Ya Sudahlah, SBY..
Akhirnya, kemarin (1/9) SBY menyampaikan pidatonya mengenai hubungan RI-malaysia yang kembali menghangat karena sengketa perbatasan. Sejujurnya saya kecewa dengan pidatonya, karena cuma mengulang-ulang cerita yang sudah sering saya baca di koran belakangan ini. Instruksi darinya pun cuma berputar-putar di tempat yang sama, seperti penyelesaian secara diplomatis, mendorong malaysia untuk segera berunding, dsb., yang selalu disampaikan setiap malaysia berulah. SBY menolak untuk melakukan cara-cara keras apalagi menyatakan perang. Okelah, saya pribadi pun berharap sebisa mungkin jangan perang. Tapi jangan lagi kejadian yang sama terjadi berkali-kali.
Ndak berkata galak juga ndak apa-apa, tapi lebih sigaplah melindungi kepentingan negara kita di malaysia. Ndak perang pun ndak apa-apa, tapi tolonglah jangan sampai ada ratusan TKI yang divonis hukuman mati. Seharusnya, 1 TKI ditangkap pun, pemerintah sudah “belingsatan” bertindak karena hal itu kewajiban negara. Datangi tempat tahanan untuk menemui yang tertangkap, dampingi mereka sampai mereka bebas, sediakan jasa advokat terbaik untuk mereka, dsb.
Jangan cuma diam saja dan cenderung menyalahkan para TKI ilegal, kalau ada di antara mereka yang masuk penjara bahkan disiksa polisi/petugas imigrasi. Bagaimana pun, malaysia juga bersalah karena ndak mampu menutup pintu bagi masuknya para TKI ilegal. Kalaupun mereka harus ditangkap karena melanggar peraturan imigrasi malaysia, mereka harus tetap diperlakukan secara manusiawi.
Begitu juga untuk masalah-masalah di perbatasan. Mengingat masalah perbatasan dengan malaysia paling sering terjadi, tolong donk pengamanan di wilayah perbatasan RI-malaysia ditingkatkan atau jadi prioritas utama dibandingkan wilayah perbatasan dengan negara lainnya. Kalau perlu, pusat sistem pertahanan darat, laut dan udara dipindah ke Kalimantan untuk mempercepat pengambilan keputusan kalau ada kapal perang malaysia masuk ke wilayah NKRI. Beri juga kewenangan yang lebih besar kepada para komandan di lapangan untuk mengambil keputusan. Kalau semua komando harus menunggu dari Jakarta, penyelesaiannya jadi lama.
Satu hal lagi. Kalau SBY bisa bersikap demikian lembut kepada negara lain, tolonglah bersikap lebih lembut lagi kepada rakyat sendiri. Pemerintah seperti ndak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi kepentingan rakyat dari kenaikan harga, putusan pengadilan yang berat sebelah, bencana alam, dsb. Sebagai langkah awal, coba bela keinginan rakyat yang menolak pembangunan gedung baru DPR. Jangan cuma sopan terhadap malaysia, sementara sikap lancang pemerintah kepada rakyat — pemilik negeri ini — ndak pernah berhenti..
Ini permasalah yang cukup kompleks Bli Gung, kalau suara rakyat sudah tidak lagi didengar, bagaimana mau cukup peduli membela rakyat.
ummm… susah juga sih kalo udah urusan rakyat karena kan suara yang didengar bukan suara rakyat jelata, tapi rakyat yang kaya, makanya gimana bisa rakyat dibela kalau suaranya aja bahkan ga didengar?
Agung Pushandaka Reply:
September 2nd, 2010 at 1:28 pm
Nah, disitulah lemahnya SBY. Cuma berani sama yang jelata. Jangankan malaysia, sama Gayus yang PNS rendahan pun SBY blum tentu berani.
Aku enggak bisa ngebayangin apa lagi yg akan terjadi ya nanti tahun-tahun kedepan .. Apa negara nanti makin rusak atau makin baik..
Serba salah juga jadinya, khususnya bagi kenyamanan masyarakat di perbatasan. Seharusnya sudah ada ketegasan sikap terhadap pihak lain yang melanggar kedaulatan.
