Belajar (Lagi) tentang Kebebasan

Setelah menikmati liburan Nyepi di Jogja bersama Rini, sekarang saya sudah kembali ke realita. Salah satu kenyataan yang harus saya hadapi adalah blog saya yang ndak update seminggu. Hehe! Banyak ide yang terkumpul, tapi saya memilih satu topik ringan sebagai tulisan pemanasan setelah cukup lama libur menulis. Yaitu tentang status facebook seseorang yang membuat sebagian umat Hindu marah besar. Seorang bernama Ibnu menulis, “Nyepi sepi sehari kaya tai”.

Saya kira masalah ini akan berhenti dengan adanya permintaan maaf dari Ibnu, yang mukanya ndak lebih bagus daripada vokalis Kangen Band. Tapi ternyata, di koran kemarin, bahkan diberitakan sampai ada unjuk rasa untuk “melawan” Ibnu. Ndak apa-apalah, setiap orang punya caranya sendiri untuk melampiaskan kekecewaannya walaupun saya sedikit ndak setuju dengan unjuk rasa itu.

Saya rasa kejadian ini adalah salah satu efek dari dibukanya keran kebebasan di negeri ini. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap/rasa. Mulai dari status facebook seperti Ibnu, atau juga dengan berunjuk rasa. Semua jadi sah di jaman sekarang ini yang konon lebih terbuka dan lebih bebas. Tapi, sudah baikkah kebebasan yang berlaku di negeri ini?

Mulai dari saat jatuhnya Pak Harto dari kursi kepresidenan, rakyat Indonesia diajari tentang kebebasan. Bebas berbicara, bebas berserikat, bebas berekspresi, dsb. Tapi, pengajaran itu menurut saya salah. Rakyat yang sebagian besar masih awam tentang kebebasan langsung diajari ilmu kebebasan tingkat tinggi. Ibarat pendidikan formal, seharusnya pengajarannya bertahap mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, trus perguruan tinggi. Tapi untuk kebebasan, rakyat kita yang terkekang selama puluhan tahun harus mengenyam ilmu kebebasan tahap tinggi sejak awalnya.

Yang ada kemudian adalah yang seperti saya bilang di atas. Kasus Ibnu bukan yang pertama kali terjadi di negeri ini. Banyak banget belakangan ini, kasus hukum bertema pencemaran nama baik, penghinaan, dsb., yang dilatarbelakangi omongan seseorang. Saya melihat, orang cenderung memanfaatkan momen kebebasan berbicara untuk menyampaikan apa yang ndak disuka. Kritik sana-sini, hujat ini-itu, dan segala hal yang bernada ndak suka lebih sering terdengar belakangan ini. Tapi rasanya ndak banyak memanfaatkan kebebasan berbicara/berekspresi untuk menyampaikan pujian, kekaguman untuk sebuah prestasi. Apa ini yang dimaui oleh penggagas kebebasan berbicara/berekspresi?

Saya menyadari bahwa kebebasan adalah hak asasi. Tapi, hak asasi bukan cuma milik sebagian orang. Setiap orang memiliki hak asasi. Hak yang dimiliki orang lain seharusnya menjadi kewajiban untuk kita. Tapi sayangnya, sekarang saya lihat orang-orang cuma lebih ingat haknya saja. Begitu juga mungkin si Ibnu, yang merasa berhak menyampaikan kekesalannya di facebook. Tapi dia lupa, bahwa ada kewajiban yang selalu menempel pada haknya.

Mereka yang mengaku pejuang hak asasi, saya rasa malah sering lupa dengan hak orang lain. Misalnya, mahasiswa di Makassar yang marah karena sekretariatnya dirusak polisi. Mereka menilai polisi melanggar hak asasi para mahasiswa. Tapi apakah mahasiswa menghargai hak asasi orang lain saat melakukan demonstrasi rusuh yang merusak fasilitas umum yang dibangun dari pajak? Aneh kan?

