Negeri Perusuh

by Agung Pushandaka

Beberapa hari lalu, saya melihat sebuah tayangan di tivi tentang keadaan negara ini yang hampir ndak pernah lepas dari keributan. Sepertinya ricuh dan rusuh sekarang menjadi budaya, yang mau ndak mau harus dilestarikan. Banyak yang bilang, keributan semacam ini cuma dilakukan orang yang ndak berpendidikan. Tapi ternyata, ndak selamanya seperti itu. Berikut daftar kericuhan yang sering terjadi atau yang ditayangkan di tivi.

1. Demonstrasi. Sejak yang namanya era reformasi dibuka dan disusul kemudian dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi, demonstrasi seringkali berakhir rusuh. Kenapa? Biasalah.., perbedaan pendapat antara pendemo dengan aparat. Bahkan, demonstrasi yang dilakukan oleh para guru — yang patut digugu dan ditiru — pun berakhir rusuh.

2. Konser musik. Biasanya dulu terjadi di kota-kota kecil yang kedatangan penyanyi atau musisi dari Jakarta. Hal ini disebabkan oleh antusiasme masyarakat kota itu yang pengen menyaksikan secara langsung penampilan penyanyi idolanya di atas panggung. Tapi, sekarang ini, keributan di konser musik ndak cuma terjadi di kota-kota kecil. Ndak jarang keributan juga terjadi di kota besar. Penyebabnya banyak, yaitu selain antusiasme tadi, juga karena memang ada segerombolan penonton yang memancing keributan di dalam acara itu.

3. Pertandingan olahraga. Terutama lagi sepakbola. Mulai dari penonton, ofisial tim, sampai pernah seorang bupati  ikut serta membuat kericuhan. Alasannya klise, tim jagoannya kalah karena wasitnya ndak adil. Tapi bagaimana dengan kerusuhan Bonek pekan lalu, padahal tim favoritnya menang?

4. Pemilu. Agenda yang satu ini rawan banget kericuhan. Jangankan pemilihan Presiden dan Legislatif, pemilihan kepala desa pun bisa berakhir ricuh. Masyarakatnya blum mampu berdemokrasi dengan elegan?

5. Dialog atau talkshow. Kericuhan dalam acara ini bervariasi jenisnya. Mulai dari pertengkaran bak anjing memperebutkan tulang, sampai dengan kekerasan fisik. Misalnya seperti kasus pelemparan buku oleh George Aditjondro terhadap Ramadhan Pohan. Alasannya? Anda tau sendirilah..

6. Penertiban oleh Satpol PP. Pokoknya, hampir semua penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP selalu berakhir ricuh. Mulai dari penertiban rumah kumuh sampai dengan pedagang kaki lima. Penyebabnya, mulai dari masyarakat yang ndak tertib, sampai dengan petugasnya yang over acting dan sok jagoan.

7. Sidang Pengadilan. Beberapa acara persidangan ndak jarang disusul oleh keributan. Biasanya disebabkan oleh ndak puasnya salah satu pihak oleh keputusan hakim. Kalau menurut saya, hal ini disebabkan oleh 2 hal, yaitu masyarakatnya yang blum sepenuhnya mengerti pandangan hakim dalam menjatuhkan putusan atau masyarakat sudah ndak percaya lagi dengan penegakan hukum di negeri ini, yang kita tau memang kotor dan ndak adil banget.

Keributan lebih jauh biasanya terjadi pada eksekusi putusan yang menyangkut kepemilikan tanah atau rumah. Begitu petugas pengadilan mendatangi rumah yang akan disita atau diambil alih oleh pemenang sengketa, biasanya pemilik rumah dibantu oleh warga sekitar sudah berjaga-jaga seperti akan menghadapi pasukan Belanda yang akan menyerang benteng mereka.

8. Perselisihan SARA. Hal ini masih sering terjadi. Parahnya, yang menyebabkan kerusuhan antar suku/agama/ras ini terjadi disebabkan oleh hal sepele, yang seharusnya bisa diselesaikan secara personal oleh pihak yang bersengketa. Tapi ntahlah, bagaimana caranya masalah itu kemudian melebar menjadi masalah antar kelompok.

9. Sidang Dewan Perwakilan Rakyat. Pernah terjadi, sidang di kantor dewan diakhiri dengan adu jotos sesama anggotanya. Kejadian terbaru mungkin adalah kericuhan yang terjadi di rapat Pansus Hak Angket Century. Mulai dari kericuhan yang disebabkan oleh penonton yang meneriaki Pak Boed dengan sebutan maling, sampai dengan keributan antar anggota Pansus sendiri, sampai terbit kata-kata kotor yang seharusnya ndak layak dilakukan oleh orang-orang yang konon berpendidikan itu.

10. Hal umum lainnya, seperti perebutan areal parkir, rebutan wilayah kerja pengamen/pengemis/dan pedagang asongan, sampai dengan adu kekuatan antar kelompok (genk) anak muda. Semua masalah yang muncul hampir selalu diakhiri dengan keributan yang membuat mereka harus digiring ke kantor polisi. Ndak ada lagi musyawarah dalam menyelesaikan masalah.

Saya jadi ingat jaman saya kecil dulu, orang tua bilang bahwa kelebihan negeri ini di mata orang asing adalah selain keragaman adat dan budaya serta keindahan alamnya, juga karena keramahtamahan penduduknya. Tapi, sekarang mungkin cuma keragaman adat dan budaya yang masih bertahan — itu pun malah sering jadi penyebab keributan seperti yang saya bilang di poin 8. Keindahan alam negeri ini perlahan-lahan mulai hilang digerus oleh kerakusan manusia yang berusaha menikmati kekayaan alam tanpa mempedulikan keselamatan lingkungan yang mendukung keindahannya itu sendiri.

Trus bagaimana dengan keramahtamahan khas masyarakat Indonesia? Kalau melihat dari banyaknya kasus keributan seperti yang saya bilang di atas, saya ndak tau lagi, apakah orang tua kita yang bohong, atau memang negeri ini adalah negeri perusuh?

Damai donk, Indonesia…