Rawon Setan Memang Setan

Siang ini, perut lapar saya memaksa untuk segera mencari makan siang. Sebenarnya, saya paling malas berlama-lama di jalan Teuku Umar Denpasar. Tapi karena perut yang seperti ndak pernah bosan berteriak minta subsidi pangan, maka saya pun memperlambat laju sepeda motor saya untuk sekedar mencari tempat makan yang enak dan nyaman di sekitar sana.

Di antara sekian banyak toko handphone dan toko elektronik lainnya di jalan itu, terselip sebuah tempat makan yang saya lihat dari luar bukanlah sekelas warung apalagi kaki lima. Lagipula, saya pernah mendengar nama restoran ini waktu saya berkunjung ke Surabaya walaupun blum pernah mengunjunginya. Namanya: Rawon Setan.

Apalagi kemudian di dinding restoran itu terpampang sejumlah foto selebritis nasional yang mungkin pernah berkunjung ke restoran itu. Ndak tau restoran yang di Denpasar atau mungkin yang di Surabaya. Yang pasti, ada foto-foto itu. Artinya, restoran ini bukan restoran sembarangan.

Tapi, saya ndak akan membahas tentang makanannya yang menurut saya juga standar saja, ndak ada yang istimewa. Saya lebih ingin menyampaikan kekesalan saya sewaktu saya mau bayar makanan pesanan saya di kasir. Mbak kasir yang jauh dari cantik, berusaha menyapa saya ramah. Total harga makanan yang saya pesan adalah Rp. 22.500.

Saya rogoh isi dompet. Sepertinya saya punya uang sejumlah Rp. 23.000. Tapi setelah saya keluarkan selembar demi selembar, ternyata uang itu cuma Rp. 22.000, kurang Rp. 500 dari total harga yang harus saya bayar.

“Itu saja, biar pas” ujar si mbak kasir menunjuk uang Rp. 22.000 saya. Saya bilang, uang ini cuma Rp. 22.000, kurang 500 lagi. Si mbak dengan entengnya berujar, “Ya ditambah 500 lagi donk!”

Anak SD juga tau, uang saya kurang Rp. 500 lagi. Tapi karena saya ndak punya uang pas mau bagaimana lagi. Maka kemudian saya keluarkan selembar uang Rp. 100.000. Si mbak kasir menerimanya dan mulai mencatat transaksi itu di mesin kasir. Setelah itu, dia memberikan sisa uang saya. Tapi cuma sebesar Rp. 77.000.

“500 lagi mana?” tanya saya.

Sialnya, dengan enteng dia berkata, restoran mewah itu ndak punya recehan 500 untuk membayar sisa uang saya. Loh, kok dia seenak udelnya sendiri mau mengembalikan uang saya sejumlah uang yang dia punya? Maka saya pun cuma bisa berujar, “Ya cari dulu donk!”

Entah memang si mbak itu bodoh atau ndak peduli dengan rasa nyaman yang harus diperoleh pengunjung, dia pun berteriak-teriak ke sesama karyawan di sana untuk menanyakan apakah di antara mereka ada yang punya uang koin Rp. 500 yang saya minta. Ternyata nihil, ndak ada yang punya uang yang menjadi hak saya.

Maka kesimpulan saya kemudian adalah, dia ini sudah bodoh, juga ndak peduli dengan perasaan pengunjung restoran. Kalau memang niat melayani pengunjung, di jalan Teuku Umar terdapat ratusan tukang parkir yang mungkin mempunyai uang Rp. 500. Tapi si mbak tadi cuma bisa tersenyum dan bilang, “Ndak ada mas uang 500-nya. Anggap saja saya berhutang 500″

Benar kan? Dia ini orang bodoh? Berhutang sama orang kok sombong? Trus, kalau dia boleh berhutang Rp. 500, kenapa saya diminta menambah uang Rp. 500 waktu saya menunjukkan uang Rp. 22.000 di awal tadi? Semestinya, saya juga boleh donk membayar cuma Rp. 22.000 dengan alasan saya ndak punya uang receh Rp. 500??

