Ide Gila Untuk Lalu Lintas Denpasar

Ntah kenapa, belakangan ini saya jadi sering mikir hal-hal yang di luar kebiasaan. Mungkin karena sudah bosan dengan apa yang saya lihat di tivi, yang isinya ndak jauh-jauh dari konflik kepentingan. Hari ini, setelah menempuh perjalanan jarak pendek tapi melelahkan dari Renon ke Kerobokan, tercetus di otak saya tentang sesuatu yang gila. Buat saya ini gila, karena kalau dilaksanakan akan terjadi perubahan ekstrim. Ide gila ini untuk keadaan jalanan Denpasar, yang semakin lama saya perhatikan, semakin ndak karuan. Silahkan di baca seutuhnya kalau tertarik. Kalau ndak tertarik, jangan memaksakan diri untuk membaca apalagi berkomentar. Namanya juga ide gila. Haha! Berikut ide saya;

1. Kita harus menyadari dulu di mana pusat masalah kesemrawutan lalu lintas Denpasar. Menurut saya, hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah kendaraan yang berlalu lalang di sini. Trus, apakah kita harus melarang seseorang membeli sepeda motor/mobil baru? Rasanya itu akan termasuk ke dalam pelanggaran hak asasi manusia. Biarkan saja setiap orang yang pengen membeli kendaraan, itu hak mereka.

2. Pemerintah juga harus sadar, bahwa membuka jalan baru dan memperlebar jalan bukan solusi yang bagus. Coba bayangkan beberapa tahun lagi, Denpasar atau bahkan Bali, isinya jalanan melulu. Ndak lucu kan? Lagipula, Jakarta sudah membuktikan bahwa membangun jalanan ndak memecahkan masalah.

“Kemacetan bukan saja disebabkan dari jumlah kendaraan, tapi juga jumlah perjalanan yang bertambah. Kemacetan tidak akan berkurang karena penambahan jalan” kata Enrique Penalosa, mantan Walikota Bogota yang sukses menciptakan sistem busway, mengomentari keadaan jalanan ibu kota, Jakarta.

3. Inilah yang esktrim. Pemerintah Denpasar dan Bali harus berani mempersempit jalanan. Rasanya kita ndak butuh jalanan seperti Jalan Teuku Umar, yang rasanya mampu memuat 6 mobil besar berjejeran. Ndak perlu itu! Jalanan yang pas untuk di Denpasar adalah yang selebar Jalan Diponegoro, tapi untuk 2 arah. (Jalan Diponegoro sekarang kan jalan 1 arah).

4. Penyempitan jalan itu akan membuka lahan untuk pembangunan trotoar dan jalur sepeda yang lapang. Malah, jadi membuka tempat untuk menanam pohon perindang di sisinya.

5. Tapi di sisi lain, penyempitan itu akan membuat kemacetan yang luar biasa. Biarkan saja. Memang itu sudah saya pikirkan, akan menjadi salah satu efek samping. Justru dengan kemacetan itu, pengguna jalan akan lebih kreatif. Misalnya, dengan beralih ke sepeda. Apalagi, jalur sepeda sudah dibangun dengan penyempitan jalan tadi.

6. Atau, masyarakat justru akan demonstrasi besar-besaran karena tindakan pemerintah dianggap malah semakin memacetkan jalanan. Nah! Kalau sudah begini, pemerintah harus menawarkan sistem transportasi umum yang oke. Sehingga masyarakat bisa beralih ke transportasi umum. Ndak usah muluk-muluk membangun busway atau subway. Sediakan saja shuttle bus ukuran menengah, tapi menjangkau titik-titik strategis. Shuttle bus ini sebaiknya dikelola pemerintah atau swasta, bukan perorangan. Sementara bemo bisa dijadikan sebagai umpan menuju halte shuttle bus itu. Subsidi BBM seharusnya diberikan kepada sopir bemo itu, supaya mereka bekerja dengan hati riang dan tenang.

Misalnya, rumah saya di Jalan Tukad Citarum, Renon. Untuk menuju Kerobokan, saya harus menumpang shuttle bus. Maka saya akan menumpang bemo dari halte bemo terdekat, misalnya di Jalan Tukad Yeh Aya menuju halte shuttle bus, misalnya di Jalan Niti Mandala Renon. Dari Jalan Niti Mandala Renon, mungkin saya harus berganti shuttle bus beberapa kali. Ndak masalah! Mungkin di Jalan Teuku Umar saya harus berganti shuttle bus jurusan Kerobokan. Kalaupun ndak sampai Kerobokan juga ndak masalah. Misalnya, shuttle bus cuma melayani sampai Jalan Gunung Tangkuban Perahu. Oke, ndak apa-apa. Sisa perjalanan saya lanjutkan dengan bemo lagi. Selama transportasi umum yang disediakan nyaman dan aman, pasti perjalanan tadi ndak melelahkan seperti sekarang.

