Angkat Telpon!

Beberapa hari lalu, nomor henpon saya sama sekali ndak bisa difungsikan sebagaimana mestinya. Semua hubungan keluar (melakukan panggilan, sms dan internet via henpon) ndak bisa saya lakukan. Begitu juga sebaliknya, semua sms dan panggilan yang seharusnya saya terima malah ndak bisa sama sekali. Akhirnya, setelah berhubungan dengan pelayanan konsumen provider nomor yang bersangkutan, sekarang nomor saya bisa berfungsi seperti sedia kala walaupun blum sempurna.

Tapi kali ini saya ndak pengen membahas tentang masalah teknis yang membuat nomor henpon saya mogok kerja. Saya lagi pengen ngobrol tentang perlakuan kita terhadap telpon (tulisan resmi internasionalnya sih konon: telephone), atau henpon (tulisan bakunya: handphone). Perlakuan yang saya maksud di sini adalah perlakuan secara verbal. Saya cuma bingung, sebenarnya kata apa yang tepat untuk benda satu ini saat berfungsi. Mari kita simak kebingungan saya ini.

Di saat telpon berbunyi, telpon/henpon (selanjutnya diwakili oleh telpon saja) kita perlakukan dengan kata “angkat”. Sering kita dengar seseorang bilang, “Tolong angkat telponnya donk!”. Logika saya mengarah kepada gagang telponnya yang mesti diangkat setinggi telinga kita. Oke, masuk di akal saya. Walaupun saya sendiri biasanya memakai kata “jawab” untuk menerima panggilan masuk.

Tapi, kata “angkat” jadi ndak tepat di saat kita pengen menyudahi pembicaraan di telpon itu. Kenapa kita jadi pakai kata “tutup telpon” untuk mengakhiri pembicaraan? Kalau untuk memulainya kita memakai kata “angkat”, seharusnya saat mengakhirnya kita pakai kata “turun” donk? Misalnya, “Sudah dulu ya, saya turunkan telponnya”, bukan  seperti yang banyak dibilang orang, “Sudah dulu ya, saya tutup telponnya”.

Kalau kita mau pakai kata “tutup” untuk mengakhiri hubungan telpon, seharusnya untuk memulainya kita pakai kata “buka”. Iya kan? Tapi pasti aneh banget kalau waktu telpon berdering, seseorang berteriak, “Tolong donk, buka telponnya!!” Hehe!

Hehe! Bingung ndak? Jangan terlalu dipikir serius deh. Ini cuma satu bukti lain, bahwa dalam pergaulan, ndak penting apakah penggunaan kata atau istilah dalam bahasa itu benar atau salah, yang penting sudah diterima di dalam kebiasaan yang berlaku. Maka semuanya pun menjadi lumrah. Iya, ndak?

11 Responses to “Angkat Telpon!”


  1. imadewira

    hehehe, ada2 aja… btw, tulisan ini cocok dijadikan bahan diskusi pelajaran bahasa Indonesia di sekolah2 nih..
    .-= imadewira´s last blog ..Hasil Drawing Undian Grup Piala Dunia 2010 =-.

  2. Gek

    Wadao..
    lalu gimana dounk?
    Sama seperti menjemur pakaian dan “turunkan” jemuran? ga pernah kann??
    paling kalimatnya..

    “Agung… coba angkat dulu tuh jemurannya!!”

    Nah lo….
    .-= Gek´s last blog ..Main bola, yuk? =-.

  3. yudi

    itulah uniknya bahasa. fungsi bahasa adalah agar kita bisa berkomunikasi. apapun kesepakatan ataupun kebiasaan yang tercipta (sekalipun hanya dalam sekelompok orang tertentu) dalam penggunaan bahasa boleh dibilang tetap bisa dianggap benar, walau secara kaidah bahasa yang baik dapat dianggap salah.

    misal kata “cabut” yang bagi anak “gaul” bisa berarti pergi atau meninggalkan suatu tempat :mrgreen: Karena dah saling paham artinya maka ya dipakai saja, toh sekali lagi fungsi bahasa adalah agar kita dapat berkomunikasi.

    tulisan yang bagus mas :D
    .-= yudi´s last blog ..Hasil undian piala dunia 2010 Brazil masuk grup neraka =-.

  4. Tukang Kopas

    Sekarang Banyak yg sudah ga sesuai dgn EYD. . . katanya sih enakan pakai bahasa gaul. . .
    .-= Tukang Kopas´s last blog ..Tips & Trick Nyari Kerja =-.

  5. Cahya

    Ada yang bilang, “Saya sudah angkat teleponnya, tapi ga ada yang jawab tuh.” Lha, repot kan :)

  6. Nyubi

    Aha! Menarik juga bli! Have a nice weekend :)

  7. eka dirgantara

    kalau dalam bahasa bali lain lagi ya bli gung…

    “Sube jemak telpone?” kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadinya “Sudah diambil telpon nya?”

    Kebiasaan yang membuat kata-kata yang sebenarnya tidap tepat penggunaannya menjadi lumrah dan dianggap tepat oleh sebagian masyarakat…kayaknya gitu..

  8. a!

    wah, bener juga ya, gung. kalo gitu mulai sekarang aku ganti deh. “buka teleponnya!” pas baru terima atau “turunkan telponnya!” pas selesai menjawab. :p
    .-= a!´s last blog ..Welcome to Kawin Kontrak Room.. =-.

  9. ims

    hahaha… sempet2nya mikirin beginian.. :D
    .-= ims´s last blog ..Gara-gara Mati Lampu! =-.

  10. Ketut Wiyantara

    bukan saja untuk bahasa pergaulan Gung, tapi ada justru bahasa2 resmi yang kadang2 ga nyambung.. conto :
    SMP : Sekolah Menengah Pertama… seharusnya kan jenjang selanjutnya(kalau dilihat dari bahasanya) SMK : Sekolah Menengah Kedua. kenapa kok justru SMA…
    atau kalau misalnya orientasinya dirubah kenapa jenjang sebelum SMA(Sekolah Menegah Atas) bukan SMB : Sekolah Menengah Bawah. Memang lucu…

  11. tuteh

    Iya, saya juga kesel kalo ada yang bilang ‘angkat telponnya donk’ hehehe. Yang sering saya bilang; tolong terima teleponnya donk… :D