Kenapa Korupsi?
Setiap melihat berita tentang koruptor, saya sering berpikir, kenapa ya mereka berbuat seperti itu. Ndak takutkah mereka kalau apa yang mereka lakukan terbongkar di kemudian hari? Padahal kalau saya perhatikan, beberapa orang yang disangka korupsi berwajah seperti orang baik yang rasanya mustahil melakukan itu. Blum lagi mereka itu orang pintar (berpendidikan tinggi) dan konon orang yang taat beribadah. Tapi kok bisa berbuat seperti itu. Kenapa mereka bisa melakukan kejahatan ini?
Saya punya beberapa kemungkinan jawaban untuk pertanyaan saya sendiri tadi. Kalau Bang Napi di RCTI bilang, kejahatan bukan cuma karena ada niat dari pelakunya tapi juga karena ada kesempatan, maka dalam hal ini saya bisa menambahkan bahwa korupsi bukan cuma karena ada niat dari pelakunya dan ada kesempatan, tapi karena kendaktauan mereka tentang korupsi itu sendiri. Maka, mungkin inilah yang menjadi faktor pendukung kenapa seseorang sampai melakukan korupsi (dimulai dari kemungkinan terbesar):
1. Lingkungan kerja yang mendukung. Saya ambil contoh Gayus Tambunan (GT). Sehebat apa sih seseorang yang bergolongan rendah di kantornya sampai berani melakukan hal seperti itu? Maka muncullah dugaan bahwa GT berani melakukannya karena lingkungan kerjanya mendukung. Mungkin atasannya cenderung membiarkan atau ndak melarang dengan tegas. Atau mungkin, hal yang dilakukan GT dianggap lumrah di kantornya. Mungkin saja, kan? Poin ini memungkinkan munculnya istilah korupsi berjamaah.
2. Kendaktauan tentang korupsi itu sendiri. Beberapa kejadian menunjukkan bahwa korupsi terjadi karena dirasa bukan merupakan tindak pidana korupsi oleh pelakunya. Misalnya, saat anda “disemprit” polisi di jalan karena pelanggaran lalu lintas trus anda membayar sejumlah uang kepada polisi untuk membebaskan anda dari hukuman yang seharusnya, apakah anda sadar telah melakukan tindak pidana korupsi? Besar kemungkinan orang yang melakukannya ndak menyadari hal itu.
Begitu juga dengan pemberian hadiah. Sebagian orang mungkin ndak bermaksud untuk menyuap seseorang melalui hadiah yang diberikan. Seperti hadiah pernikahan, hadiah ulang tahun, dsb. KPK pernah menyita hadiah pernikahan yang diterima oleh putri Sri Sultan Hamengku Buwono X. Apakah hadiah-hadiah semacam itu merupakan bentuk dari korupsi? Blum ada kejelasan yang bisa dimengerti semua orang tentang itu. Lagipula, KPK ndak melakukan hal itu waktu SBY menikahkan anaknya, begitu juga waktu Aburizal Bakrie menikahkan putranya kemarin. Nah! Jadi semakin ndak jelas, kan?
Bahkan sampai sekarang saya merasa, hadiah yang diberikan (tentu saja dengan jumlah dan nilai yang sewajarnya) ndak bisa dikatakan sebagai bagian dari korupsi kalau si pemberi ndak mengharapkan imbalan/jasa apa-apa dari hadiah itu. Hadiah itu akan menjadi suap kalau melalui hadiah itu si pemberi mengharapkan agar si penerima hadiah (pejabat/aparat) melakukan sesuatu yang ndak seharusnya dilakukan. Itu baru suap namanya, kalau menurut pandangan saya pribadi.
3. Tawaran dari orang lain. Tawaran untuk berbuat jahat ada di mana-mana. Menurut saya, tawaran ini jadi salah satu faktor juga yang membuat seorang pejabat publik/PNS/aparat hukum dan pemerintahan lainnya tergerak untuk melakukan tindak pidana korupsi. Kalau dalam poin ini, pihak penggoda lebih aktif menekan dan membujuk si yang berwenang untuk memberikan bantuan di luar yang ditentukan hukum dan prosedur yang berlaku. Tapi, bukan berarti si tergoda ndak bisa disalahkan. Mereka tetap saja salah kalau menerima tawaran ndak halal itu. Intinya, kedua pihak bersalah.
