Kecewa Pos Indonesia

by Agung Pushandaka

Lupakan sejenak tulisan tentang SBY dan aparat hukumnya di blog ini. Kali ini saya pengen menyampaikan keluhan saya terhadap pelayanan PT. Pos Indonesia. Semoga ndak berujung gugatan seperti Prita Mulyasari. Begini ceritanya..

Rini, pacar saya, berniat mengirimkan beberapa buku untuk saya dari Jogja. Berhubung buku itu saya butuhkan dalam waktu dekat, maka Rini mencari jasa pengiriman yang paling cepat. Karena punya pengalaman baik menggunakan jasa Pos Express dari PT. Pos Indonesia, maka tanpa ragu Rini memilih lagi service itu. Menurut pengalaman memakai jasa Pos Express, pengiriman cuma membutuhkan waktu ndak lebih dari 24 jam. Hebat kan? Waktu itu, Rini memasukkan paket pada pagi hari di Jogja, sorenya di hari yang sama paket itu sudah sampai di Denpasar. Percaya deh! Saya ndak lagi becanda.

Maka pagi itu, Jumat (20/11), Rini segera menuju Kantor Pos pusat Jogja di dekat Malioboro sana. Berdasarkan pengalaman, maka seharusnya sore hari kiriman itu sudah ada di tangan saya. Tapi kiriman itu baru saya terima Senin pagi (23/11). Menurut informasi yang Rini terima dari salah satu petugas Pos Indonesia di Jogja, kiriman tertanggal 20 November itu sampai di Denpasar tanggal 21 November. Loh! Mana janji 1 hari sampai?? Pihak Kantor Pos Jogja menyalahkan Kantor Pos Denpasar yang ndak cepat mendistribusikan semua kiriman ke kantor cabangnya untuk segera disampaikan ke penerima.

Kekecewaan pertama blum menyurutkan kepercayaan kami berdua kepada Pos Indonesia. Sekali lagi, Senin kemarin (23/11) Rini harus mengirimkan sebuah sertifikat yang saya butuhkan untuk melamar sebuah pekerjaan di Jakarta. Walau dengan keyakinan yang sudah berkurang karena keterlambatan sebelumnya, kami sepakat memakai jasa Pos Express sekali lagi. Pagi hari pukul 8:17, paket resmi masuk Kantor Pos pusat Jogja. Harapan kami, sore hari sertifikat itu sudah ada di tangan saya.

Tapi sampai Selasa malam ini, (24/11), ndak ada satu pun kurir dari Kantor Pos Denpasar yang mampir ke rumah. Padahal rumah saya ndak lebih dari 500 meter jauhnya dari Kantor Pos pusat Denpasar. Akhirnya, Rini sekali lagi menghubungi pihak Kantor Pos di Jogja. Kali ini alasan dari Kantor Pos Jogja berbeda dengan kejadian sebelumnya. Kantor Pos Jogja sebagai pengirim menyalahkan pihak Garuda Indonesia yang menunda pengiriman karena over load. Walah!

Saya ndak peduli siapa yang salah. Apalagi kesalahan itu murni kesalahan teknis, bukan force majeure. Saya benar-benar kecewa dengan Pos Indonesia. Selama ini saya dengan bangga memilih jasa kurir oranye ini untuk mengantarkan segala paket yang pengen saya kirim ke luar kota. Tapi kebanggaan itu cuma berujung kekecewaan. Secara kebetulan, tadi pagi saya membaca di rubrik Surat Pembaca Kompas edisi kemarin (23/11), keterlambatan ndak cuma terjadi di Jogja, tapi juga Surakarta dan Semarang. Jadi, jangankan Jogja-Denpasar yang berselat lautan, yang Surakarta-Semarang saja bisa terlambat.

Sekarang, saya harus meratapi kegagalan saya mengirimkan berkas lamaran kerja yang harus saya kirim paling lambat esok hari, 25 November. Seperti inikah layanan Pos Express? Bagaimana yang standarnya di bawah Pos Express? Saya kecewa Pos Indonesia..