Sebaiknya kita semua belajar lagi tentang kebebasan (juga hak asasi manusia). Bagaimana caranya memanfaatkan hak yang kita miliki dengan cara yang beradab. Pun juga bagaimana caranya menghormati hak yang dimiliki orang lain, termasuk juga menyikapi seseorang yang mungkin kelewatan memanfaatkan haknya. Sebaiknya juga, mereka yang mengaku pintar dan cerdas di sana, mengajarkan kepada kita semua dengan contoh nyata.

Saya percaya, ndak ada satupun hak yang absolut di dunia ini. Semuanya secara otomatis terbatasi dengan kewajiban (hak orang lain) ibarat sekeping koin yang selalu punya 2 sisi.

Bebas ndak harus bablas..

24 Responses to “Belajar (Lagi) tentang Kebebasan”


  1. Abula

    semoga saya dan kita semua dapat menganbil pelajaran dari peristiwa-peristiwa seperti ini …

    Salam Hangat Selalu

  2. Cahya

    Jika orang memiliki kebebasan, ia tidak akan tunduk pada emosi…
    Jika orang mencintai kebebasan, ia tidak akan terkurung dalam penjara amarah…
    Jadi apakah kita memiliki kebebasan…?
    .-= Cahya´s last blog ..Bhyllabus on Silent World =-.

  3. morishige

    hm.. keknya sebelum seseorang diperbolehkan mengakses internet, harus diberikan pemahaman dulu jika apapun yang ditulisnya di internet bisa dibaca oleh semua orang dari seluruh indonesia. dan seluruh dunia bahkan. :mrgreen:

    kebebasan sih boleh2 saja dijunjung tinggi. tapi kita tetap harus ingat jika kita hidup di timur. kawasan yang masih menjunjung tinggi norma kesopanan. termasuk kesopanan berbicara. :D
    .-= morishige´s last blog ..Film: Im Juli (2000) =-.

  4. dedi

    jangan terlalu bebas :)
    .-= dedi´s last blog ..Pantai Terindah Bali =-.

  5. Kika

    Bahkan di hutan pun tak ada kebebasan. Bebas itu absurd.

  6. julie

    astaga aku baru tau tentang si ibnu itu
    mudahmudahan tak jadi masalah yang lebih besar
    harusnya kita saling menghormati ya kan mas?
    .-= julie´s last blog ..detensi selasa dan pertemuan bertiga =-.

  7. kezedot

    jadilah u sendiri bang
    dan aku akan bisa menikmatinya
    salam dalam kehangatannya aku
    .-= kezedot´s last blog ..Nasi uduk sambel kacang, telur balado dan bakwan goreng………… =-.

  8. zee

    Analisa yang tepat. Masyarakat kita belum siap dgn yang namanya “kebebasan” sehingga bablas tanpa sempat belajar dulu mana yg seharusnya boleh dan mana yang tidak boleh. Bagaimanapun hidup memang tidak semudah itu, dan saya pikir memang harus ada pembelajaran nyata kayak begini baru orang2 kayak ibnu bisa sadar.

  9. OpenIdea

    salaman…. kenalan :D
    .-= OpenIdea´s last blog ..Hasil Chained Writing di Facebook # 2 =-.

  10. Dian

    Hogh pd kebablasan yak…Yg nuntut kebablasan, yg ngeluarin pendapat juga. Eh tp aku kok lebih sebel ama yg suka nuntut pencemaran nama baek yak….

    Agung Pushandaka Reply:

    Banyaknya orang yang melaporkan pencemaran nama baik seperti yang anda bilang juga salah satu bukti bahwa sebagian besar orang ndak siap dengan kebebasan itu. Makanya saya bilang, semua orang harus belajar lagi. Biar kita bisa tetap bebas bicara sekaligus bisa bersikap bijak kalau mendengar omongan orang yang menurut kita sudah kelewatan.

  11. Deddy

    Saya tetep berpegang pada “Kebebasan yang bertanggung jawab”. Itu saja…
    .-= Deddy´s last blog ..Antara Idealisme dan Materialisme Blog =-.

