Tentang Sepeda Motor Saya

by Agung Pushandaka

Mungkin anda akan mengatai saya aneh. Tapi beberapa kali dalam suatu perjalanan bersepada motor sendirian, saya melakukannya sambil (seperti) berbicara dengan seseorang, tapi ndak sampai terdengar oleh orang lain. Bukan melalui handphone yang diselipkan di dalam helm, seperti yang sering dilakukan beberapa orang di Bali. Tapi saya mengobrol dengan sepeda motor saya. Apa yang kami obrolkan, anda ndak akan mengerti sebab cuma saya yang bisa “mendengar” dan mengerti apa yang dikatakan oleh sepeda motor saya. Hehe!

Saya dihadiahi sepeda motor oleh orang tua saya waktu saya sukses menembus Universitas Gadjah Mada pada tahun 1998. Sebenarnya, waktu itu saya sudah punya sepeda motor yang saya gunakan untuk pergi ke sekolah. Semasa SMU saya punya sepeda motor Yamaha F1-Z yang dibeli tahun 1996. Tapi kemudian karena pertimbangan ekonomi (biaya perawatan yang lebih murah dibandingkan dengan Yamaha), saya dibelikan sebuah sepeda motor baru, Honda Grand produksi terbaru waktu itu (1998). Hehe..

Begitu tiba di dealernya saya langsung menduduki sebuah sepeda motor sesuai tipe yang saya pilih. Waktu itu, sambil menyentuhnya, saya bilang, “Hai motor, saya pilih kamu untuk membantu saya selama saya kuliah di Jogja nanti. Saya harap kamu bersedia”. Waktu itu kejadiannya sekitar bulan April 1998.

Karena sudah menjadi pilihan saya, maka ndak ada penyesalan waktu belakangan saya tau bahwa ada cacat tersembunyi yang saya ketaui selanjutnya. Waktu itu jarum penunjuk tanki bensinnya ndak bekerja sempurna. Diisi penuh, jarumnya cuma naik sampai setengah saja. Tapi ndak apa-apa, karena dia adalah pilihan saya. Akhirnya, untuk memudahkan memanggilnya, saya memberinya nick name, Boy (Walaupun kata teman, seharusnya saya memberinya nama perempuan karena sepeda motor tipe ini adalah sepeda motor untuk perempuan. Seperti itulah pendapatnya, tapi saya ndak peduli).

Saya semakin yakin dengan pilihan saya ini, sewaktu Boy berhasil kembali ke kekuasaan saya setelah sempat dilarikan maling waktu di Jogja. Malam itu, saya bermain playstation di sebuah rental. Boy saya parkir di luar. Setelah bermain 2 jam penuh, saya keluar hendak pulang untuk mengepak pakaian dan oleh-oleh yang akan saya bawa pulang ke Bali keesokan harinya. Tapi lacur, Boy sudah ndak ada di tempatnya lagi. Boy raib dilarikan orang ndak bertanggung jawab. Waktu itu saya dan Boy baru bersama selama 6 bulan saja.

Karena ndak mungkin membatalkan kepulangan ke Bali, maka saya tetap pulang dengan perasaan gundah. Orang tua saya bilang, pasrahkan saja. Apalagi ternyata aji (bapak) saya sudah mendapat firasat sebelumnya bahwa akan terjadi kehilangan yang cukup besar. Sampai di Bali setelah menempuh perjalanan dengan bus Safari Darma Raya, saya cuma  bisa  menikmati kekecewaan saya karena kehilangan itu.

Tapi, inilah yang membuat saya semakin yakin dengan pilihan saya. 3 hari setelah kehilangan, seorang teman di Jogja menelpon saya. “Gung, sepeda motormu ditemukan. Sekarang ditahan di Mapolres Sleman”

Saya rela membatalkan liburan 2 minggu di Bali untuk segera kembali ke Jogja. Senangnya saya waktu bisa kembali melihatnya, walaupun dengan kondisi yang cukup menyedihkan. Kaca spionnya raib. Lubang kunci starternya pun rusak karena dijebol paksa oleh malingnya. Saya bertanya kepada pak polisi, “Malingnya di mana pak?”

“Malingnya ndak ketemu dik. Motor adik ini ditemukan oleh peronda di Kayen (sekitar Jalan Kaliurang km 7) dalam keadaan mogok di pinggir sawah. Peronda curiga karena motor adik ini dalam kondisi sadel (tempat duduk) terbuka. Malingnya kehabisan bensin” ujar pak polisi. Saya waktu itu memang sengaja ndak mengisi bensin penuh karena saya pikir Boy akan saya tinggalkan ke Bali selama 2 minggu.

