Awalan Untuk “Ubah”

by Agung Pushandaka

Anda pernah mendengar kata “ubah”? Kata ini seringkali dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi yang berbeda dari kondisi semula. Misalnya dalam kalimat, “Orang itu berubah menjadi serigala di waktu purnama tiba”. Kata “ubah” di kalimat tersebut bermakna bahwa wujud orang itu menjadi berbeda dari wujudnya semula. Tapi yang sering membuat saya heran bahwa banyak banget blogger dan orang lainnya yang menurut saya ndak tepat dalam menambahkan awalan pada kata “ubah” ini.

Ndak jarang saya baca dalam sebuah tulisan pada sebuah blog, seseorang menulis kata “merubah” dan/atau “dirubah”. Begitu juga di media lain seperti facebook, twitter, dsb. Padahal ilmu mengenai imbuhan (awalan, sisipan dan akhiran) adalah ilmu dasar dalam grammar Bahasa Indonesia. Coba sekarang kita lihat sekali lagi lebih dalam mengenai kata “merubah” dan “dirubah” itu.

Pernah suatu kali saya iseng mengetik kata “merubah” pada search engine di internet. Ternyata banyak banget kata ini digunakan dalam sebuah kalimat. Misalnya, “Cara merubah tampilan layout facebook”. Sebelum memuat tulisan ini di blog, saya juga coba ketikkan kata “dirubah” pada search engine. Hasilnya juga ndak kalah banyak. Salah satunya adalah “Pola pikir guru Indonesia harus dirubah”.

Saya akhirnya berusaha mencari tau kembali tentang koleksi imbuhan yang dimiliki Bahasa Indonesia? Seingat saya dalam Bahasa Indonesia, imbuhan ada 3 macam. Yaitu awalan, letaknya di depan kata dasar; sisipan, letaknya di tengah kata dasar; dan akhiran di akhir kata dasar. Sekarang kita fokus pada awalan saja.

Di wikipedia saya lihat, kita punya awalan me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per- dan se-. Awalan me- ndak selamanya berbentuk me-. Ada kalanya me- berubah bentuk menjadi mem-, men-, meng-, menge- dan meny-. Contoh: me + baca = membaca, bukan mebaca. Contoh lain : me + jadi = menjadi, bukan mejadi. Begitu juga me + kais = mengais. Atau me + serah = menyerah. Tapi, kenapa kala me + ubah = merubah? Seharusnya, kata “ubah” saat mendapat awalan me- akan menjadi “mengubah”. Awalan me- ndak pernah berubah bentuknya menjadi mer-. Ada kalanya juga kata dasarnya yang harus berubah bentuk di saat mendapat awalan me-. Seperti me + tulis = menulis. Tapi kata “ubah” ndak perlu diganti bentuknya menjadi “rubah” saat mendapat awalan me-.

Begitu juga awalan di-. Awalan ini digunakan untuk kalimat pasif, yaitu obyek kalimat disebutkan sebelum predikat. Misalnya dalam sebuah kalimat aktif; Budi melempar batu. Dalam kalimat pasif akan menjadi; Batu dilempar (oleh) Budi. Penggunaan awalan di- lebih mudah lagi, sebab hampir semua kata yang berawalan di- ndak berubah bentuknya. Seperti di + baca = dibaca, di + ambil = diambil, di + pukul = dipukul, dsb. Begitu juga dengan perubahan awalan di- hanya menjadi diper- dan/atau diikuti oleh akhir -kan atau -i. Misalnya; di + mudah = dipermudah atau dimudahkan. Trus, untuk kata di + ubah bukan menjadi dirubah, melainkan diubah.

Tapi kadang-kadang, itulah kesulitannya. Sesuatu yang salah kadang kala menjadi benar karena umum banget digunakan dalam pergaulan. Sehingga jarang banget ada orang yang mempermasalahkan keadaan ini. Atau jangan-jangan kata “rubah” juga sudah berganti maknanya dari nama sejenis hewan menjadi sama artinya dengan kata “ubah”?? Hehe..

Ada koreksi atau tambahan yang mungkin perlu kita tau? Silahkan manfaatkan kolom komentar di bawah ini.  Mungkin ada blogger yang guru bahasa atau ahli bahasa yang membaca tulisan ini yang bisa menambah atau memperbaiki tulisan saya ini. Terima kasih.