Poin ini yang menurut saya memungkinkan menciptakan penegakan hukum yang tebang pilih. Biasanya seorang pejabat publik/pengusaha besar sulit tersentuh penegakan hukum karena mereka menawarkan sejumlah imbalan kepada aparat penegak hukum dengan syarat kejahatan yang mereka lakukan ndak akan diutak-atik oleh aparat. Maka kemudian, penegakan hukum cuma berlaku kepada mereka yang ndak bisa menawarkan apa-apa kepada aparat. Istilah kerennya ya, tebang pilih tadi.
4. Memang ada niat. Saya sih sebenarnya yakin, ndak banyak orang yang punya niat untuk mencuri, apalagi dalam jumlah besar seperti yang dilakukan koruptor. Makanya saya tempatkan kemungkinan ini sebagai kemungkinan terkecil. Tapi dalam beberapa kasus, saya menangkap kesan bahwa si koruptor adalah orang yang serakah. Keserakahan ini yang mendasari munculnya niat untuk korupsi. Koruptor yang seperti ini biasanya dimanfaatkan para penggoda di poin 3 tadi. Di poin ini, koruptor adalah orang yang paling aktif. Bahkan tanpa ada godaan dari pihak lain pun, mereka akan tetap korupsi.
Nah, itu dia akumulasi pemikiran saya setiap menonton berita korupsi selama ini. Kalau poin-poin yang saya pikir ini benar terjadi, maka semua orang — iya, termasuk anda juga — akan mungkin banget menjadi pelaku tindak pidana korupsi. Apalagi di poin ke-2. Banyak orang “terjebak” karena kendaktauannya.
Saya punya saran yang mudah untuk menghindari kejahatan ini, yaitu berkomunikasi. Berkomunikasilah sesering mungkin dengan keluarga, rekan kerja dan atasan (yang tentu kita percayai), dan pihak-pihak terkait. Soalnya, kalau sampai kita terjerembab di kejahatan ini, banyak pihak yang akan kena getahnya. Terutama pihak keluarga yang lebih sering berada di posisi ndak tau apa-apa tapi harus ikut menanggung malu. Tentu saja ndak adil untuk mereka. Mungkin dari cara kecil ini, kita semua bisa terhindar dari kejahatan ini.
Tentu saja pemikiran saya ini jauh dari valid dan ilmiah karena lebih banyak pendapat pribadi yang tentu terbuka banget untuk dibantah. Jadi, kalau anda punya bantahan atau masukan lain, monggo.. sampaikan di kolom komentar. Terima kasih.
Sejahteralah negeriku..
ada satu lagi.. dipaksa buat korupsi wkwkwkwk
Tulisan terbaru wahyu di [blognya]: Gusdur, Antara Humoris dan Mistis
Karakter orang tidak bisa diprediksi dengan mudah, walau banyak yang meneliti bagaimana karakter terbentuk, namun tetap saja ada sesuatu yang terasa nisbi di dalam semua teori itu…
Jadi ga bisa berkata-kata…
Agung Pushandaka Reply:
April 12th, 2010 at 11:49 AM
Seperti yang saya bilang, korupsi ndak melulu tentang karakter seseorang. Malah faktor di luar karakter jauh lebih berpengaruh. Seperti yang saya sebutkan di atas.
Sebab rasanya, ndak mungkin ada orang yang berkarakter koruptor. Hehe!
Menurut saya, faktor moral sangat berpengaruh. Seberapapun faktor-faktor yang mendukung, entah itu ada situasi, kondisi, lingkungan, kemungkinan tawaran,dsb. Tapi kalau memang moralnya baik dan jujur, teguh kukuh, harusnya tak tergoyahkan oleh apapun. He he he, ini cuman teori, pelaksanaannya pastinya sulit di jaman seperti ini. Tapi bukan mustahil untuk dilaksanakan kan?
