Earth Hour versus Pemadaman Bergilir

Kemarin saya lihat di tivi tentang pelaksanaan Earth Hour (EH) di beberapa negara. Beberapa obyek wisata penting dunia memadamkan sebagian besar lampunya selama 60 menit, yang malah menjadi tontonan alternatif bagi pengunjung dan warga sekitar, pada 27 Maret. Konon kabarnya, pelaksanaan EH tahun ini lebih “gelap” dari tahun sebelumnya karena program ini mendapat sambutan lebih luas dari penduduk dunia. Di vivanews saya baca, beberapa obyek penting dunia yang ikut “memeriahkan” EH adalah Menara Eiffel, Big Ben, Colosseum, Sidney Opera House dan Forbidden City di Cina. Begitu juga Menara Pisa, Arc de Triomphe, stadion Amsterdam Arena, Buckingham Palace, dsb. Trus, bagaimana di Indonesia?

Di Jakarta, 170 gedung memadamkan lampunya yang diawali secara simbolis dari Taman Monas, kecuali puncak Tugu Monas harus tetap menyala karena merupakan simbol masih “hidupnya” Negara Kesatuan Republik Indonesia. Program ini telah membantu Jakarta menghemat listrik sebanyak 50 Megawatt (MW). PLN mengklaim telah terjadi penghematan sebesar 811 MW untuk wilayah Jawa Bali. Sekedar perbandingan, saat Hari Nyepi di Bali, listrik yang dihemat sebesar 450 MW yang kalau diuangkan sama dengan 5,5 miliar. Saya jadi membayangkan, berapa MW yang akan dihemat kalau EH diadakan sehari penuh seperti Nyepi. Hmm..

Tapi, perlu ndak sih program EH di Indonesia? Saya yakin, banyak kota di Indonesia yang “ndak peduli” dengan program ini. Walaupun saya ndak melihatnya langsung, tapi saya yakin Bandara Ngurah Rai Denpasar ndak mematikan lampunya seperti yang dilakukan Bandara Schiphol di Amsterdam. Dari Jogja pun, ndak ada kabar yang bilang Kesultanan Jogja melakukan seperti apa yang dilakukan Istana Buckingham. Rasanya, banyak lagi kota besar lainnya  di Indonesia yang ndak ikut serta melaksanakan program ini.

Trus, apakah itu artinya sebagian besar orang Indonesia ndak mau ikut serta mengurangi emisi karbon atau apalah itu namanya? Hmmm.., kalau di luar negeri bisa mematikan lampu selama 1 jam saja sudah disiarkan ke seluruh penjuru dunia, mereka seharusnya malu kalau melihat “perjuangan” masyarakat kita untuk menyelamatkan bumi. Masyarakat kita secara (ndak) sukarela, telah bersama-sama memadamkan lampu dalam program Pemadaman Bergilir PLN!! Memadamkan lampu selama 1 jam?? Ah, kita di Indonesia bisa melakukannya selama berjam-jam.

Jadi menurut saya, program EH yang digalakkan World Wildlife Fund (WWF) ndak ada apa-apanya di Indonesia. Maka menurut saya lagi, EH ndak perlu banget di Indonesia karena di sini sudah punya program sendiri untuk memadamkan lampu seperti yang saya bilang di atas. Malah saya lebih memilih program Pemadaman Bergilir PLN daripada EH. Saya rasa, seluruh masyarakat Indonesia pun lebih memilih program bikinan PLN ini daripada yang digagas WWF.

Sekarang bandingkan saja sendiri. EH cuma diadakan di beberapa titik saja di 4000 kota di dunia yang menyatakan ikut serta. Sementara Pemadaman Bergilir PLN diikuti lebih dari 400 kota di seluruh Indonesia yang memadamkan lampunya tanpa terkecuali. Mulai dari rumah pribadi, tempat umum bahkan sampai kantor pemerintahan. Kalau boleh saya bilang, EH cuma sekecil kotoran di kuku jari kelingking kita. Hehe!

Tapi bukan berarti saya juga mendukung sepenuhnya program PLN dan menolak EH. Semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kalau memang niatnya untuk kebaikan, harus dilakukan dengan sebaik-baiknya juga donk. Niat baik ndak akan berguna kalau dilaksanakan seadanya saja. Trus bagaimana dengan program PLN dan EH tadi?

Selama ini yang menjadi keluhan masyarakat kita adalah bahwa Pemadaman Bergilir dilakukan tanpa sosialisasi yang baik. Kalaupun ada pemberitahuan di koran lokal, pemadaman ndak sesuai jadwal dan lamanya pemadaman ndak ada yang tau. Ini jelas mengancam hajat hidup orang banyak. Kelemahan lain program PLN ini adalah Tarif Dasar Listrik (TDL) dinaikkan terus, padahal konon pemadaman dilakukan untuk penghematan. Ini tentu bertolak belakang dengan EH yang  cenderung ndak menimbulkan kerugian bagi pelaksananya.

