Melindungi Si Kecil

Belakangan saya simak, Denpasar lagi heboh dengan kasus pemerkosaan terhadap anak-anak belia berusia siswa sekolah dasar. Bahkan, konon kabarnya perkosaan itu dilakukan secara berantai oleh seorang pelaku saja. Kebetulan sepulang kerja Jum’at (23/4) kemarin, di Trans 7 kasus ini diulas. Isinya, malah cuma menyalahkan pemerintah yang ndak tegas menegakkan hukum yang sudah dibuat. Oke, saya setuju pemerintah punya andil secara ndak langsung dengan kejadian ini. Tapi, apakah dengan menyalahkan pemerintah saja kemudian akan mengubah semua keadaan? Saya rasa ndak..

Pemerintah jelas salah menurut saya karena ndak bisa melindungi warga negaranya dengan peraturan/undang-undang yang tepat sasaran. Misalnya, untuk mengurangi kejahatan perkosaan, pemerintah malah heboh sendiri membuat UU Porno. Perempuan ndak boleh begini, ndak boleh begitu, dan sebagainya. Padahal pemerkosa melakukan kejahatan tanpa pandang bulu. Buktinya, perempuan berjilbab pun diperkosa kok. Artinya, UU itu sudah ndak tepat sasarannya untuk melindungi perempuan sebagai pihak yang paling mungkin menjadi korban.

Tapi, pemerintah ndak salah sendirian. Kita sebagai orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak itu lebih jelas lagi berandil atas jatuhnya korban perkosaan terhadap anak-anak. Pernah ndak kita sebagai orang dewasa berpikir bahwa anak-anak itu membutuhkan perlindungan kita, walaupun kita bukan keluarga kandungnya. Budaya melindungi anak-anak sudah ndak ada lagi di masyarakat kita, terutama di kota besar.

Dulu, waktu saya kecil, kalau saya melakukan kenakalan yang mungkin malah mengancam keselamatan saya sendiri, saya akan dimarahi oleh seorang dewasa yang malah ndak saya kenal. Orang itu memarahi saya karena dia perhatian dengan keselamatan saya. Misalnya, waktu saya bermain-main di pinggir jalan yang agak ramai, saya akan ditegur bahkan dimarahi agar bermain di tempat yang lebih aman. Sedangkan sekarang, di saat ada bocah SD kebut-kebutan dengan sepeda motor maticnya pun, ndak ada satu pun orang dewasa yang peduli untuk sekedar menegurnya. Itu membuktikan budaya peduli untuk melindungi anak-anak sudah jauh berkurang. Bahkan, pernah saya lihat di tivi beberapa orang dewasa dengan santainya mendampingi seorang balita perokok yang sedang diliput stasiun tivi. Apa yang ada di pikiran orang-orang dewasa itu?

Yang lebih parah lagi di jaman sekarang ini, punya anak adalah trend. Paling ndak itulah yang saya lihat. Kasarnya, menjadi orang tua muda dirasa terlihat keren di mata orang lain. Padahal mereka blum tentu bisa bertanggung jawab merawat dan melindungi anak-anaknya. Banyak ibu muda yang saya lihat (bahkan saya kenal), blum bisa meninggalkan kebiasaan nongkrong dengan teman-temannya dan meninggalkan anaknya bersama baby sitter/pembantu rumah tangga di rumah. Padahal bagaimana pun, suka ndak suka, kelahiran anak otomatis adalah kelahiran sebuah tanggung jawab yang lebih besar. Bahkan, ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di rumah tetangga karena dia mengadakan reuni dengan teman lamanya di sebuah klub malam. Hmmm…

Hal yang sama juga seharusnya berlaku kepada laki-laki yang sudah memutuskan untuk menikah dan mempunyai anak. Mereka harus mau mengurangi waktu bersenang-senang mereka dan menggantinya dengan waktu untuk bersama keluarga selepas jam kerja. Ada semacam kebiasaan di sebagian masyarakat kita yang memisahkan tugas antara suami dan istri. Suami sebagai kepala keluarga bertugas mencari nafkah sementara istri sebagai ibu rumah tangga mengurusi rumah dan anak. Seharusnya sudah ndak lagi pembagian tugas sekaku itu. Malah saya pernah kenal ada keluarga asing yang istrinya bekerja ke kantor sementara suaminya menjadi bapak rumah tangga, mengurusi rumah dan anaknya yang masih balita di rumah. Di mata saya, ndak ada yang salah dengan itu..