Tulisan terbaru budiastawa di [blognya]: Posting Twitter Lewat Address Bar Firefox
Ada pameo mengatakan, selama kantong saku masih menghadap keatas, maka masalah korupsi sulit diberantas. Dominansi proteksi nilai internal individu itu sendiri terhadap pengaruh godaan invasi eksternal, sangat menentukan berbagai képutusan yg harus dilakukannya demi memenuhi keinginan dan kepentingan material tertentu.
saya sangat setuju dengan perkiraan anda bro, ada satu lagi, menurut saya budaya hidup gotong royong masyarakat Indonesia juga memiliki efek samping KKN. Menurut anda gimana?
Tulisan terbaru imadewira di [blognya]: Jalannya Balapan MotoGP Qatar 2010
Agung Pushandaka Reply:
April 13th, 2010 at 12:55 PM
Masuk akal juga pak dosen. Sekarang, gotong royong untuk membersihkan selokan sudah ndak ada lagi. Tapi malah gotong royong untuk bagi-bagi uang yang bukan miliknya. Hehe.
adanya kesempatan (seperti contohnya point 1 ) … merupakan hal yg paling mendominasi (menurutku ) mengapa korupsi ada…
kapan ya korupsi negeri ini bisa berkurang

Tulisan terbaru delia di [blognya]: Kupanggil dia Bude Yati
yg pasti korupsi itu krn ingin memperkaya diri sendiri..
ingin bahagia di atas penderitaan orang lain….
salam, ^_^
Tulisan terbaru Didien® di [blognya]: Arti sebuah kejujuran
kenapa korupsi? karena mereka para koruptor ingin menjadi penghuni abadi neraka jahanammm kelak…amin…
Tulisan terbaru Caride™ di [blognya]: Selamat datang jagoan kecil
Ingin sukses secara materi dalam waktu singkat bisa jadi pemicu tindakan korupsi juga mas agung, koruptor meniru keberhasilan orang lain dengan cara keliru
Tulisan terbaru Mamah Aline di [blognya]: Pulang ke Bandung
alasan di blog ini memang benar, dan sebagian sudah menjadi rahasia umum.Ya kebijakan yang setengah-setengah ,dan mungkin dari atasan merasa sah2 saja sehinga ada pembiaran di beberapa kasus.
Salam kenal
hukuman untuk para koruptor cocoknya, tiap 1 juta = 1 tahun penjara. tinggaL diakumuLasi aja deh berapa banyak dia korupsinya, jd yg pd korup sama aja ngegaLi kuburanya sendiri di daLam bui. hahaha..

Tulisan terbaru sapta di [blognya]: Mengingat Mati
itu masalah sistemik, maka semuanya harus diselesaikan secara sistemik…
banyak pemahaman yang musti diluruskan yang memicu mental korup di negara ini..
1. jabatan itu investasi bukan amanah
2. Pertanggungjawaban di hadapan presiden/MPR/BPK/KPK bukan di hadapan Allah
3. Semua bisa diselesaikan dengan uang bukan semua bisa diselesaikan dengan keyakinan dan kesungguhan
4. Hukum manusia bisa dibeli bukan hukum Allah tak bisa dikibuli
5. Korupsi itu biasa bukan korupsi itu dosa
ditambah pendukung sistemik lainnya…sistem pendidikan yang materialistik, sistem ekonimi yang kapitalistik, sistem pemerintahan yang oportunistik, sistem pergaulan yang hedonistik, sistem sanksi yang tidak tegas dan aturan yang sekularistik
maka itu semua sistem pendukungnya harus dibenahi se akar-akarnya, karena dengan sistem yang benar sesuai syariah akan memaksa pelaku mau tidak mau mengikuti sistem yang ada.
semoga indonesia bisa bebas dari koruptor…
forza inter.. haha.
kenapa korupsi?
rasa malunya lagi digadain….
Tulisan terbaru antokoe di [blognya]: Alangkah Lucunya
poin nomor 2 sering juga terjadi tuh mas…
dpt hadiah dr org diterima krn berlindung dibalik pengertian itu adlh hadiah.