Maka saran saya kalau Pemadaman Bergilir PLN dilaksanakan, sosialisasinya jangan kalah dengan EH. Kalau perlu, pakai juga selebriti kondang negeri ini untuk mengkampanyekan program Pemadaman Bergilir PLN dan ditayangkan di tivi. Program PLN ini rasanya cukup baik dilakukan selama 1 jam setiap 4 bulan sekali misalnya. Satu hal lain yang ndak kalah penting adalah kalau program ini “sukses” dilaksanakan, TDL ndak perlu lagi dinaikkan bahkan kalau perlu diturunkan.  Saya rasa masyarakat  akan dengan senang hati memilih listrik dipadamkan selama 1 jam dengan sosialisasi yang baik dan tepat waktu, daripada harus mendengar pengumuman bahwa TDL naik lagi, naik lagi.

Kalau sudah begitu, saya rasa semuanya akan ikut senang. Ya PLN, masyarakat, bahkan juga bumi. Earth Hour?? Ah.., nothing! Malah saya sarankan, negara lain juga melakukan pemadaman seperti yang dilakukan PLN. Itu lebih mantabs dibandingkan sekedar Earth Hour. Hihi!

Tapi sebagai makhluk sosial, ndak ada salahnya juga kita “hadir” untuk undangan hajatan yang diadakan WWF itu. Toh semuanya untuk kebaikan bumi dan umat manusia semuanya. Amen.

25 Responses to “Earth Hour versus Pemadaman Bergilir”


  1. Cahya

    Saya takut kalau sebenarnya promosi EH saat ini menghasilkan lebih banyak emosi karbon dibandingkan dengan penghematan yang diberikan :???:

    Tidak semua orang juga sadar di Indonesia ada kampanye ini.

    Btw, di Indonesia masih ada program yang jauh lebih keren daripada EH dan pemadaman listrik bergilir. Beberapa daerah pedalaman masih menerapkan penghidupan listrik bergilir, lha luar biasa kan hematnya :D
    .-= Tulisan terbaru Cahya di [blognya]: Kejutan Con Te Partirò =-.

  2. adin

    mungkin yang membuata orang Indonesia kurag peduli dengan EH g seperti orang luar tu y karena disini listrik bisa nyala itu yang semakin langka, bukan padamnya listrik, hehehe….setuju tuh, pemadaman bergilir emang bikin hemat, PLN nya yang hemat, tapi masyarakat penggunanya makin boros dengan dinaikkannya TDL…hehe…repot…

  3. wahyurez

    aku setuju banget! DENGAN PEMADAMAN BERGILIR KITA TELAH MENGHEMAT TRILIUNAN! behhh..kurang apa coba? earth hour cuma cetek kecil segede kuku aja haha
    .-= Tulisan terbaru wahyurez di [blognya]: Menulis, Bermanfaatkah? =-.

  4. imadewira

    tujuannya sama, yaitu penghematan, masalah mana yang mau kita ikuti itu terserah saja, yang penting benar2 dilakukan, mari mulai diri sendiri :-)
    .-= Tulisan terbaru imadewira di [blognya]: Hiatus Tanpa Rencana =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya sih mendukung keduanya. Tapi, kalau Earth Hour begitu dibangga-banggakan oleh penggagasnya, mereka harus melihat lagi di Indonesia. Bahwa memadamkan lampu selama 1 jam, sudah lumrah banget di Indonesia. Hehe!

  5. achoey

    EH itu indah
    Tapi kalo pemadaman bergilir bikin susah :)

  6. yobel

    haha.. kamu lucu juga menulis ini..
    Tapi antara EH dan Pemadaman PLN jelas memiliki perbedaan yang besar menurut saya..
    EH itu dilakukan dengan sukarela oleh yang menyatakan ikut serta, sedangkan pemadaman yang dilakukan oleh PLN diterima dengan terpaksa oleh masyarakat yang kena giliran pemadaman.
    walaupun kedua-duanya sama-sama penghematan tetapi memiliki nilai yang berbeda. jika EH semua yang melakukannya dengan senyum dan gembira, pemadaman PLN di terima dengan cemberut bahkan makian dari masyarakat. hehehe
    .-= Tulisan terbaru yobel di [blognya]: Key SMADAV Pro Gratis 8.1 =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Dimaki masyarakat karena pelaksanaan Pemadaman PLN banyak kelemahan seperti yang saya bilang di atas. Coba kalau kelemahan itu dikurangi bahkan kalau bisa dihilangkan, pasti ndak ada makian lagi dari masyarakat. Saya jamin! Hehe..

