Indonesia 2010

by Agung Pushandaka

Tahun 2009 baru saja berlalu. Banyak hal yang telah saya pelajari di tahun kemarin. Salah satunya adalah tentang apa yang akan saya tulis hari ini di sini. Tulisan ini terilhami dari sebuah tulisan Mr. Ali Sastroamidjojo yang berjudul Seri Politik 1: Bangsa dan Kebangsaan, terbitan tahun 1947. Terima kasih untuk Bli Nyoman Suryanatha yang mau berbagi tulisan ini.

***

Indonesia ndak cuma sekedar sebuah negara. Indonesia adalah sebuah bangsa. Menurut saya, bangsa seharusnya ndak bisa mati, berbeda dengan negara. Negara bisa runtuh kapan saja, sementara bangsa akan tetap ada selama manusia yang mengakuinya masih ada.

Tapi, semakin ke sini bangsa ini seperti semakin goyah. Satu hal yang saya anggap sebagai penyebab utamanya adalah ndak ada lagi semangat kebersamaan. Sekarang semakin banyak konflik kepentingan antar golongan yang beberapa bahkan berujung kepada pertikaian fisik. Saya mengibaratkan, Indonesia sekarang bak gelas kaca yang retak, yang tinggal menunggu waktunya saja untuk pecah berkeping-keping. Trus, di mana letak pusat masalah ini? Saya merasa, tulisan Ali Sastroamidjojo memberikan jawabannya.

Menurutnya, suatu bangsa lahir dari adanya suatu persamaan nasib, terutama kepada nasib kesengsaraan/tertindas. Perasaan semacam ini haruslah dirasakan bersama-sama, bukan semata-mata yang dirasakan oleh satu golongan saja. Persamaan nasib itu kemudian akan memunculkan persamaan kemauan. Tentu saja kemauan untuk melepaskan atau menghindarkan diri dari beban kesengsaraan tadi. Kemauan semacam ini akan timbul dengan sendirinya. Poin ini adalah syarat mutlak lahirnya sebuah bangsa. Tapi sebuah bangsa ndak akan lahir cuma dengan syarat itu saja. Persamaan nasib tadi haruslah didukung dengan elemen-elemen lain, seperti kesatuan negara, kesatuan bahasa, dsb.

Dari hal itulah bangsa ini lahir. Bangsa ini lahir jauh sebelum proklamasi dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia sudah lahir di setiap benak orang yang merasa tertindas oleh imperialisme Belanda waktu itu. Ndak ada yang memaksa mereka untuk menjadi bagian dari bangsa ini, kecuali perasaan senasib yang mereka alami. Dari sana muncullah semangat dan kemauan untuk bersama-sama terbebas dari penderitaan itu.

Dengan lahirnya bangsa Indonesia di dalam diri setiap orang pada waktu itu, kemauan untuk melepaskan diri dari kesengsaraan itu pun semakin kuat. Kita juga harus “berterima kasih” kepada pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang ndak henti-hentinya menekan dan menindas bangsa ini. Dengan tekanan berat itu, semangat untuk melepaskan diri pun semakin kuat dan ndak bisa dihentikan dengan cara apa pun.

Lahirnya bangsa Indonesia di dalam hati setiap orang, secara otomatis juga melahirkan semangat kebangsaan. Semangat ini lahir diawali dengan semangat anti-imperialisme dan anti-kapitalisme. Tapi semangat kebangsaan yang dirasakan ndak sesempit itu. Semangat kebangsaan itu ndak lahir cuma karena kita membenci penjajah, tapi lebih kepada rasa prikemanusiaan yang luhur dan suci. Dari rasa itu, maka kebangsaan Indonsia menjadi sebuah semangat untuk mendirikan suatu negara yang merdeka dan yang masyarakatnya tersusun atas dasar kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dari hal-hal itu, maka lahir jugalah Indonesia sebagai negara.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Perpecahan terjadi di beberapa daerah. Banyak golongan yang menyuarakan kekecewaan mereka. Perbedaan pendapat menjadi sebuah hal yang berbahaya. Kok bisa seperti ini? Apakah ini memang tuntutan jaman yang semakin rumit, sehingga negara yang lahir dari kelahiran sebuah bangsa dan semangat kebangsaan yang hebat banget harus menjadi compang-camping seperti ini?

