Tanah Air Beta??
Setelah sekian lama menolak untuk menonton film Indonesia di bioskop, kemarin saya dengan tulus dan suka cita pergi ke Empire XXI Jogja bersama Rini, pacar saya, untuk menonton film Tanah Air Beta. Sejak saya tonton Kick! Andy yang membicarakan tentang film ini, saya merasa film ini akan lebih meng-Indonesia. Iya, saya selalu merasa film-film Indonesia sebelumnya blum bisa melepaskan diri dari bau/aroma Hollywood. Baik itu dari jalan ceritanya, gaya percintaannya, dialognya, dsb., masih bercita rasa Hollywood. Nah, daripada saya menonton film yang berbau Hollywood, lebih baik saya menonton film bikinan Hollywood sekalian. Hehe..
Embel-embel inspired by true events membuat saya cukup yakin bahwa film Tanah Air Beta akan lepas dari bayang-bayang Hollywood. Apalagi di adegan pembuka, ada beberapa kibaran bendera Merah-Putih yang berusaha mengangkat lebih tinggi semangat ke-Indonesia-an penontonnya. Masih ditambah lagi dengan muka-muka kecut penduduk Timor-Timur yang harus mengungsi ke Timor-Barat karena propinsi itu “berhasil” melepaskan diri dari NKRI, yang seperti pengen mengingatkan bahwa banyak saudara sebangsa dan setanah air kita yang masih hidup dalam kesusahan. Tapi adegan berbau nasionalis cuma sampai di situ. Sejak Tatiana (Alexandra Gottardo) muncul di layar, cerita berubah menjadi kisah pribadinya yang berpisah dengan anak laki-lakinya.
Di pertengahan film, saya malah hampir lupa dengan tema nasionalisme dan kisah sedih Tatiana dan Merry (Griffit Patricia) yang merindukan putra dan kakak mereka, Mauro, dengan kehadiran tokoh pengocok perut, Carlo (Yehuda Rumbindi). Aktingnya yang nyaris sempurna, karena tampil natural banget, “membanting” 2 tokoh ibu-anak, Tatiana dan Merry, yang seharusnya jadi tokoh utama. Jujur, baru kemarin saya menontonnya, sekarang saya sudah pengen melihat lagi kekonyolan dan kenakalan Carlo. Hehe..
Di akhir cerita, ndak ada lagi kejutan yang bisa saya harapkan, kecuali 2 hal. Pertama, saya ndak menemukan semangat cinta tanah air di film ini. Rini, pacar saya berargumen, cinta tanah air diwujudkan dalam tema perpisahan itu. Bagaimana seorang ibu rela meninggalkan anaknya karena didasari rasa cintanya kepada NKRI. Tapi di mata saya, perpisahan itu ndak cukup menampilkan semangat nasionalisme/cinta tanah air. Kejutan kedua tentu saja saat di akhir film berkumandang lagu Indonesia Pusaka yang dinyanyikan dengan sangat syahdu. Lagu ini selalu membuat saya menangis setiap kali mendengarnya.
Akhirnya, secara umum saya puas dengan film ini, walaupun sejujurnya saya cuma puas dengan penampilan Carlo. Tapi kalaupun ada yang kurang, saya merasa judul Tanah Air Beta kurang terwakili dalam jalan ceritanya. Jadi, buat mbak Nia dan mas Ari, selamat untuk filmnya. Tapi, kenapa judulnya harus Tanah Air Beta??