“Ndak benar nih!” begitu umpat saya kepadanya. Blum lagi, ndak ada sepatah kata maaf pun dari mulutnya.

Maka kemudian, sebagai orang yang berpendidikan, saya memilih ndak memperpanjang masalah ini. Bermasalah di restoran seperti itu akan menurunkan derajat saya sebagai pengunjung yang seharusnya dihormati. Saya pun memilih pergi meskipun si mbak itu menawarkan selembar uang Rp. 1000 untuk menyenangkan hati saya. Tapi saya menolaknya dan melangkah pergi dengan uang kembalian sebesar Rp. 77.000.

Saya cuma bisa mengumpat dalam hati, “Saya minta uang 500 saya, bukan 1000. Saya ndak mau dibebani hutang Rp. 500 dari restoran semacam ini. Dasar setan!!”

Hehe! Menyesal banget saya datang ke sana..

15 Responses to “Rawon Setan Memang Setan”


  1. tuteh

    Hehehe sabar, bang. Sabar. Tempat2 yang seharusnya menyediakan uang 500-an itu banyak banget; restoran, parkiran ampe warnet kayak di tempat kami. Uang 500-an emang terdengar enteng ya, tapi itu sangat bernilai. Masih uang itu, belum jadi daon meski cuma 500 rupiah hhehehe. Makanya di warnet kami selalu ada kembalian 500. Kalo nggak ada, solusinya :

    1. Kami catat bahwa kami masih ngutang 500 sama ybs, bisa dilunasi next time (ini di warnet lho…bukan restoran heheh).

    2. Permen :p yaaaa… kalo ada yang nolak, terpaksa lari ke solusi nomor 1 tadi :D wkwkwkw…

    Ah…kepanjangan ini komen :D

    Btw Denpasar juga panas? Kembaran nih ma Ende… baju T udah 2 kali kering (dari basahnya keringat :p)
    .-= tuteh´s last blog ..Basah =-.

    pushandaka Reply:

    Saya jengkelnya karena di awal tadi dia seperti mengajari saya agar menambahkan 500 lagi untuk menggenapi uang saya yang cuma 22.000.

    Lah, kan jadi ndak adil kalau saya harus membayar pas Rp. 22.500, sementara dia ndak mau membayar 77.500 sesuai dengan hak saya. Kalaupun dibayar dengan permen, itu masih lebih baik daripada ndak dibayar sama sekali. Walaupun kembalian dengan permen juga ndak baik.

  2. cyzko

    baru tahu ya yang jual tuh setan makanya di sebut rawon setan wkwkwkwkwkwkwkwk
    .-= cyzko´s last blog ..Gempar Isu Tokek Yang Menghebohkan =-.

  3. krishna

    halo bang, asal bali juga ya?

    saya sekeluarga juga pernah makan di restoran rawon setan karena penasaran dengan makanannya.. ternyata biasa saja, malah lebih enak bakso gerobak di pinggir jalan, tapi ntah mengapa rawon setan itu terkenal banget. terus terang sy dan keluarga menyesal makan di sana, udah rasa standard, porsi KECIL, mahal lagi.. ya ini pengalaman kita bahwa nama besar suatu rumah makan/ restoran tidak menjamin mutunya di setiap cabang yg ia miliki..
    .-= krishna´s last blog ..Download Yahoo! Messenger 10 =-.

    pushandaka Reply:

    Saya dari Indonesia mas. Hehe!

    Thanks ya sudah share pengalamannya di tempat makan itu.

  4. eka dirgantara

    Pantaslah namanya Rawon Setan wong semua pegawainya aja Setan…

    Winarto Reply:

    Patut ditulis di blog http://www.sigilahoror.wordpress.com :D

  5. Winarto

    Saya kira banyak yang mengalami hal seperti ini, kecurangan yang dilakukan oleh penjual. Meskipun Rp 500, bagi penjual ataupun pembeli, nilai tersebut sangatlah berharga. Bagi penjual tentu tidak mau dibayar dengan harga yang kurang dari total, demikian juga dengan pembeli, kalau ada uang kembalian harus diminta.