  12. TuSuda

    Ketika kran kebebasan berpendapat dibuka lebar, semestinya saat itu juga yang bersangkutan memiliki tombol pengendali diri yang empatik untuk menghargai keadaan orang lain sesuai dengan etika moral yang berlaku dalam masyarakat umum.
    .-= TuSuda´s last blog ..UPAYA INOVATIF MENGANTISIPASI DAMPAK PEMANASAN GLOBAL =-.

  13. Puskel

    Iya, Setiap kebebasan pasti mempunyai risiko yang harus dihadapi dengan sikap yang lebih bertanggung jawab.
    Salam Kenal dari Kendari, Sultra.
    .-= Puskel´s last blog ..5 AGENDA RAKOR PROGRAM KELUARGA BERENCANA =-.

  14. julie

    mas agung gak ngganggu koq
    hehehhee

  15. indratie

    itulah sedikit contoh dari kebebasan yang kebablasan. bangsa ini dan seisinya (tanpa terkecuali saya) masih terlalu hijau untuk mengerti apa itu kebebasan, apa itu hak asasi dan blablabla. klo seperti yang nampak di tipi tipi sekarang, terkesan jika lebih mudah mengkritik bahkan hampir menuduh dari pada bercermin. inilah demokrasi yang masih harus banyak belajar.
    postingan yang bagus bli, hahahhaa… mpe meres keringet saya bacanya.hihihiii :D

  16. kedai opini

    pentingnya kebebasan yang terarah. jangan sampai asal bebas jadi tak punya arah terombang-ambing kepentingan kelompok/pribadi

    mampir ke blog kami
    .-= kedai opini´s last blog ..Reasons to Use Facebook for Business =-.

  17. Caride™

    seyogyanya kebebasan itu di gunakan secara proporsional dan bertanggung jawab..
    kasus Ibnu harus menjadi pelajaran kita semua yg menganut azas demokrasi dan kebebasan.
    Mudah²an kasus ini menjadi yg terakhir, kita harus memumupuk rasa saling menghargai dan menghormati..
    bukan begitu kawan?
    .-= Caride™´s last blog ..Bungkus (Bingung Kasus) =-.

  18. Didien®

    Mudah²an kasus Ibnu bisa menjadi cerminan kita semua, agar tetap menghormati saudara² kita tanpa melihat suku, agama, ekonomi dan lain sebagainya..
    Kita pupuk rasa persaudaraan kita lebih erat demi terciptanya Indonesia yg bersatu padu..*halah jadi PPKn gini*

    salam, ^_^
    .-= Didien®´s last blog ..Tujuan ngeblog? =-.

  19. macangadungan

    setuju sama postingannya. krn pada dasarnya hak asasi manusia bukannya tidak tak terbatas, melainkan dibatasi oleh hak asasi manusia lainnya.
    .-= macangadungan´s last blog ..Protected: Kita =-.

  20. ian

    hak asasi manusia untuk bebas, tapi bukan berarti untuk disalahgunakan ;)
    .-= ian´s last blog ..3 Hari untuk… =-.

  21. sauskecap

    kebebasan jadi sering salah diartikan, kebebasan berpendapat bukan berarti kita bebas mencemarkan nama baik, bebas berbicara bukan berarti kita bebas berbicara kasar, bebas bertindak bukan berarti kita bebas untuk bertindak anarki….
    .-= sauskecap´s last blog ..Chocolatier, Bermain Sebagai Ahli Cokelat =-.

  22. pakwo

    salam bahagia, saya setuju,memang tidak layak kita menggunakan hak kita secara mutlah tanpa memperhatikan hak orang lain. Karena kia diberikan hak yang sama oleh Sang Pencipta.
    .-= pakwo´s last blog ..Completed the Term Paper on Time =-.

  23. imadewira

    kebebasan harus tetap menghormati kebebasan orang lain, bebas sih boleh tapi jangan sampai menyinggung orang lain :-)
    .-= Tulisan terbaru imadewira di [blognya]: Hiatus Tanpa Rencana =-.