Ada Empati di Sekolah?
3 orang siswa SMPN 1 Karangdowo Klaten hilang tenggelam diseret arus air laut di Pantai Kuta. Waktu saya baca perkembangannya di koran Radar Bali edisi Rabu (30/6), ketiganya blum ditemukan. 2 siswa lain yang lebih beruntung bisa diselamatkan oleh penjaga pantai. Tapi bukan itu yang pengen saya bahas. Sebab, itu semua adalah musibah, ndak ada yang bisa menolaknya. Tapi, saya jadi mengernyitkan jidat waktu saya baca paragrap terakhir, bahwa pihak sekolah ternyata tetap melanjutkan jadwal rekreasi di Bali. Saya benar-benar kaget membacanya.
em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dl keadaan perasaan atau pikiran yg sama dng orang atau kelompok lain;
ber·em·pa·ti v melakukan (mempunyai) empati: apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, berarti ia sudah mampu ~
Saya walaupun bukan anggota keluarga yang kehilangan anak-anak yang tenggelam itu, merasa sedih melihat kenyataan itu. Sekolah yang seharusnya menjadi salah satu tempat bagi anak-anak kita untuk belajar menumbuhkan rasa empati di diri sendiri terhadap orang lain, malah memutuskan sesuatu yang menurut saya jauh dari rasa empati, rasa simpati, bahkan juga etika. Apakah pendidikan untuk hal semacam ini sudah ndak lagi di sekolah? Atau, kalau pun masih ada, apakah pendidikan itu cuma harus diajarkan di dalam kelas saja? Ndak bisakah pendidikan semacam itu juga diajarkan secara ndak langsung dalam kehidupan yang lebih nyata?
Saya ndak bisa membayangkan, apakah mereka (para guru dan murid yang masih hidup) masih bisa menikmati liburan mereka dengan hati senang dan riang di Bali, sementara pihak keluarga dari 3 siswa itu harus larut dalam rasa sedih dan khawatir menunggu kepulangan anak-anak mereka yang blum jelas nasibnya di lautan luas.
Ndak ada lagikah empati? Bahkan di sekolah sekali pun?
Update dari koran Radar Bali, Kamis (1/7):
Sementara itu, rombongan wisata SMP Negeri 1 Karangdewo, Klaten, Jawa Tengah, Selasa sore lalu (28/6) sudah berangkat menuju Klaten. Sedianya, meskipun terjadi musibah ini, jadwal wisata tidak berubah. Yakni baru tiba di Klaten pada Kamis hari ini (1/7). Namun ketua rombongan akhirnya berubah pikiran dan memutuskan untuk membatalkan agenda wisata.
Oh tuhan, sekolah yg mestinya jadi `keluarga kedua` malah nyuekin `anggota keluarganya` yg ditimpa musibah ? Sekolah edan.
Saya juga merasa prihatin dengan apa yang berlaku pada siswa2 yang mengalami musibah tersebut. Dan juga sangat disayangkan tidak adanya empati dari pihak sekolah dengan tetap bersikeras melanjutkan tour ke Bali. Bagaimana ya perasaan orang tua yang anaknya tertimpa musibah tsb?
barangkali pihak sekolah berprinsip the show must go on
walah, kasian keluarga yg ditinggalkan ya
salam persahablogan
Memang pada kenyataannya begitu, terlalu sibuk mengejar nilai yang menjadi prioritas dalam UAN, sehingga tujuan pendidikan yang mencerdaskan Bangsa yang berakhlak mulia terlepas ditelan Bimbel UAN
sikap yang kurang tepat, seharusnya sekolah kan bisa menjadi tempat untuk mendidik bukan cuma otak tapi juga moral…
ya sebetulnya sih, itu adalah salah satu kegagalan dari pihak sekolah karena anak2 yang terdidik tidak mnegikuti aturan yang berlaku di daerah (pantai) tersebut
ck-ck-ck-ck
itu para guru masih bisa senang2? wah, kelewatan!
Berarti masih perlunya pendidikan khusus budi pekerti ya bli Gung, sedini mungkin, untuk menumbuhkan sikap empati siswa.
Karena setiap orang telah sibuk mengejar prestasi dan prestise, jadi budaya simpati sepertinya perlu ditekankan kembali dalam kurikulum pendidikan sekolah, ya Bli Gung.
Mudah-mudahan esok hari ada tindakan nyata dari pihak sekolah..
Emapati memang lagi susah ditemukan nih.. Sedih
wah panitianya gak sensitif itu,
pada kemananya yang empatinya …. ?
Sedikit cerita nih, entah berkaitan atau tidak. Suatu saat saya main main di Pantai Baron yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal. Maksud hati ingin santai refreshing gitu.
Naas bagi saya, karena pada hari itu saya tidak jadi bisa menikmati refreshing. Pada saat itu terjadi kecelakaan laut yang menelan korban nyawa di pantai Baron.
Yahh, sebenarnya, yang lebih naas adalah anak remaja yang harus berakhir hidupnya karena keganasan gelombang.
jaman edan bro…
itu menyeramkan. masa setelah ada anak yang kena musibah, mereka masih bisa bersenang-senang? mungkin mereka pikir sayang biaya yang sudah dikeluarkan… tp tetep aja, rasanya kok ya tega gitu…
Bener mas,kalau tetep dilanjutin wisatanya,Sungguh Terrrlalu…
Kunjungan pertama saya di blog ini mas, salam kenal dulu biar afdol
saya tai pagi juga lihat reportasenya bli, sampai di sekolah disambuk isak tangis dan yang baru ditemukan tim sar baru satu
mang gak punya perasaan tuh guru dan temen murid mereka atau pihak sekolah wong ada bnecan kok malah lanjut rekreasi…
TuruT berduka cita, smg diterima disisinya. ,
Aduhhh saya ngikutin berita ini juga.
Sedih ya…
Siapa sih orang tua yang sanggup kehilangan anaknya dengan cara begitu.
Duh semoga orang tua diberi ketabahan ya..
salam kenal dari newbie
ketua rombongannya bagus itu karena akhirnya membatalkan wisata…
untung saja ketua rombongannya akhirnya sedikt “sadar ” dan membatalkan agenda wisatanya
Waduh, Klaten adalah kampung halaman saya. Sedih juga mendengar berita tersebut.
Untunglah, rombongan akhirnya pulang.
untunglah si ketua rombongan berubah pikiran ya
sungguh T.E.R.L.A.L.U
semoga tidak demikian utk sekolah lain….
salam, ^_^
duhh..saya jadi miris juga mendengarnya…..
hmmmmm…..semoga saja keluarga korban di kuatkan dan ikhlas amin
Sebagian besar dari kita, karena kerasnya hidup membuat kita kehilangan rasa empathy alias emang gue pikirin, elo ya urusan elo, gue ya urusan gue….:(
kalo kata orang jawa… SARAP! sekolah wong EDAN!
wuah parah banget itu sih pihak sekolahnya, memang gada rasa empati sama sekali yahh. semoga pihak kelurga yang menjadi korban di beri keihlasan dan ketabahan hati.
wah ini adalah yang sulit bos, empati vs liburan
oh ya salam kenal ya bos
sungguh sungguh terlalu sekali itu gan