Bagaimana dengan guru di sekolah? Sejujurnya, saya ndak tau lagi bagaimana seorang guru jaman sekarang dalam memperlakukan anak didiknya. Maklum, saya sudah lama lepas dari bangku sekolah dasar dan menengah pertama. Tapi kalau saya lihat di media berita, yang sering terlihat adalah guru menganiaya murid. Bahkan, ada seorang guru yang mencabuli siswanya sendiri. Citra guru yang dapat digugu dan ditiru kok seperti ndak ada lagi kalau saya lihat di media berita. Walaupun saya tau ndak semua guru bercitra jelek seperti itu, tapi paling ndak berita-berita itu menunjukkan bahwa peran guru untuk melindungi anak didiknya cenderung berkurang.

Baiklah, hehe, sebelum tulisan saya jadi panjang lebar, saya lompat ke intinya saja. Bahwa, kasus ini ndak cukup dilimpahkan ke pemerintah saja. Blum lagi kualitas pemerintah kita sekarang yang cenderung repot mempertahankan kedudukan daripada melindungi rakyatnya. Kita semua juga punya andil, terutama kita yang dewasa. Kita cenderung ndak peduli lagi dengan keberadaan anak-anak itu.

Apalagi ini kasus perkosaan. Seberat apa pun hukuman yang ditimpakan kepada pelaku, ndak akan membebaskan si anak dari trauma kejahatan itu. Maka yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencegah biar ndak terjadi. Tema hari Kartini seharusnya diubah, bukan sekedar memperjuangkan emansipasi. Itu sudah jadul banget. Lebih baik tema Hari Kartini diganti menjadi bagaimana caranya agar Kartini muda-Kartini muda kita bisa tumbuh berkembang dengan sehat dan selamat.

Masa depan mereka di tangan kita semua..

34 Responses to “Melindungi Si Kecil”


  1. jiggow

    hah!
    nyalahin pemerintah, kuno!
    inget, lingkar terdalam dari suatu pergaulan adalah keluarga. dimana fungsi keluarga?
    dimana peranan media? bahkan sekarang media yang menjadi pembentuk opini publik di Indonesia juga ada andil kenapa pemerkosaan itu bisa terjadi (my own perspective).

    Jadi miris ngeliat media yang nyalahin pemerintah tapi ga ngeliat diri mereka sendiri. Gajah di pelupuk mata tak tampak
    .-= Tulisan terbaru jiggow di [blognya]: INACRAFT 2010, buah tangan darinya. =-.

  2. Melindungi Si Kecil at Blog Pushandaka | ujian paket b

    [...] More here: Melindungi Si Kecil at Blog Pushandaka [...]

  3. delia

    Iya benar2 miris melihat anak kecil yg jadi korban.. mereka akan trauma..

    Kebetulan diriku banyak adik kecil.. jd benar2 diawasi dan dicari sekolahan yg dekat.. trus selalu diwanti2 jgn percaya dgn orang yg baru kenal..yahh mudah2an gk terjadi apa2..

    Kalo pemerintah.. ehhhhhh.. gak bisa ngomong lg :sigh :
    .-= Tulisan terbaru delia di [blognya]: Mencoba Sekarang =-.

  4. TuSuda

    Kepedulian terhadap anak-anak menjadi tanggung jawab bersama dimulai dari anggota keluarga dan kerabatnya. Tamapknya karena tuntutan persaingan ekonomi dan gaya hidup modernisasi, semua itu mulai terlupakan.

  5. Cahya

    Wah…, saya orangnya tidak terbiasa marah-marah ee…, kalau sekali marah saya melihat diri saya mengerikan banget, ga mungkin rasanya tega buat marahin anak-anak…
    .-= Tulisan terbaru Cahya di [blognya]: Silk Road: Songs Along The Road and Times =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Untuk mengingatkan anak kan ndak mesti dengan cara memarahi. Menegurnya dengan lembut pun bisa kok. :)

  6. hakim

    iya bener tuh,perhatian orang dewasa terhadap anak2 berkurang,membatasi anak juga ga bagus apalagi membiarkan mereka

  7. firdaus

    klw mencari siapa yg salah, semua juga salah, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, kerabat, media ( dalam hal ini televisi yg lebih sering mengeksploitasi tentang anak, mereka menganggap seorang anak tidak perlu menutup aurat ). sekarang yg perlu dipikirkan adalah bagaimana biar kasus seperti ini tidak terulang lagi, semua perlu duduk bersama tanpa perlu saling menyalahkan, semua ini juga demi kepentingan bersama, orangtua mana yg tidak kuatir jika kasus seperti ini terus2an terjadi.
    .-= Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: saya tidak(belum) KAYA tapi saya BAHAGIA =-.

  8. antokoe

    semoga peristiwa ini cepat terungkap dan selesai. indikatornya kemarin tersiar sudah ada tersangka yang ditangkap, ayo pak polisi kamu pasti bisa…
    .-= Tulisan terbaru antokoe di [blognya]: Duaji yang Triji =-.