“padahal, mana ada org mau kasih hadiah ke dia jika ia bukan dlm posisi seperti saat itu.”
salam interisti
Support Inter for treble winner
Tulisan terbaru ahmed fikreatif di [blognya]: Pilih Mana antara HASIL dan PROSES ???
respek deh sama orang yang peduli begini…
Tulisan terbaru mbah jiwo di [blognya]: Untuk Makhluk Yang Bergelar Ikhwan (Sekedar Copas Dari Sebuah Milis)
dimulai dari diri sendiri… kadang ketidakpuasan yang kita punya juga membuat kita mencari-cari kesempatan untuk korupsi. selalu bersyukur pasti mengurangi…
Tulisan terbaru kishandono di [blognya]: Beli Property Tanpa Uang Tanpa Ngutang
Mungkin tambahan satu lagi gung, karena nganggep itu hal yang biasa. Udah biasa kalo ditilang itu “damai” di jalan. Udah biasa ada uang pelicin supaya urusan jadi lancar. Udah biasa kalo “bantuin” dikasih “hadiah”. Dan banyak hal “udah biasa” lainnya. Dan karena udah biasa itu tindakannya dianggap sah-sah aja. Kita sering lupa two wrongs don’t make it right

Tulisan terbaru aprian di [blognya]: dan mimpi yang nyata
ahh salah, two wrongs don’t make a right

Tulisan terbaru aprian di [blognya]: dan mimpi yang nyata
kesempatan tukkorup zaman sekarang terbukalebar y..hmm
salam hangat dari blue
Tulisan terbaru dobleh yang malang di [blognya]: Dan kamu pun pergi, sas……………..
karena lingkungan
Tulisan terbaru julie di [blognya]: tak bisa menulis – part two
Saya lebih yakin pada poin 1 dan 4. Orang memang ada niat, jadi kemudian memilih untuk kerja di mana gitu, yang memungkinkan niatnya terlaksana. Parah memang negara kita ini.
waduhh blii, klo aja saya ndak inget kata mbok saya, klo hidup ini harus jujur, mungkin saya udah korupsi kali yahh.hehehheee
tapi klo korupsi waktu, jujur saya mengakuinya. klo ndak koorupsi waktu, gimana lagi saya bisa mensiasati deatline yang bertubi-tubi, hehehe
untung saja di tempat saya bekerja sangat tidak memungkinkan untuk melakukan korupsi, kecuali korupsi waktu
. andai ada kesempatan untuk korupsi mungkin saya juga gak akan jauh beda dengan gayus dkk ….. semoga saya selalu dihindarkan dari tempat kerja yg memungkinkan korupsi Amiin 

Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: Sejenak Melepaskan Penat
Jadi sekarang
Bikin alasan dan kesempatan korupsi itu hilang
Mulai dari diri kita kan
tapi apakah ada ya orang koruptor uangnya buat naik haji,
terkadang juga disaat mau KKN juga sering gotong royong
saya cuma mao ngomentari poin 3: orang yang menyuap dan disuap keduanya masuk neraka…
salam kenal mas..
Tulisan terbaru hakim di [blognya]: kado Pertamaku
Bli,
Sudah bli tulis diatas alasan kenapa korupsi, selain itu rasa mensyukuri nikmat dari Yang Maha Kuasa masih sangat rendah. Sehingga apapun yang diterima selalu kurang, orang yang tidak mudah (kalau tidak mau dikatakan tidak bisa ) menysukuri nikmat memang cenderung loba, sehingga untuk memenuhi rasa loba-nya itu melakukan korupsi merupakan jalan yang paling mudah ( exclude memikirkan resikonya ).
Tulisan terbaru Aldy di [blognya]: Ganda Manurung : Diduga Bunuh Diri.
Yang korupsi ga mikir ya, nasib dosanya gimana….
Menyedihkan….
Tulisan terbaru asop di [blognya]: Wanita dan Sebuah Rok
hukuman bagi para koruptor di Indonesia terlalu ringan, padahal sudah ada undang2 untuk menjerat para koruptor dengan hukuman yang maksimal, tapi sayang UU seakan selalu diabaikan oleh sang pengadil. jadi sampai kapan korupsi bisa hilang dari indonesia jika hukum tidak bisa memberikan efek jera bagi pelakunya
Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: saya tidak(belum) KAYA tapi saya BAHAGIA
hilangnya kesederhanaan membuat orang banyak menjadi rakus, dan akibatnya korupsi deh
Tulisan terbaru unksenna di [blognya]: The Mental Aspect of Tennis