SEMOGA ada solusi yang terbaik.
kayaknya kalo cuma pengamanan daerah perbatasan yang ditingkatkan tu masih kurang bli, harus ditambah dengan pemerataan pembangunan dan ekonomi, kasian banget rakyat Indonesia yang ada di perbatasan, pada kesusahan, g ada listrik, jalan juga g mumpuni, dll, kalo mereka jadi pengen bergabung ma Malaysia karena kehidupan di sana lebih makmur baru deh sadar….permasalahan negri ini memang kompleks, dan harus segera diperbaiki, terutama yang penting orang2 yang berpengaruh harus dirombak dulu, biar dapet yang tegas, jujur, amanah, dll, jangan kayak sekarang ya, pengennya sih nulis yang baik2 soal anggota DPR, tapi apa daya, yang jelek mulu yang keliatan n heboh….turut prihatin bli…
capek klo lihat wilayah bangsa ini diserobot bangsa lain tanpa berani bertindak (TEGAS). Coba klo diserobot ama kaki lima…langsung ke TKP
cahyo Reply:
September 2nd, 2010 at 4:17 pm
adilkah bangsa ini sama rakyat sendiri…?????????
Agung Pushandaka Reply:
September 4th, 2010 at 1:42 pm
Like this!
kaya bukan jendral deh
ibarat orang tua yang pasti menyalahkan anaknya ketika anaknya berkelahi dengan anak orang lain, begitulah presiden kita.
kita sering mudah menghardik orang, namun itulah kekayaan berpendapat dan akan membuat pemimpin kita semakin cerdas.
pdahal masyarakat berharap lebih terhadap pidato SBY yang tentunya mencerminkan sikap Indonesia terhadap Malaysia, namun pidato pak Beye mlempem..
Entahlah Bli, saya tidak sempat menonton, lagian sudah malas duluan.
Dari dulu kebijakan luar negeri kita selalu seperti itu. Kapan ada perbaikan?
ya sudahlah, presiden kita emang gitu. kita tunggu aja saat tepat menggantinya di tahun 2014. hehe
eh blog themesnya baru ya? keren deh
Saya jadi ragu, apakah indonesia (SBY) memang cinta damai dengan pidato lembut seperti kemarin atau memang “takut” sama Malaysia??
Yang penting sekarang bagaimana supaya saudara2 kita diluar tidak sampai menanggung penderitaan sendiri. Kasihan mereka…
Memang jadi Presiden itu susah bliii…
jadi maklumilah beliau.
*bukannya membela, tapi negara ini terlalu carut marut, pusinkkkkk.
Agung Pushandaka Reply:
September 4th, 2010 at 10:37 am
Jadi presiden RI itu memang susah. SBY pasti sudah tau itu sebelum jadi calon presiden. Dulu Bung Karno dan Pak Harto malah lebih parah, jadi presiden saat negara ini porak-poranda. Seharusnya presiden RI itu adalah orang yang hebat, bukan seperti SBY. Dia lebih berbakat jadi pemain sinetron.
zee Reply:
September 6th, 2010 at 11:17 am
Menurut saya, SBY itu orang baik. Mungkin beliau tidak tepat jadi Presiden krn tidak ada orang baik yang sanggup jadi presiden.
Jadi presiden memang tidak mudah, semua orang menuntut ini itu, ini salah itu salah. Dan untuk case Malaysia ini, saya rasa pak SBY punya pendapat lain (termasuk dari para pembisik).
Saya yang penting positif thinking saya dulu.
Agung Pushandaka Reply:
September 6th, 2010 at 11:44 am
Mbak, di tulisan ini pun saya berusaha menghargai sikap SBY. Tapi, saya juga minta tolong diperbaiki kerja pemerintah selanjutnya dalam melindungi kepentingan negara di malaysia dan negara lain. Juga melindungi kepentingan rakyatnya di negara sendiri.
Cuma saya tetap ndak terlalu suka kalau alasan “jadi presiden itu susah” selalu diangkat jadi hal pembenar atau pemaaf. Semua orang pun tau susahnya jadi presiden. Oleh karena itu presiden diberi fasilitas dan hak khusus dan istimewa untuk melaksanakan pekerjaannya.
Ya sudahlah…
ini bulan puasa..
nggak perlu saya tambahin yang negatif negatif…
karena yang negatif sudah terlalu banyak…
susahnya jadi seorang presiden…
sikap SBY yang sopan mencerminkan bahwa dia adalah orang Indonesia
iya betul bgt
menurut saya SBY seolah-olah takut dan kurang tegas mas,,,,
sepertinya pidato pak beye ndak ada yang spesial