  9. khatulistiwa

    saya terkadang juga punya rasa takut yang teramat sangat..lantaran saya punya putri kecil..

    keluarga memang punya peran penting untuk bisa melindunginya..tapi tak harus dengan cara memarahinya
    .-= Tulisan terbaru khatulistiwa di [blognya]: Hari Bumi : Apa yang harus dilakukan ? =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Betul mas, memarahi bukan jalan terbaik. Apalagi mental anak-anak jaman sekarang ndak sekuat anak-anak jaman dulu. Anak sekarang kalau dimarahi malah mendendam bahkan ada yang sampai berniat untuk bunuh diri. Kalau anak dulu dimarahi, ya sudah ndak mengulangi lagi kesalahannya. Hehe.

    Tapi menurut saya, marah boleh dilakukan selama cara itu merupakan cara terakhir dan dilakukan secara adil dan proporsional. Marah toh ndak harus dilakukan dengan memaki apalagi memukul. Intinya, banyak cara untuk menegur dan melindungi mereka.

  10. agoenk70

    yahhh mungkin lebih peduli lagi buat menjaga anak-anak kita, klo bukan keluarga siapa lagi.

  11. budiastawa

    Benar sekali, bli Gung. Yang kita lakukan sekarang adalah antisipasi atau pencegahan, meningkatkan pengawasan thd anak-anak kita. Saya berharap supaya si pelaku cepat ditangkap dan diberi hukuman yang setimpal.
    .-= Tulisan terbaru budiastawa di [blognya]: Penjelasan tentang Nama Orang Bali =-.

  12. aldy

    Bli,
    Eksploitasi anak sudah merambah kemana-mana, tinggal selaku orang tua saja yang pintar-pintar menjadi putri kecilnya.

  13. elmoudy

    iya.. ngeri juga ya…
    kok ya banyak orang2 dewasa yang jahat.
    teganya memperkosa, menculik, membunuh, dllll..
    apakah mereka itu masih punya hati nurani? benarkah mereka sedsng sakit jiwa?? adakah yg salah dengan masyarakat kita?? gw gak habis mengerti saja…
    .-= Tulisan terbaru elmoudy di [blognya]: Ziarah Cinta 3 : Falsafah Kerinduan =-.

  14. walasa

    Kita uda kecolongan ni namanya Bli…pelaku itu berani “maling” di siang bolong…
    Ten abis pikir tiang…makin keweh gumi Baline, jeg nyeh tiyang, kejadian ne membuka peluang kejahatan lain berhubungan dengan keselamatan anak di bawah umur di Bali…pang de je ade Trafficking di Bali…jik ping…
    .-= Tulisan terbaru walasa di [blognya]: Deepest Hydrothermal Vents Photographed video =-.

  15. senny

    yang nyalahin pemerintah ini gue rasa terprovokasi sama media

  16. zee

    Opinimu tentang orang yang menganggap jadi orang tua adalah tren sungguh pedas. Tapi setelah aku pikir-2 lagi, well… itu benar. Sering saya lihat orang tua yang ke mall bawa-2 anak bayinya yang masih merah, mungkin mau “pamer”. Kemudian ada juga bapak2 muda yang pergi berdua anak balitanya biar terlihat keren di mata orang, karena dianggap bisa mengurus anak sendiri tanpa babysitter. Well, setelah aku pikir-2 lagi, itu benar sekali. Punya anak adalah trend, bukan karena merasa ingin punya anak, tp biar dianggap sempurna saja jadi manusia. Aku juga begitu, rasanya sempurna hidup ini setelah punya anak. Tapi rasa stress mengurus anak juga mengikuti karena takut anak jadi terbengkalai karena kita sibuk kerja. Ya Tuhan, jauh2kanlah orang-orang jahat itu dari keluarga kami. Amin…!

    zee Reply:

    Eips ada yang kurang. Buatku punya anak bukan trend, tapi itu kebutuhanku sebagai manusia. Tapi tren memamerkan anak, nah itu banyak. Untung aku gak begitu, normal2 saja :) .

    Agung Pushandaka Reply:

    Wah, saya sungguh ndak bermaksud untuk berkata pedas. Saya cuma melihat dan berusaha menyampaikan hal itu. Opini saya jelas terbuka banget untuk didebat karena opini itu cuma berdasarkan pengamatan terhadap beberapa orang tua muda yang pernah saya lihat. Terutama lagi yang dilakukan para selebritis yang seperti ndak pernah serius untuk menikah dan memiliki anak. Saya minta maaf kalau kata-kata saya terlalu pedas.

