Ruhut Sitompul

by Agung Pushandaka

Menonton perdebatan antara Ruhut Sitompul dan Fahri Hamzah di Metro TV kemarin, membuat saya ndak tahan lagi untuk tau tentang sosok satu ini. Terutama lagi, saya memang selalu tertarik dengan tokoh-tokoh kontroversial yang memiliki pendukung dan pembenci dalam jumlah yang nyaris sama banyaknya. Dari hasil berjalan-jalan di dunia maya, inilah cerita yang bisa saya dapatkan.

Jujur, saya pertama kali mengenal Ruhut Sitompul justru bukan dari bidang hukum, tapi dari dunia sinetron. Kira-kira tahun 1996-an, wajah Ruhut sering muncul di tivi dalam sebuah tayangan sinetron berjudul Gerhana bersama dengan Peirre Rolland, dan Peggy Melati Sukma. Sensasi di layar sinteron juga terjadi di ranah hukum. Banyak kasus yang menjadi sorotan masyarakat luas yang dia tangani, termasuk waktu dia menjadi salah satu penasehat hukum Akbar Tandjung dan beberapa yayasan milik keluarga Cendana di saat banyak orang yang menghujat Golkar dan Orde Baru.

Maklumlah. Waktu itu dia memang salah satu simpatisan Golkar. Selain aktif di Golkar, Ruhut juga menjadi pengurus aktif di beberapa organisasi seperti KNPI Dati I DKI Jaya, DPP Pemuda Panca Marga, DPP IKADIN, DPP Pemuda Pancasila, dsb. Saat ini, Ruhut adalah salah satu Ketua DPP Partai Demokrat. Perannya di partai pemerintah ini cukup vital. Hampir di setiap kasus dia selalu bersuara mewakili kepentingan partainya.

Ruhut Sitompul lahir di Medan, 25 Maret 1954 (sekarang 55 tahun), yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Anak dari Humala Sitompul dan Surtani Panggabean ini mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Universitas Padjadjaran Bandung pada 1974, jurusan Hukum Perdata. Saya berusaha menemukan daftar riwayat pendidikan Ruhut sebelum kuliah, tapi ndak saya temukan. Bahkan saat saya mengunjungi situs pribadi yang bersangkutan, ndak ada sama sekali catatan pendidikan “Bang Poltak si raja minyak dari Tarutung” ini.

Selebihnya, yang saya temukan cuma kontroversi yang dia buat. Mulai dari isu perselingkuhannya dengan seorang wanita yang telah bersuami, Diana Lupita alias Diana Leovita. Bahkan konon, suami dari Anna Rudhiantiana Legawati ini sudah pernah hidup serumah dengan wanita itu di daerah Mega Kuningan, Jakarta, selama beberapa bulan.

Dari mulutnya juga ndak jarang keluar pernyataan yang malah membuat rivalnya kebakaran jenggot. Seperti misalnya waktu masa kampanye pemilu 2009. Dia pernah berujar bahwa (orang keturunan) Arab ndak pernah punya andil untuk bangsa dan negara Indonesia. Ndak tanggung-tanggung, akibat omongannya itu FPI yang memang brutal pun mengancam akan menangkap Ruhut. Ruhut kemudian minta maaf setelah ditegur Partai Demokrat. Pernyataan berbau sara lainnya sempat dia cetuskan waktu menyebut Kwik Kian Gie dengan sebutan “si Cina” dalam sebuah diskusi terbuka.  Blum pernah saya dengar ada permintaan maaf dari Ruhut untuk kasus ini.

Sikapnya yang cenderung blak-blakan, baik dalam memuji maupun menghujat, menjadikannya bintang dalam Pansus Hak Angket Century. Beberapa anggota Pansus dari fraksi lain dipaksa untuk beradu urat leher dengannya. Misalnya, perdebatannya dengan Gayus Lumbuun sampai membuatnya melontarkan kata-kata yang ndak pantas. Waktu itu dia membentak Gayus, “Kau yang diam, bangsat!”

Kejadian itu sama sekali ndak membuatnya kapok. Buktinya setelah perseteruannya dengan Gayus, dia malah beradu mulut dengan Maruarar Sirait, Akbar Faisal, bahkan sampai dengan Jusuf Kalla. Apabila ndak lagi berdebat, dia sering berkomentar pedas tentang rivalnya. Bahkan Ruhut ndak segan mengomentari gaya bicara Susno Duaji yang melirik-lirik ke sana kemari. Begitu juga waktu dia mengomentari Adnan Buyung Nasution setelah mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu meminta agar SBY bertanggung jawab untuk kasus Century ini.

“Sebagai rekannya malu aku sama dia. Waktu itu, Buyung itu pernah kena tegur sama Ketua Dewan Pembina Demokrat, Soeharto. Eh, Dewan Pembina Golkar. Hatinya enggak bersih. Udahlah, Buyung enggak usah didengar!” ujarnya tentang Adnan Buyung Nasution.

Tapi di sisi lain, dia ndak segan memuji orang-orang yang berada di pihak yang sama dengannya. Keluarga Puri Cikeas selalu dia puja-puja. Edhie Baskoro yang konon termasuk orang yang menerima uang haram Century dia bela mati-matian. Bahkan, dia menantang orang untuk memotong lehernya kalau Ibas memang terbukti menikmati uang Century.

Tapi yang unik, dia ini seperti ndak pernah berseteru dengan siapa pun. Misalnya, tadi sore di Metro TV, saya melihat dia berbincang santai dengan Maruarar Sirait dan beberapa anggota Pansus lainnya sebelum rapat Pansus dimulai. Ndak banyak orang yang seperti itu. Ndak segan untuk menghujat dalam sebuah diskusi, tapi bersikap wajar kembali di luar arena diskusi.

Di luar sikap dan tindakannya yang seperti selalu ingin mengganggu konsentrasi kerja Pansus, saya harus akui bahwa Ruhut sangat mewarnai kehidupan politik Indonesia, walaupun blum tentu berkonotasi positif. Saya sih cuma berharap, Ruhut bersuara keras bukan untuk orang-orang “tersayangnya” saja, tapi juga berani bersikap keras kepala membela kebenaran.

Jujur, saya sekarang sangat menikmati penampilan dan komentarnya di depan layar tivi. Walaupun ndak semua omongannya penting untuk disimak. Hehe!

“Pening aku! Pening!”

*sumber : wikipedia, website pribadinya, dan artikel berita lain.