Saya belum sempat menontonnya, tapi mungkin nanti Mas Agung
– kalau dari penuturan Mas Agung, rasanya film ini menarik juga.
argh, salah saya baca. Spoiler alert, haha.
iya sih, aku baca reviewnya di kompas katanya ceritanya agak kurang menggigit, justru yang menjadi plusnya adalah gambar2nya. Mengutip istilah dari kompas ” berbicara lewat gambar”.
saya suka dgn tipikal 2 sutradara Nia dan Ari yang lebih suka mengangkat film yg berbau ke Indonesiaan, film sebelumnya Denias jga bagus walau sulit bwt saya u/menikmatinya hihihihi…
wah saya belum nonton film itu mas, ada kopuannya g mas???he,,,he,,,,
duh, kapan ya bisa nonton ke bioskop lagi…
belum menonton mas filmnya..he..3x…tapi kayaknya sangat menarik ya…
berbicara tentang tanah air selalu menarik mas…
pengen nonton tapi lagi bokek….eh mas Agung, njenengan ki sebenernya di Jogja apa Bali? ato sama seperti saya? pindahan dari Bali?
Agung Pushandaka Reply:
June 25th, 2010 at 4:20 pm
Saya di Bali, tapi kemarin sedang ada urusan di Jogja. Hehe! Ngaten mas..
Btw, kok saya ndak bisa mengunjungi blog anda ya mas. Bandwith Limit Exceeded katanya..
adin Reply:
June 26th, 2010 at 3:02 am
Iya bli, mau nambahin Bandwidth tapi lagi g bokek, ya udah deh, sabar dulu seminggu ini, sambil ngurusin blog yang lain,hehe…
adin Reply:
June 26th, 2010 at 3:03 am
lagi bokek maksudnya, tadi salah ketik
wah,kalo ditulis sinopsisnya akan lebih asyik.
jadi penasaran ingin nonton sendiri…. kebelutaln besok sudah weekend ^^
pengen nonton sob..
tapi belum sempet..sempet ragu apakah bagus ya filmnya..
penasaran..jadinya
Resensi filmnya ini, cukup menggambarkan bagaimana semangat sineas menumbuhkan jiwa nasionalisme,cinta tanah air kita.
Saya sempat juga mendengar promosi iklannya di TV, tapi nonton film lengkapnya belum. Dari pemaparannya Bli Gung, sudah jelas ada nilai tambah film ini untuk mencintai tanah air.
wah saya belum nonton, tapi pernah baca juga di internet, banyak yg nanya kenapa judul filmnya nggak nyambung sama ceritanya.
mungkin tuh judul cuma untuk menarik mangsa aja bli, jujur aja saya baru sekali nonton di bioskop itupun gratisan…heheheh
aku seneng benere nonton pilm indo, soale lebih gampang di pahamin
wah boleh juga tuh infonya
kapan ya mo nonton itu film….
salam sukses….
Akhir ceritanya happy ending enggak?
Agung Pushandaka Reply:
June 26th, 2010 at 12:06 pm
Wah, kalau saya kasih tau ndak seru lagi donk ntar..
thanks review filmnya. bisa jadi input untuk mempertimbangkan mau nonton apa..?
salam kenal..
Kayaknya menarik nich..ada cdnya heee:)
Btw tanggal 4 Juni 2010 mau funbike di Renon nich, gimana kalau ketemu ?
Agung Pushandaka Reply:
June 26th, 2010 at 1:20 pm
4 Juli kan, maksudnya? Pagi atau sore?
Kalau pagi.., hm.., bangun di hari Minggu pagi adalah hal yang paling sulit saya lakukan. Hihi!
budiarnaya Reply:
June 26th, 2010 at 10:41 pm
Aduh maaf salah ketik bli 4 Juli 2010 maksudnya, pagi nich, saya bawa rombongan dari Jembrana 100 personil
sepertinya film ini cukup menarik, wajib ditonton ini
setelah membaca 2 reviw dari 2 blog saat BW jadi penasaran ceritanya kaya apa.
Wah jd pgen liat ne!
Saya ikut penasaran sama film ini..hehe..
Salam kenal Bli…
nice info..
salam kenal yaa..
ditunggu ya kunjungan baliknya…
thx kyu yahh..
Mudah-mudahan pilmnya gak dibajak and pd nonton gratis di youtube
semoga film ini tidak hanya cari hiburan dan informasi semata, melainkan pemerintah juga bisa melihat lebih nyata hidup rakyatnya disana