Kenapa saya memilih untuk menomorduakan penyediaan transportasi umum? Sebab saya berpikir, sebagus apa pun transportasi umum yang diciptakan, selama masyarakat masih diberikan kesempatan untuk memilih, pasti mereka akan memilih memakai mobil pribadi mereka. Tapi kalau sudah macet seperti yang bilang di atas, mereka mau ndak mau akan meninggalkan mobil pribadinya, dan beralih ke transportasi umum. Haha! Otoriter? Ndak apa-apa kan, selama untuk kepentingan umum?? Hihi..

7. Naikkan pajak kendaraan. Wah, saya tau masyarakat pasti akan tambah marah dengan keadaan ini. Tapi, itu harus dihadapi pemerintah dengan bijak. Terima kemarahan mereka dengan memakai pendapatan dari pajak  untuk membangun sistem transportasi umum yang saya bilang tadi. Dengan bantuan pajak itu, pemerintah ndak perlu menghabiskan kas daerah cuma untuk menyelesaikan masalah jalanan. Jangan malah uang pajak masyarakat dikorup.

8. Buatlah sarana penunjang lainnya secara cepat dan tepat. Misalnya, karena jalanan jadi lebih sempit, maka sistem parkir juga harus diubah. Ndak mungkin lagi membiarkan parkir kendaraan di pinggir jalan. Bikinlah pusat parkir di beberapa tempat strategis untuk menitipkan kendaraan pribadi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat kerja dengan berjalan kaki atau menumpang transportasi umum tadi. Parkir di pusat parkir seharusnya gratis, dan keamanannya terjamin. Biar ndak makan banyak lahan, buatlah pusat parkir yang bertingkat. Gampang kan?

9. Sebenarnya, ini poin yang paling penting. Tapi sengaja saya tempatkan di poin nomor 9. Ibarat sepak bola, semua strategi serangan dibangun dari nomor 1 (kiper) dan diselesaikan oleh nomor 9 (penyerang). Hehe.., maaf kalau perumpamaannya maksa banget. Oke, poin ke-9 adalah DISIPLIN! Kalau perlu yang tingkat tinggi. Semuanya harus disiplin. Ya pemerintah, ya masyarakat, dan terutama polantas.

Mereka semua harus disiplin dalam melaksanakan kewajiban, ndak cuma bisa menuntut hak. Pemerintah disiplin dengan penggunaan pendapatan dari pajak kendaraan untuk membangun sarana penunjang yang saya bilang di atas, misalnya untuk membangun pusat parkir, membangun trotoar dan jalur sepeda, menanam pohon perindang, memperbaiki lampu lalu lintas, dsb. Korupsi seharusnya ndak ada lagi.

Masyarakat juga harus disiplin. Kebanyakan, semrawutnya lalu lintas Denpasar sekarang ini juga disebabkan oleh kurang disiplinnya pengguna jalan. Sepeda motor naik ke trotoarlah, menerobos lampu merahlah, mobil berhenti di depan rambu dilarang berhentilah, parkir seenaknyalah, dsb. Itu harus dihentikan, dan diganti dengan disiplin tinggi mentaati peraturan lalu lintas.

Polantas juga harus disiplin. Jangan suka mencari-cari kesalahan pengguna jalan. Kalaupun ada pengguna jalan yang salah, perlakukan dengan adil. Jangan malah menawarkan perdamaian dengan memakai uang yang saya kategorikan sebagai pungli, bahkan suap. Blum lagi dalam berlalu lintas. Ndak jarang petugas polisi seenaknya saja memakai jalan mentang-mentang mengendarai kendaraan dinas. Rambu lalu lintas dibuat untuk ditaati semua pengguna jalan, ndak peduli warna seragam dan warna plat nomor kendaraan. Ingat itu!