“Kenapa peronda ndak menunggu malingnya kembali?” tanya saya penasaran. “Peronda sudah menunggu kemungkinan itu. Mereka bersembunyi ndak jauh dari posisi motor adik. Tapi sampai berjam-jam maling itu ndak datang lagi. Apalagi cuaca memburuk karena hujan. Maka mereka melaporkan motor adik kepada petugas patroli kami” jawab pak polisi lagi. Sudahlah, saya ndak butuh bertemu malingnya. Akhirnya, setelah “menebus” sebesar 500 ribu (sebenarnya saya berhadapan dengan polisi atau penculik ya, kok pakai tebusan segala, hehe..), Boy kembali dalam kekuasaan saya. Saya perbaiki semua kerusakannya, begitu juga bagian-bagiannya yang hilang. Waktu itu sekitar bulan Desember 1998

Believe it or not, saya merasa semakin dekat dengannya, dan Boy pun seperti mengerti banget apa yang saya mau. Pernah suatu kali pada posisi jauh dari kos di malam hari, si Boy ngadat. Dia ndak mau menyala lagi. Saya ndak tau di mana masalahnya, tapi saya pikir akan melelahkan banget kalau saya pulang ke kos dengan menuntunnya. Saya coba lihat isi tanki bensinnya. Ternyata masih ada bensinnya. Tapi kemudian saya melihat sticker dari bengkel Honda di balik sadel. Sticker itu adalah catatan kapan terakhir saya melakukan servis, dan ternyata sudah berbulan-bulan lamanya saya ndak membawa Boy ke bengkel.

Akhirnya saya jongkok di sebelah Boy. Saya berbisik, “Saya minta maaf. Tolong, jangan mogok malam ini. Mogoklah besok pagi saja, biar saya membawamu ke bengkel dengan menuntunmu. Saya butuh pulang ke kos secepatnya malam ini”

Sekali lagi, believe it or not, Boy sukses saya nyalakan seperti tanpa ada masalah, dan saya kembali ke kos dengan selamat. Keesokan harinya, Boy sama sekali ndak mogok. Tapi karena saya sudah janji, saya menuntunnya menuju bengkel resmi Honda yang jaraknya kira-kira 3 km dari kos. Sampai-sampai mekaniknya heran, “Motor ndak mogok begini kok dituntun mas?!!”

Banyak lagi pengalaman yang saya alami, termasuk waktu kami dihantam sebuah mobil Panther yang membuat saya masuk UGD dan menderita gegar otak medium, serta Boy yang harus ringsek parah sehingga harus diangkut mobil bak terbuka menuju kos. Sementara si penabrak dengan tega hati meninggalkan kami di tengah jalan dalam keadaan kepala bocor dan ringsek. Hehe! Tapi, saya menolak waktu aji menawari saya mobil dengan syarat Boy dijual saja. Aji setuju untuk membatalkan rencana penjualan tapi Boy harus diupacarai secara Hindu (karena aji saya memang seorang Hindu). Saya sih ndak peduli mau diapakan saja, asal ndak dijual. Waktu itu kejadiannya sekitar bulan Mei 2001.

Waktu kembali ke Bali setelah lulus kuliah, Januari 2008, Boy yang dikendarai sepupu saya (sementara saya membonceng) sukses menabrak seorang polisi yang berusaha menghadang laju sepeda motor saya. Jadilah motor tua ini ngos-ngosan menghindari kejaran pak polisi yang lugas banget mengebut di jalanan (bodohnya saya ndak menyuruh sepupu saya untuk berhenti). Setelah tertangkap, Boy hampir saja ditahan secara ndak resmi. “Motor ini ndak akan bisa kamu temukan lagi, sekalipun kamu kenal dengan Tuhan!” ujar pak polisi ketus sambil merampas kunci starter.

Karena saya pikir hal itu akan menyulitkan dan akan membuat orang tua saya sewot, akhirnya saya tanyakan apa yang bisa saya lakukan agar kesalahan sepupu saya itu ndak berakibat dengan ditahannya Boy yang jelas ndak salah apa-apa. Pak polisi menawarkan perdamaian dengan membayar sejumlah uang. Akhirnya saya membayar 30 ribu untuk meloloskan Boy dari tawanan pak polisi itu. Saya juga sempat tawarkan sepupu saya untuk ditahan karena menabrak petugas, tapi polisi itu menolak mentah-mentah dan ngeloyor pergi.

Tahun ini, 2010, artinya sudah hampir genap 12 tahun Boy bersama saya. Di rumah, dia adalah yang tertua diantara benda-benda lainnya. Saya beberapa kali mencari benda berumur tua di rumah, tapi ternyata ndak ada yang setua sepeda motor saya ini. Tapi Boy termasuk sepeda motor yang tahan banting. Walaupun terakhir dia diservis beberapa bulan di tahun 2009, dia blum pernah mogok kerja. Pernah rusak, tapi itu karena keteledoran sopir di rumah yang ndak sengaja menjatuhkannya. Catnya juga mulai memudar.

Kemarin, saya berniat membawa sepeda motor ini ke bengkel. Tapi, tiba-tiba muncul juga niat untuk menyegarkan penampilannya. Sehingga saya pun berniat memperbarui catnya yang sudah kusam. Biaya di atas 1 juta saya anggap wajar untuk pengabdiannya selama 12 tahun. Maka, sejak kemarin sampai seminggu ke depan, sepeda motor saya akan mendapat servis sebesar-besarnya. Semoga setelah itu dia semakin kuat lagi mengantar saya ke mana pun.

Sepeda motor saya pada 2007 di Kos Amalia Pogung Baru. Terima kasih kepada Di'al untuk foto ini.