)? Blum tentu lho! Bahkan di jalur hijau, IMB bisa diterbitkan. Apakah aparat pemerintah yang berwenang untuk menerbitkan IMB ndak memperhatikan hal itu, atau malah pura-pura ndak tau? Anda mungkin bisa menjawabnya.

Terakhir, Perda RTRW Bali yang melindungi kesucian pura dari jamahan uang investor malah digugat. Mereka yang menggugat benar-benar sudah ndak punya hati nurani untuk menjaga kesucian tempat ibadahnya sendiri. Di mana letak keunikan Bali, kalau nanti di sekitar Pura Uluwatu yang tersohor karena keindahan dan kesakralannya akan dikelilingi oleh hotel-hotel, villa-villa, atau bahkan mungkin cafe dan diskotik?

Saya harap, pemerintah Bali di bawah pimpinan gubernur, mati-matian mempertahankan perda ini. Sekalian juga, tolong ditinjau lagi lebih dalam bisnis properti yang berkembang di Bali agar mereka ndak cuma mencari keuntungan semata tanpa mempedulikan keunikan dan kekhasan daerah setempat. Lindungilah Bali di atas semua kepentingan dan keuntungan pribadi!

25 Responses to “Lindungi Bali..”


  1. fb

    Jangan sampe nanti tanah Bali dimiliki oleh oerang dari luar negeri.. Bisnis properti jangan sampai menghancurkan Bali.

  2. Gek

    Menyedihkan banget memang. Mereka harus sadar, bali cuma satu di dunia. Kalau semua mau diuangkan, Bali hilang siapa yang nanggung?

  3. imadewira

    setahu saya, sebagian besar tanah yang ada di Bali adalah tanah “laba” pura. Yaitu tanah yang ada dan seharusnya digunakan untuk kesejahteraan “penyungsung” pura. Tapi sayangnya banyak yang menjual tanah tersebut.

    Tetapi saya sendiri tidak bisa menyalahkan mereka yang menjual tanah/sawah. Contohnya keluarga saya sendiri, kami terpaksa menjual tanah sawah karena sawah sudah tidak menghasilkan apa-apa lagi. Lebih baik dijual dan dibelikan rumah di perumahan lalu dikontrakkan, itu jauh lebih menguntungkan.

    Jadi kita tidak bisa menyalahkan petani yang menjual sawah, seharusnya pemerintah bisa lebih mensejahterakan petani.

    Maaf, kalau agak melenceng dari topik.

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya ndak menyalahkan orang-orang yang menjual tananhnya. Tapi saya menyayangkan kalau tanah di Bali dijual semata-mata untuk kepentingan-kepentingan/bangunan-bangunan komersil yang menghilangkan kekhasan Bali, terutama lagi yang dekat dan dianggap mengganggu kesakralan pura.

    :)

  4. adin

    hmmm…sudah kelewatan berarti ya, udah pada buta ama yang namanya duit, semoga cuma sebagian aja yang seperti itu dan masih banyak yang g kaya’ gitu…

  5. Tamba Budiarsana

    Ahh..saya paling benci dengan hal-hal seperti ini. Kenapa mereka lebih mendukung dan berjingkrak-jingkrak jika di kawasan suci dibangun club, villa, dll. Bgaimana melindungi tananh kelahirannku yang hanya tinggal secuil ini dari orang-orang yg dibutakan uang. Sadarlah kalian..

  6. indobrad

    memprihatinkan juga ya. jangan sampai keleluasaan orang beribadah menjadi tergusur oleh kepentingan bisnis. Selamat berjuang, bli :D

  7. senny

    jangan sampai nantinya Bali jadi seperti Bandung

  8. Cahya

    Mas Pushandaka,
    Sepertinya yang seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Sebenarnya saya juga prihatin tidak hanya untuk tanah-tanah yang dekat dengan potensi di mana bisa dijadikan bisnis pariwisata, namun juga tanah-tanah yang tersebar secara acak yang masih bisa menjadi ruang/lahan hijau bagi Bali.

    Agung Pushandaka Reply:

    Betul Mas Cahya, semuanya memang sudah berlangsung lama. Tapi dengan adanya gugatan terhadap Perda RTRW ini, mereka yang ndak peduli dengan tananh dan tempat ibadahnya sendiri, semakin berani, terang-terangan dan tanpa malu menampilkan sisi matre mereka di atas segalanya.

  9. Abdul Hakim

    bukan hanya bali bli, jakarta pun demikian, harus diselamatkan… salah satu penyebab banjirnya jakarta adalah banyaknya perusahaan properti membangun apartemen,

  10. Didien®

    baca artikel ini bikin saya prihatin akuddd… :sad:

    salam, ^_^

  11. nissadwi

    sepertinya pulau Bali harus bener2 dilindungi. sama sekali ndak boleh diperjual belikan hanya untuk uang semata. pemerintah punya PR besar buat nanganin masalah ini. kalo saya orang jawa, apa yang harus saya lakukan ya?? any idea??

    Agung Pushandaka Reply:

    Tetaplah merasa berada “di rumah” saat anda di Bali. Sehingga anda akan selalu pengen menjaga Bali seperti anda menjaga rumah anda sendiri. Hal yang sama juga seharusnya dilakukan semua orang saat mengunjungi Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan tempat lain di Indonesia.

    Jadikan negeri ini rumah yang nyaman untuk diri kita sendiri, bukan semata-mata untuk orang asing tapi malah mengabaikan rasa nyaman kita sendiri.