Walaupun diterbitkan pada tahun 1947, saya rasa tulisan Ali Sastroamidjojo tadi masih relevan untuk permasalahan bangsa ini sekarang. Pokok masalahnya terletak pada persamaan nasib. Rasa senasib itu sudah berkurang, bahkan hampir ndak ada lagi. Bagaimana mungkin perasaan itu ada kalau kehidupan sosial masyarakat kita sekarang jauh berbeda. Beberapa golongan seperti memang hidup di tanah yang kaya akan sumber daya (seharusnya memang seperti itu). Mereka hidup serba berlebihan, ndak pernah kurang satu apa pun. Golongan lain yang ndak jauh berbeda mungkin ndak semewah mereka golongan pertama, tapi mereka mampu memenuhi kebutuhan mereka dengan cukup, ndak lebih ndak kurang.

Sementara beberapa golongan lainnya yang mungkin jumlahnya lebih besar, hidup serba kekurangan. Mereka tertekan dengan segala keterbatasan. Tentu saja mereka punya kemauan untuk segera lepas dari penderitaan itu. Tapi apa daya, dukungan terhadap mereka kurang banget dari golongan lainnya. Memang ndak semua orang kaya ndak peduli dengan penderitaan mereka yang miskin. Tapi apalah artinya dukungan seorang kaya kalau ndak diimbangi oleh kerja keras yang miskin dan ditambah dengan dukungan golongan lainnya, termasuk para pejabat negara yang menjalankan roda pemerintahan?

Ndak adanya perasaan senasib secara otomatis membuat keberadaan bangsa Indonesia di dalam diri mereka juga berkurang. Kita ndak bisa bilang bahwa mereka ndak nasionalis. Bagaimana mereka mampu memikirkan bangsa dan memupuk terus semangat kebangsaan kalau mereka selalu tertekan dengan kekurangan dan keterbatasan?

Trus, apakah negara ini akan runtuh? Wah, jangankan negara, Indonesia sebagai bangsa pun bisa menghilang dari setiap benak dan diri rakyat. Saya ambil contoh, bagaimana mungkin rakyat Papua bangga mengaku diri sebagai anak bangsa Indonesia, kalau hidup mereka susah sementara yang lain hidup berkecukupan? Dari penderitaan mereka itu akan muncul semangat melepaskan diri dari kesengsaraan, tapi sebagai bangsa Papua, bukan lagi bangsa Indonesia. Dari situ saja sudah bisa dibayangkan bahwa Indonesia sebagai bangsa akan segera jatuh dan menghilang. Trus, kalau sudah begitu, Indonesia sebagai negara pun akan segera menyusul kalau hal itu meluas dan menghebat.

Kalau begini salah siapa? Ah, sudahlah. Tahun sudah berganti berkali-kali, tapi kita masih saja terjebak dalam pola pikir siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini adalah tanggung jawab semua orang yang masih mengakui keberadaan bangsa Indonesia. Yang miskin harus mengobarkan lagi semangat untuk melepaskan diri dari penderitaan. Sementara yang kaya harus menumbuhkan lagi semangat kebersamaan dan persamaan nasib.

Saya percaya itu semua bisa kita lakukan. Contohnya, kasus Prita Mulyasari. Anda bisa lihat sendiri bagaimana setiap orang yang sebenarnya ndak berhubungan apa-apa dengan Prita dan kasusnya, menumbuhkan di dalam diri mereka perasaan senasib sepenanggungan. Dari perasaan itu mereka bertindak dan kemudian menghasilkan sesuatu yang besar. Kalau untuk menyelamatkan Prita kita mampu, masa’ untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini kita ndak mampu?

Satu keinginan saya untuk mereka yang sedang menjalankan pemerintahan dan hidup dalam kecukupan. Jangan biarkan perbedaan nasib itu semakin lebar jaraknya. Caranya dengan menciptakan keadilan sosial. Sekarang bayangkan, adil ndak kalau sebagian rakyat ini hidup miskin, tapi segelintir orang malah mendapat perlakuan sekelas Toyota Royal Crown Saloon? Semakin lebar perbedaan itu, akan melahirkan semangat anti-bangsa dan anti-kebangsaan yang semakin hebat pula. Kalau terus seperti ini, kiamat 2012 mungkin benar adanya, tapi cuma terjadi untuk bangsa dan negara Indonesia.

Mungkin itu hikmah yang bisa saya ambil dari tulisan Ali Sastroamidjojo di atas. Selamat Tahun Baru Masehi 2010! :)

* Sekilas tentang Ali Sastroamidjojo. Lahir di Grabag, Jawa Tengah, 21 Mei 1903. Meninggal di Jakarta, 13 Maret 1976. Pernah menjabat sebagai Perdana Menteri pada periode 1953-55 dan 1956-57. Mendapat gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum) dari Univ. Leiden, Belanda pada 1927. Beliau dikenal sebagai tokoh politik, pemerintahan, dan seorang nasionalis.