    Thanks for sharing, mbak.. :)

  17. adizone23

    sketsa pelak sudah disebar semoga cepat ditangkap dan dihukum seberat-beratnya….

    kenapa harus anak2 yang jadi korban ??? kabarnya pelaku ingin menguasai ilmu hitam, dasar bejat…

  18. dheelaa

    semua orang disekitar si kecil bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya, tapi dalam hal ini orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab jawab karena pendidikan non formal porsi paling besar ada di ortu

  19. Aulia

    kembali pada satu kalimat falsafah:
    menghormati yg lebih tua, menyayangi yang lebih kecil :D
    .-= Tulisan terbaru Aulia di [blognya]: Meng-online-kan Indonesia Sampai ke Pelosok Negeri =-.

  20. ismail

    orang yang tak punya otak tuh… perlu dicuci terus dibuang kesungai aja otak orang kaya’ gituoo..(pemerkosa anak kecil.

    Akhlak memang jadi masalah yang tidak dapat dianggap remeh mas.. makanya anak kecil perlu diajari moral supaya besarnya bisa jadi orang yang baik..

    salam kenal mas
    .-= Tulisan terbaru ismail di [blognya]: Ingin Tulisan Anda Memikat? Usir “Sang Editor” Dari Kepala Anda ! =-.

  21. achoey

    Ya, jadilah ORTU yang baik dan bijak
    Penuh kasih sayang

  22. imadewira

    seperti biasa, tulisan yang kritis dan menarik..

    sebagai orang tua (baru) tulisan ini perlu menjadi renungan untuk saya, makasi kawan
    .-= Tulisan terbaru imadewira di [blognya]: Konsistensi Menggunakan Istilah Bahasa Indonesia Dalam Blog =-.

  23. Gus Ikhwan

    salam sahabat, jadilah ortu yang bijak, izin bookmark iar ortu aku baca
    mampir balik ya sob

  24. adin

    Memang sih sekarang terasa lebih mudah menyalahkan orang lain saat sesuatu yang buruk sedang terjadi (terutama pemerintah), saya setuju banget ama mas Agung, perbaiki dari diri sendiri, g usah nyalahin siapa-siapa dulu..hehe..

  25. AeArc

    saya ga punya anak :D
    .-= Tulisan terbaru AeArc di [blognya]: eRepublik, Game berbasis web yang memacu Nasionalisme =-.

  26. dedi

    ayoo para ortu, para kakak yang punya adek mesti di jaga baek :D
    .-= Tulisan terbaru dedi di [blognya]: Blogspot Like =-.

  27. astiti

    saya mau curcol sedikit nih … :p
    Baru minggu lalu mama saya jujur, karena adanya kasus perkosaan anak kecil ini.
    Dulu saya pernah dipindah SD tanpa tau kenapa, ternyata waktu itu mama lihat laki-laki exhibitionist yang sering ada di depan sekolah. Mama waktu itu sudah lapor guru tapi ga ada tanggapan. Saya pun dipindahkan dari sekolah itu karena mama saya takut ada apa-apa.

    Faktanya, saya sudah beberapa kali lihat exhibitionist di depan SD. Well, karena saya juga korban, saya langsung buang muka dan melaju sepeda motor cepat2. Saya juga salah, harusnya saya lapor polisi untuk memantau sekolah itu. Tapi saya cuma mikir diri sendiri.

    Kita ga akan tau apa orang itu murni exhibitionist atau ternyata merangkap paedophilia. Nyatanya, mereka lolos dari pantauan yang berwajib (guru, polisi dan penjaga sekolah) dan dicuekkin oleh orang egois seperti saya.
    .-= Tulisan terbaru astiti di [blognya]: Jangan Murung, Perempuan =-.

  28. IBSN : Konsumsi roda dua « komuter jakarta raya

    [...] Selama ini rata-rata penggunaan bahan bakar roda dua millik komuter adalah lima liter perminggu. Berarti sekarang pegang ranjen tiga belas liter, alias cukup untuk dua minggu ke [...]

  29. Didien®

    berita pemerkosaan itu bikin saya ngeri uy…
    mudah²an semua pihak peduli akan keamanan di lingkungannya amin…
    maaf bru sempat berkunjung , akhir² ini sedang jauh dari internet…

    salam, ^_^
    .-= Tulisan terbaru Didien® di [blognya]: Pentingnya sebuah Networking =-.

  30. Bang Aswi

    Yang jelas semuanya harus bertanggungjawab pada hal apa pun yang terjadi di lingkungan sekitar. Jika kita melihat ketidakbiasaan tidak ada salahnya terlibat yang tidak sok tahu, alias bertindak bijaksana. Jangan sampai kita terlalu cuek sementara apa yang terjadi adalah penculikan atau apa pun.
    .-= Tulisan terbaru Bang Aswi di [blognya]: Dago Car Free Day 2010: Tunas-tunas Itu Pada Akhirnya Bermunculan Juga =-.