    Sesuatu hal yang tidak adil, Saya juga sering mengalami hal ini. Salah satu pengalaman membeli roti di sebuah minimart di Jalan WR. Supratman. Harga roti itu Rp 7500, saya beri uang Rp 8000. Ternyata uang kembalian diganti dengan 3 buah permen, katanya tidak ada uang receh 500 rupiah.

    Rasanya jengkel juga kalau menemui hal itu. Suatu saat saya beli kembali ke toko tersebut, sengaja membeli roti yang sama dan membawa kembali 3 buah permen yang diberikan sebagai uang kembalian. Ternyata pelayannya berbeda. Awalnya saya bermaksud membayar Rp 7000 plus 3 buah permen. Tapi ternyata tidak diterima. Loh, bagaimana kalau seperti ini? apakah adil? toh, 3 permen yang dinilai seharga Rp 500 tersebut juga berasal dari toko itu, namun ketika dibayar dengan 3 buah permen yang sama, namun tidak diterima. Tidak mau berdebat panjang, akhirnya meninggalkan toko tersebut tetap dengan gembira.

    Meskipun saat ini sudah ada larangan untuk memberikan kembalian berupa permen (baca: http://berita.liputan6.com/ekbis/200911/250312/class=%27vidico%27), namun saya kira kejadian-kejadian ini tetap akan terjadi.

    Alasannya tetap bermacam-macam, dan yang paling popular pasti karena uang recehan langka. Kalau demikian, bukankah sepatutnya menguasahakan/mengadakan persedian uang receh untuk kembalian?? atau mungkin mereka tidak mau repot dan memanfaatkan hal tersebut untuk meraup keuntungan, meskipun sedikit, namun lama-lama juga akan menjadi bukit :-)

    Kalau sampai penjual itu beralasan tidak memiliki uang recehan, suruh membaca postingan saya disini http://winarto.in/2009/11/celengan/
    Saya punya koleksi recehan lumayan banyak :D

    Thanks

    pushandaka Reply:

    Yang menggembirakan, sekarang Circle K sudah ndak pernah lagi memberi permen untuk mengganti kembalian Rp. 500.

    Thanks juga..

  6. Nyubi

    wekekeke… belum tau di duit gopek bisa menimbulkan masalah besar :D have a nice weekend Bli !

  7. a!

    wahaha, harusnya kamu sadar sejak awal. namanya saja sudah setan. jadi ya termasuk soal susuk pun pasti akan membuatmu jadi mengumpat, setan!! :D
    .-= a!´s last blog ..Kami yang Terus Bercerita dan Berbagi =-.

  8. astiti

    ah ya, kadang beberapa orang ga ngerti cara yang baik melayani konsumen, itu terjadi di mana-mana ga cuman di resto aja.
    Mungkin kurang training dari bosnya atau dari instansi yang mempekerjakan….
    Dan bener juga, sekarang circle K ga ngembaliin duit dengan permen.
    Eh apa ada hubungannya dengan UU yang akan berlaku november akhir ini ya?
    Kan katanya UU itu bisa mengenakan sanksi untuk toko yang ngasi kembalian permen….
    mungkin circle K sudah aware.
    .-= astiti´s last blog ..Bali Blogger Community Tahun Ke 2 =-.

    pushandaka Reply:

    UU apa sih, ti? Kok aku blum pernah dengar ya..

  9. wira

    kejadian macam inilah yang membuat kita nggak nyaman, harusnya restoran/tempat makan yang berkelas jauh dari masalah2 sepele seperti ini dan kenyamanan konsumen sangat diperhatikan. Kalau di warung kaki lima sih kita masih maklum..
    .-= wira´s last blog ..Blog Baru Semangat Baru =-.

  10. Rawon Setan Memang Setan « Bale Bengong

    […] diambil dari blog Agung Pushandaka. Foto dari […]