Angkat Telpon!

by Agung Pushandaka

Beberapa hari lalu, nomor henpon saya sama sekali ndak bisa difungsikan sebagaimana mestinya. Semua hubungan keluar (melakukan panggilan, sms dan internet via henpon) ndak bisa saya lakukan. Begitu juga sebaliknya, semua sms dan panggilan yang seharusnya saya terima malah ndak bisa sama sekali. Akhirnya, setelah berhubungan dengan pelayanan konsumen provider nomor yang bersangkutan, sekarang nomor saya bisa berfungsi seperti sedia kala walaupun blum sempurna.

Tapi kali ini saya ndak pengen membahas tentang masalah teknis yang membuat nomor henpon saya mogok kerja. Saya lagi pengen ngobrol tentang perlakuan kita terhadap telpon (tulisan resmi internasionalnya sih konon: telephone), atau henpon (tulisan bakunya: handphone). Perlakuan yang saya maksud di sini adalah perlakuan secara verbal. Saya cuma bingung, sebenarnya kata apa yang tepat untuk benda satu ini saat berfungsi. Mari kita simak kebingungan saya ini.

Di saat telpon berbunyi, telpon/henpon (selanjutnya diwakili oleh telpon saja) kita perlakukan dengan kata “angkat”. Sering kita dengar seseorang bilang, “Tolong angkat telponnya donk!”. Logika saya mengarah kepada gagang telponnya yang mesti diangkat setinggi telinga kita. Oke, masuk di akal saya. Walaupun saya sendiri biasanya memakai kata “jawab” untuk menerima panggilan masuk.

Tapi, kata “angkat” jadi ndak tepat di saat kita pengen menyudahi pembicaraan di telpon itu. Kenapa kita jadi pakai kata “tutup telpon” untuk mengakhiri pembicaraan? Kalau untuk memulainya kita memakai kata “angkat”, seharusnya saat mengakhirnya kita pakai kata “turun” donk? Misalnya, “Sudah dulu ya, saya turunkan telponnya”, bukan  seperti yang banyak dibilang orang, “Sudah dulu ya, saya tutup telponnya”.

Kalau kita mau pakai kata “tutup” untuk mengakhiri hubungan telpon, seharusnya untuk memulainya kita pakai kata “buka”. Iya kan? Tapi pasti aneh banget kalau waktu telpon berdering, seseorang berteriak, “Tolong donk, buka telponnya!!” Hehe!

Hehe! Bingung ndak? Jangan terlalu dipikir serius deh. Ini cuma satu bukti lain, bahwa dalam pergaulan, ndak penting apakah penggunaan kata atau istilah dalam bahasa itu benar atau salah, yang penting sudah diterima di dalam kebiasaan yang berlaku. Maka semuanya pun menjadi lumrah. Iya, ndak?