  12. Yohan Wibisono

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

  13. Aldy

    Saatnya ada tindakan tegas dari aparat yang terkait mengenai masalah ini, karena kedepannya bukan hanya Bali yang mengalaminya tetapi juga merembet kedaerah lain. Bisa-bisa kebijakan yang dibuat di Bali di jadikan semacam yusriprudensi oleh kepala daerah yang lain :(

  14. Contoh Dari SBY at Blog Pushandaka

    […] Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Bali oleh masyarakat Pecatu. Seperti pada tulisan saya sebelumnya, Perda RTRW yang disahkan untuk menjaga kesucian pura dengan […]

  15. yunaelis

    hmmm., alasan mereka kan karena pajak tanahnya mahal bli..
    jadi sudah tidak produktif, pajak yang harus mereka bayar sangat tinggi..

    kadang pemerintah hanya bisa menerbitkan peraturan yang justru menimbulkan permasalahan baru tanpa solusi.

    sy termasuk yg tidak setuju dengan banyaknya dijual tanah2 di bali ini, di kantor sy banyak sekali (curhat!), setiap bulanna bisa ada transaksi sampe puluhan hektar. hmpf..
    kita dan jg mereka, butuh solusi dan aparat yang bersih. :)

    Agung Pushandaka Reply:

    @yunaelis,

    Iya, saya setelah menulis ini baru membaca alasan mereka di koran. Kita juga butuh pengacara dan notaris yang baik. Sebab, saya pernah bekerja selama 2 bulan di perusahaan property, dan cukup mengetahui cukup banyak akal yang ditawarkan untuk melindungi kepentingan investor (terutama yang asing).

    Seorang pengacara senior bilang ke saya, “Kenapa setiap ada orang asing yang pengen beli tanah di Bali selalu diarahkan untuk menggunakan nama penduduk lokal? Walaupun itu ndak melanggar peraturan mana pun, tapi itu sebuah penyelundupan hukum”

    Saya tanya, “Sebaiknya bagaimana?” Pengacara itu bilang, “Kalau ada bule bilang pengen beli tanah di Bali, bilang saja ndak bisa. Seperti itu jawaban yang harus mereka dapatkan, bahwa orang asing ndak bisa beli tanah di Bali”

    Koreksi saya kalau salah, Yun.. :)

    yunaelis Reply:

    @Agung Pushandaka, harusnya bisa diarahkan ke Hak Pakai saja. Yahh., ini memang penyelundupan hukum yang “lumrah”, bukan hanya masalah tanah saja, konon saham KS yang sedang naik daun sekarang ini banyak pemiliknya yang juga pake nominee alias hanya atas nama saja.

    cuma ya itu, sepertinya cara “itu” terlihat menggiurkan, terutama untuk si nominee, dan buat pengacaranya tentu saja.

    kadang, rasanya ‘sakit’ ya klo liat yang begini2. :(

    Agung Pushandaka Reply:

    @yunaelis,

    Kamu boleh percaya, boleh ndak. Alasan “sakit” itulah yang membuat saya memutuskan keluar dari perusahaan dan bisnis property itu.

    Saya ditertawakan oleh boss saya yang orang Amerika. Dia bilang, mau jujur di Indonesia? Mending mati saja! Hehe..

    yunaelis Reply:

    @Agung Pushandaka,

    pasti dilema benerr ya?! mgkn karena bli ngga berada di tempat yang tepat. andai bli ada di kantor pengacara/notaris, nanti akan tiba saatnya KITA (tsaaah!!) yang berada dalam sistem mengembalikan sistem ke jalan yang bener. *gayaaaaaaa*.. :D

    Agung Pushandaka Reply:

    @yunaelis,

    Wah, saya senang melihat seseorang yang penuh semangat seperti kamu. Tapi, sepertinya saya cuma akan mengandalkan kamu saja untuk mengembalikan sistem ini ke jalan yang ndak cuma benar, tapi juga baik.

    Kamu di Austrindo ya? Salam untuk Mas Kurnia kalau dia masih di sana. Dulu saya pernah belajar tentang due dilligence dari dia, waktu saya masih kerja di Sariasa Law Office. Salam juga untuk Melisa, itu pun kalau kamu kenal dia. Hehe! Dia anak Kenotariatan UGM. :)

    Salam hormat saya buat kamu, yang mau berbagi tentang ini. Soalnya saya ini cuma orang awam yang ndak fasih masalah property ini. :)

  16. yunaelis

    @Agung Pushandaka,

    hehehe, ampe ga bs komen lagi.
    whua., jgn sebut merk. :)

    baiklah, nanti disampaikan salamnya buat bli kurnia. klo mbak melisa, dia sedang cuti abis melahirkan.

    *uhuk! salam hormat? awam? seneng banget merendah begitu. nda segitunya bli agung, sy masih perlu (sangat) banyak belajar. termasuk salah satunya dr bli, pastinya.

    Agung Pushandaka Reply:

    @yunaelis,

    Hehe! Iya ya, sampai habis jatah “Balas”nya. Memang paling susah kalau diskusi sama lawyer, pasti jadi panjang. Hihi..

    Saya merendah? Ndak kok. Saya memang ndak terlalu mengerti hukum bidang ini. Di sinilah salah satu kegunaan blogging, bisa dapat masukan dan ilmu juga. Thanks ya Yuna.. :)