Nah, itulah ide gila saya. Kalau semua itu bisa dilaksanakan, saya membayangkan jalanan Denpasar akan menyenangkan banget. Orang-orang yang ndak punya kendaraan pribadi akan dengan senang berjalan kaki menikmati trotoar yang memadai dan ndak perlu berpanas-panas karena dilindungi oleh pohon perindang. Begitu juga orang yang hobi bersepeda, jadi lebih aman mengendarai sepeda mereka karena sudah disediakan jalur khusus untuk mereka. Sementara yang punya kendaraan pribadi, tapi keberatan dengan harga bensin yang mahal, atau keberatan untuk menyalakan lampu di siang hari, bisa memilih kendaraan umum yang nyaman dan aman, juga murah. Buat para borjuis, yang punya merci seabrek dan tetap ndak mau memakai kendaraan umum, biarkan saja menikmati kendaraan pribadinya. Toh, mereka juga harus pajak kendaraan yang lebih mahal. Dari pajak mereka, dipakai untuk kepentingan bersama.

Oh, menyenangkan.. :)

20 Responses to “Ide Gila Untuk Lalu Lintas Denpasar”


  1. imadewira

    Ini bukan ide gila, tapi jenius, ya walaupun pelaksanaannya tentu tidak semudah mencetuskan idenya.

    Tapi setidaknya kalau semua dimulai dari kemauan pasti ada jalan keluar.
    imadewira´s last blog ..Bagaimana Menulis Post di WordPress My ComLuv Profile

  2. Cahya

    Wah, ide gila yang bener-bener gila. Kalau orang mesti ke mana-mana bawa motor/mobil, bukan hanya sekadar biar cepat sampai, tapi biar nyaman.

    Siapa coba yang mau jalan kaki atau bersepeda sambil menghirup asap buangan kendaraan bermotor, dan terpanggang matahari. Siapa juga yang mau naik angkutan umum yang bikin gatal-gatal, dan perasaan ga tenang.

    Saya rasa kenyamanan orang-orang yang bepergian harus diubah pola acunya. Dari naik mobil mewah ber-AC, sambil melihat kiri-kanan dengan gagah dan pede, menjadi berjalan atau bersepeda santai di bawah rimbunnya pepohonan hijau kota, dengan udara bersih yang menyehatkan :)

    Jika lelah perjalanan jauh, orang bisa berhenti di taman-taman kota yang sejuk. Air yang bisa langsung/aman konsumsi dari keran umum, WC umum yang bersih, tempat yang lapang di mana orang bisa duduk sekadar membaca novel kegemarannya, atau membuat lukisan keramaian dengan berbekal buku sketsa sederhana. Bisa juga duduk dengan membuka notebook dan area WIFI sudah siap menyambut.

    Nah, setelah jenuh terobati, kembali menikmati perjalanan di kota budaya yang indah. Walau perjalanan panjang, namun setiap saat menjadi penuh makna.

    Saya kira itulah yang mungkin saya impikan dari kota-kota di Bali :)

  3. eka dirgantara

    saya punya ide boleh…

    setuju dengan menaikkan pajak bagi kendaraan kalau bisa pajaknya paling gede diantara pajak2 yang lain, dengan pajak yang gede itu kan orang2 jadi mikir untuk membeli sepeda motor…kemudian harga sepeda gayung dibuat miring, atau murah, sekarang harga sepeda itu kalau tidak salah 5 jutaan yang paling bagus, harga yang cukup mahal bagi saya…Dengan melihat pajak sepeda motor yang mahal dan harga sepeda gayung yang murah, orang2 jadi akan beralih ke sepeda gayung…bumi pun sehat kalau bersepeda gayung..

    tapi kalau bersepeda tanpa fasilitas yang bagus pun mustahil, minimal buatlah jalur khusu bersepeda seperti di negara luar selain itu jalanan harus lebih dipenuhi dengan pohon2 perindang supaya pesepeda tidak kepanasan….

    hehehehe…pengen banget lihat jalur khusus bersepeda…

  4. made gelgel

    kayaknya masalah yang susah ya bli, saya aja pergi ke kampus di jalan2 kecil tetep aja macet :)

  5. Gek

    Bli udah studi banding ke Aussie ya?
    hehheehehehe….

    Semoga ide gilanya dibaca oleg Gubernur.. :)
    Gek´s last blog ..BLACK Angel My ComLuv Profile

  6. Ketut Wiyantara

    Dari semua ide gila di atas, saya yang paling setuju adalah yang no 7 dan 8. Mungkin ini dapat menjadi ide tambahan… kita kan pernah hidup di Yogya, sepertinya ide Ring Road cocok untuk diterapkan untuk Denpasar, Ring Road : jalan besar yang mengitari kota.. sehingga misal kita hendak pergi ke Kerobokan dari Sanur, mungkin bisa dialihkan ke ring road, tanpa harus masuk ke kota.

