Berdebat yang Baik dan Benar

by Agung Pushandaka

Sekedar mengisi hari Minggu yang luang, saya lihat-lihat file berita di website Metro TV. Ada satu berita yang menarik untuk saya, yaitu berita tentang kericuhan rapat kerja antara Komisi III DPR dengan LSM anti korupsi, Kompak. Sebenarnya ini berita sudah agak basi, tapi saya blum pernah lihat kejadiannya. Saya cuma pernah lihat talkshow tentang itu di TVone.

Cuma sayangnya, dalam talkshow di TVone itu ndak ada yang namanya berbincang-bincang. Wakil dari Kompak, berbicara terus, sementara di sisi lain dia meminta pendapat anggota parlemen yang hadir tentang kasus Chandra-Bibit. Yang anehnya, berkali-kali wakil Kompak itu bilang, “Perbedaan pendapat itu hal lumrah dalam sebuah diskusi/debat”. Saya setuju itu, tapi yang saya kurang setuju adalah cara menyampaikan pendapat itu sendiri.

Di luar kasus kericuhan di rapat kerja Komisi III-LSM itu, saya juga seringkali melihat talkshow di tivi, terutama TVone, yang berubah menjadi acara diskusi yang ndak tertib. Mirip banget dengan diskusi yang diikuti bocah-bocah sekolah dasar untuk menentukan permainan apa yang akan mereka mainkan di akhir pekan. Pembawa acara, yang seharusnya menjadi moderator malah cuma diam saja seperti menikmati pertengkaran “perdebatan” antar narasumber yang hadir.

de·bat /débat/ n pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dng saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing: debat tt calon presiden mendapat perhatian dr masyarakat;

Apa sih fungsi moderator dalam sebuah debat? Moderator adalah seorang penengah dalam sebuah debat/diskusi. Dialah orang yang paling bertanggung jawab akan terjaganya ketertiban dan tercapainya tujuan dari debat itu sendiri. Tapi kalau ternyata moderatornya cuma diam, seperti pembawa acara talkshow di TVone, sementara debat yang dia pandu malah lebih seperti pertengkaran, lebih baik dia menyingkir dari sana karena dia ndak bisa menjalankan tugasnya. Seharusnya dia memiliki kewibawaan di tengah-tengah peserta debat, karena dia boleh dan harus bisa mengijinkan atau menghentikan pembicaraan peserta.

Trus debat yang baik itu seperti apa? Debat yang baik adalah adanya suatu pertukaran pendapat. Perbedaan pendapat lumrah banget dalam suatu debat. Malah, karena lumrahnya, perbedaan pendapat bukan lagi menjadi yang utama dalam sebuah debat. Tapi lebih penting lagi adalah cara menyampaikan pendapat.

Kedua belah pihak (bisa jadi lebih) harus menyadari tujuan mereka mengikuti debat. Yaitu menyampaikan pendapat masing-masing. Lah, sekarang coba pikirkan, bagaimana setiap pihak bisa menyampaikan pendapat kalau salah satu pihak berbicara terus? Penonton pun cuma akan dibuat bingung karena mereka harus mendengarkan 2 orang berbicara bersamaan. Intinya adalah saling menghormati. Setiap pihak/orang punya hak untuk berbicara.

Lalu bagaimana berdebat dengan benar. Ya tentu saja harus dilandasi dengan aturan yang berlaku. Misalnya, ndak ada penghinaan di sana. Menyampaikan kritik dengan pedas adalah sah, tapi kalau sampai mengina pihak lawan (personally), itu tentu sudah ndak bisa dibenarkan. Sekali lagi, moderator harus bisa bertindak untuk mencegah hal-hal seperti itu dapat terjadi.

Saya juga menyayangkan talkshow yang sering diadakan di tivi. Seringkali pembawa acara/moderator ndak mampu menguasai keadaan. Sehingga penonton malah jadi bingung harus mendengar yang mana, karena ndak jarang narasumber yang menjadi peserta debat berebutan untuk bicara tanpa bisa ditengahi oleh sang empunya acara. Apalagi biasanya acara talkshow terbatas waktunya. Seharusnya moderator benar-benar mampu dan adil membagi waktu untuk setiap pembicara menyampaikan pendapatnya. Yang paling parah adalah di TVone. Ndak ada perdebatan, yang ada cuma percekcokan. Hehe..

Untuk acara talkshow di tivi, saya menyarankan anda menonton Save Our Nation. Acara bincang-bicang yang ditayangkan Metro TV setiap hari Rabu, pukul 23.00 waktu Denpasar ini, ditayangkan dalam suasana yang tenang. Memang ndak ada konfrontasi seperti yang sering diadakan TVone. Tapi dari Save Our Nation, kita malah bisa mendengarkan pendapat orang lain dengan enak, tenang, dan utuh, meskipun kita punya pendapat yang berbeda.

Rabu lalu (11/11) topiknya tentang Kekuatan dan Kelemahan KPK. Di situ saya benar-benar bisa menyimak apa yang ada di benak Pak Chandra dan Pak Bibit secara utuh dan perasaan tenang. Ndak seperti talkshow tivi lain yang malah cuma memberi informasi kepada pemirsanya setengah-setengah saja.

***

Maka dari itu saya berharap, berdebatlah dengan baik juga benar. Kalau kata orang tua dulu, semakin banyak  kita ngomong maka semakin banyak pula kemungkinan kita salah. Kalau anda memang benar pengen berdebat, biarkan pihak lawan menyampaikan pendapatnya. Setelah itu baru anda bantah, kalau memang perlu dibantah. Tapi kalau pihak lawan anda cuma seperti Kompak yang ndak pernah memberikan kesempatan kepada anda untuk bicara, lebih baik anda pergi saja. Ndak ada gunanya anda di sana, toh suara anda ndak akan pernah mereka dengar.

Jadi, berdamailah dalam perbedaan, Indonesia..