  7. TuSuda

    Sebenarnya untuk urusan penghematan, di dalam negeri lebih kreatif dan produktif daripada luarnegeri. Patut diakui urusan promotif mrk memang lebih aktif…

  8. morishige

    iya juga ya, masbro. secara nggak sadar kita sudah sering “mengalami” earth hour. bukan sejam saja malah, berjam-jam di malam hari sampai-sampai kulit ini ikut-ikutan kelam karena terlalu lama di gelap malam. :mrgreen:
    .-= Tulisan terbaru morishige di [blognya]: Rafting dan Saya =-.

  9. zee

    Kalau bicara penghematan memang kan tidak harus listrik kan ya. Dulu sering mati lampu, itu udah hemat banged kan hehee…. Mungkin lebih tepat dikatakan dikurangi saja daripada dimatikan. Saya gak akan mau matikan semua selama 1 jam. Gelap! Takut!

  10. ALRIS

    Saya mendukung Intermilan menang lawan CSKA, hehehe…
    Gak ada hubungan ama posting ya, Sengaja…

  11. hanif IM

    huehehe… kalau tinggal di luar jawa, akan terasa pemadaman itu lebih sering terjadi daripada nyuci sepeda motor deh. seminggu bisa 3x… durasi = suka-suka PLN, akibatnya = pembayaran listrik semakin naik, akhirnya = banyak yang maling kabel listrik dan nyolong tegangan. so solusinya? sudah banyak yg memberi solusi, di cari di google juga banyak. hehe,

  12. delia

    Kalo secara global EH itu emang bermanfaat banget..
    tapi kalo memngingat kondisi negara kita (PLN ) jadinya malah banyak yg mengeluh :(

    tapi buatku pribad tidak ada salahnya berpartisipasi ..
    hehehe :)
    .-= Tulisan terbaru delia di [blognya]: Harus Jujur dalam “TAG DARI SAHABAT” =-.

  13. mbah jiwo

    di desa, semua sudah menerapkan hal ini. kata mereka : irit
    .-= Tulisan terbaru mbah jiwo di [blognya]: Pesan Bisu =-.

  14. Reloadix

    Pemakaian Listrik bergilir spertinya itu jauh lebih hemat yaa..

  15. indratie

    saya ndak ikutan matiin listrik dirumah, saya malah asik nonton bola liga inggris, ya gmn mau matiin, masa baru nyala udah dimatiin lagi listriknya, hehehe

  16. Mamah Aline

    harus didukung, biar hanay seebntar kalo dilakukan jutaan rumah bisa berarti banyak
    .-= Tulisan terbaru Mamah Aline di [blognya]: Cahcum Cape =-.

  17. firdaus

    hahahahahhaa.. jadi inget menjelang jam nya earth hour listrik di rumah padam, akhirnya saya “dipaksa” oleh PLN untuk berpartisipasi dalam earth hour
    .-= Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: Para Penghuni Awal Istana Kelinciku =-.

  18. senny

    mungkin krn jadwal pemadamannya bentrok sama jadwal tayang sinetron jadinya banyak yang ga ikutan partisipasi
    .-= Tulisan terbaru senny di [blognya]: Talk About… (You Know What!) =-.

  19. diki

    salam kenal…

    niatnya yang penting om…hehehe….
    .-= Tulisan terbaru diki di [blognya]: Pintu Suraga Sumbar =-.

  20. komuter

    hidup pe el en
    *alahhhh
    .-= Tulisan terbaru komuter di [blognya]: Berbagi (di) jalan =-.

  21. ChotaNaChoty

    Hidoep PLN.. hidup pemadaman bergilir.. di tempat ku bisa berjam-jam lamanya saat ada pemadaman bergilir, paling cepat sekitar 5 jam.. bayangkan, secara gitu loh.. aq sih lebih mendukung EH aja deh, cuma 1 jam matinya.. dari pada PLN, yang berjam-jam itu.
    .-= Tulisan terbaru ChotaNaChoty di [blognya]: Kebagian Jatah PR 1 dari Google =-.

  22. Amy

    Hidoep PLN.. hidup pemadaman bergilir.. di tempat ku bisa berjam-jam lamanya saat ada pemadaman bergilir, paling cepat sekitar 5 jam.. bayangkan, secara gitu loh.. aq sih lebih mendukung EH aja deh, cuma 1 jam matinya.. dari pada PLN, yang berjam-jam itu.
    .-= Tulisan terbaru ChotaNaChoty di [blognya]: Kebagian Jatah PR 1 dari Google =-.

  23. Amy

    hahahahahhaa.. jadi inget menjelang jam nya earth hour listrik di rumah padam, akhirnya saya “dipaksa” oleh PLN untuk berpartisipasi dalam earth hour
    .-= Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: Para Penghuni Awal Istana Kelinciku =-.