  7. Action Figure Toy

    bener-bener ekstrim
    kalo mao lebih ekstrim…
    dilarang penggunaan kendaraan bermotor pribadi dikota dan dijalan raya karena menimbulkan global warning. kecuali bus dan angkot
    ato nda setiap orang diwajibkan untuk bersepeda ato rolling skate
    hehehe
    Action Figure Toy´s last blog ..Share Toys for Tots My ComLuv Profile

  8. senny

    gila?
    gue pikir ini brilian lho
    senny´s last blog ..Romeo Itu Bukan Lelaki My ComLuv Profile

  9. nico

    ya mungkin aja semua ide itu bisa terwujud dan sapa tau emang solusinya…

    tapi kalau masalah pajak kendaraan, kayaknya mang udah diberlakukan ya!??!?
    nico´s last blog ..Panas My ComLuv Profile

  10. tuteh

    Saya setuju sama yang udah ngasih komen di atas2, Bang. Ini bukan ide gila, tapi jenius! Cuma, mungkin untuk pelaksanaannya rada sulit… apalagi untuk jadi pertimbangan pemerintah Dps hehe. Saya suka sama point 4 & 5. Dengan semakin banyak yang make sepeda, polusi berkurang kan? Ditambah point plus dari penanaman pohon di sepanjang jalan. Gile, keren banget tuh ide. Cumaaaaaaaaa… ya lagi2… kadang2 ide masyarakat, sejenius apa pun, dianggap sampah sama yang… yang itu lah :D

    Kabuuurrr… :D hehehe.

  11. mata

    syukurlah,… cuma itu aja idenya… ngga ada ide untuk bunuh diri karena kesemrawutan ini kan ?
    mata´s last blog ..9/12 My ComLuv Profile

    pushandaka Reply:

    Hehe! Kamu ndak bisa membedakan antara gila dan pengecut ya? Bunuh diri mungkin cuma ada dalam kamus hidupmu. Hehe..

  12. mamah aline

    barangkali idenya bisa dicoba untuk kota lain seperti bandung yang juga semrawut, bukan ide gila keknya
    mamah aline´s last blog ..Nilai kasih Ibu dan ongkos anak My ComLuv Profile

  13. tary

    heheh mantap idenya
    kalo udah berhasil diterapkan di sana
    bisa kali yah di terapin juga di tempatku
    soalnya biar kota kecil skr Bangka juga udah sering macet pada jam2 tertentu.
    tary´s last blog ..Surat terakhir Aak… My ComLuv Profile

  14. abid famasya

    masalahnya…. realisasinya gimana yak… masih sulit kayaknya
    abid famasya´s last blog ..What are you learning for? My ComLuv Profile

  15. indra1082

    Denpasar itu Anti Macet lho… *katanya* :mrgreen:
    indra1082´s last blog ..Sok Bijak My ComLuv Profile

    pushandaka Reply:

    Hihihi! Kata siapa mas?

  16. Ari

    Terkadang penting untuk menjadi gila, karena kalau sudah gila apapun bisa dilakukan.. apalagi untuk sebuah ide yang jenius seperti ini. saya sarankan lebih baik ide ini dibawa ke pemda bali untuk dikaji lebih gila lagi oleh pakar yang ahli dan saya yakin hasilnya pasti gila alias sangat bermanfaat.

  17. cocot

    menurut saya, ide ini gak gila dan gak jenius, palingan yang punya ide ini distributor sepeda biar sepedanya laku, ato juragan bemo biar bemonya laris, ato dagang pohon hias biar daganganya laku keras. ato pasti tukang samsat ya biar banyak dapat komisian nyamsatin orang ato jangan jangan kamu orang pemda yang sedang ngusul ide ini ke pimpinan trus posting ke internet untuk nunjukin bahwa ide kamu banyak yang dukung, ato jangan jangan yang dukung disini staf bawahan kamu yaaa….

    yang gila itu kalo idenya di bawa ke pemda trus di kaji ama mereka n dijadikan proyek wahhhh, kalo udah gini PEMDAnya kan dapat komisian gila gilaan dari sang kontraktor, nah pemda baru idenya gila n jenius

    Agung Pushandaka Reply:

    Semua dugaan kamu salah. Sedikit pun ndak ada yang benar. Coba, lebih pintar lagi kalau mau berpikiran buruk. Ndak ada yang jualan pohon di sini, atau tukang samsat, dsb. :)

    Tapi, thanks untuk masukannya di alenia terakhirmu. ;)