Psssssh..!! Jangan Berisik..!!

Selama di Jogja, menonton ke bioskop adalah salah satu cara saya untuk menghabiskan waktu berdua bersama Rini, selain mengunjungi tempat makan yang sering kami datangi waktu kami masih bersama di Jogja. Untuk nostalgia kuliner, saya menikmati kesenangan yang luar biasa bersama Rini. Tapi untuk acara menonton film, kami ndak bisa menikmatinya sepenuh hati. Banyak kejadian yang malah mengganggu kenikmatan menonton di Empire XXI Jogja.

Sebenarnya, saya bisa saja menonton film di Galeria 21 Kuta. Tapi, saya kurang sreg dengan studionya. Galeria 21 terlalu sempit menurut saya. Kursi penonton terlalu sempit dan berdekatan, sehingga saya sering bersentuhan dengan penonton sebelah. Itu benar-benar membuat saya ndak nyaman. Kalau di Jogja, Ambarukmo Plaza Studio 21 dan Empire XXI menawarkan studio yang lebih luas dengan kursi penonton lebih lega. Kelebihan lain menonton film di Jogja, tentu saja keberadaan Rini di samping saya. Hihi!

Tapi kenikmatan itu sirna saat kami mencoba menonton beberapa film di kesempatan kali ini. Hari pertama, kami memutuskan untuk menonton Orphan. Film bergenre horror ini kami pilih karena lagi pengen bernostalgia seperti waktu kami pertama kali pergi ke bioskop bersama. Waktu itu, di kencan pertama, kami memutuskan untuk menonton The Grudge. Seru kan?

Secara teknis, Orphan ndak jelek-jelek amatlah, walaupun banyak adegan “kejut” yang dipaksakan. Film ini berusaha banget untuk membuat penontonnya terpekik kaget hampir di setiap menitnya. Tapi menurut saya, itu terlalu dipaksakan. Ceritanya juga ndak jelek-jelek amat walaupun saya sudah menduga “sesuatu” yang membuat si Esther nampak misterius. Ending filmnya masih cukup memancing rasa penasaran saya. Di luar itu semua, saya bisa menikmati suasana menontonnya.

Nah, beberapa hari setelahnya, kami memutuskan menonton District 9. Kekecewaan pertama, tentu saja karena kualitas film ini. Jauh banget dari standar film bertema alien lain yang pernah saya tonton. Terlalu banyak fakta dalam film yang malah membuat saya bertanya-tanya dalam hati, sehingga mengurangi konsentrasi nonton. Alur ceritanya juga parah banget. Selain kualitas filmnya, suasana menonton di bioskop pun parah banget. Di sebelah saya, seorang laki-laki berumur 20 sekian tahun, menonton bersama 2 teman perempuannya.

Saya menduga, 2 perempuan itu akan menimbulkan kebisingan karena teriakan-teriakan yang akan muncul dari adegan filmnya yang berdarah-darah, dan cenderung vulgar. Eh lahdalah! Malah si bocah laki-laki itu yang ekspresif banget menonton filmnya. “Duh! Ah! Wah!” pekiknya saat layar lebar menampilkan adegan penuh darah, sambil menutupi matanya. Duduknya pun gelisah ndak menentu. Sementara 2 temannya seperti menikmati banget ekspresi ketakutan berlebihan dari si laki-laki. Untungnya, saya sudah ndak terlalu bisa menikmati film ini sejak awal, jadi saya ndak terlalu mempermasalahkan tingkah laku bocah itu walaupun Rini gemas banget pengen menegurnya.

Saya cuma berbisik di telinga Rini, “Mungkin dia cuma cari perhatian ke salah satu cewe yang diajaknya. Mungkin dia lagi pdkt, berusaha menarik perhatian si cewe dengan bertingkah konyol seperti itu”. Rini pun mengangguk lemah walaupun dia ndak terlalu bisa menerima penjelasan saya. Hehe.

Berhubung 2 film di atas adalah film-film pilihan saya, maka tadi sore saya mengajak Rini menonton lagi. Kali ini, Rini yang memilih filmnya untuk menebus kekecewaan kami terhadap District 9. Rini memilih The Proposal-nya Sandra Bullock. 10 menit awal, kami bisa menonton film dengan nyaman. Filmnya lucu. Di awal film, ceritanya masih tentang keadaan kantor yang cenderung kaku karena dipimpin oleh seorang perempuan “bertangan besi”, Margaret Tate. Cerita selanjutnya pun, saat Margaret dan Andrew Paxton mulai “bertunangan”, mampu mengundang tawa kami berkat kekonyolan-kekonyolan yang ditampilkan. Walaupun akhir ceritanya sudah dapat ditebak seperti layaknya film drama komedi bikinan negeri paman sam.

Tapi, kenikmatan itu mulai terganggu waktu sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, masuk belakangan ke dalam studio dan duduk di sebelah saya. Secara fisik, saya melihat mereka sudah cukup berumur dibandingkan bocah laki-laki yang lalu. Si perempuan duduk di sebelah saya. Awal kehadiran mereka, semua berjalan normal. Sampai akhirnya si perempuan mulai tertawa kecil atau cekikikan, padahal di layar ndak ada adegan yang menarik tawa penonton.

Saya berusaha ndak peduli, walaupun Rini sudah mulai merasa gerah dengan tingkah mereka. Saya mulai ndak tahan waktu si perempuan mengeluarkan henpon dari dalam tasnya. Gerakan-gerakan henponnya tentu menciptakan kilatan-kilatan cahaya di sekitar mata saya. Suasana studio yang temaram dari cahaya film, tentu membuat cahaya dari layar henpon mengganggu saya.

“Mbak, cahaya henponnya mengganggu saya..” bisik saya pelan kepada si perempuan. Dia merespon positif dengan minta maaf dan memasukkan henponnya ke dalam tas, walaupun pacarnya bertanya dengan nada ndak suka kenapa si perempuan mempedulikan protes dari saya.

Ndak cukup dengan hal itu, si perempuan mulai bercanda-canda lagi dengan si laki-laki. Mereka sama sekali ndak berniat menikmati film yang diputar. Bahkan, mereka seperti sudah pernah menonton filmnya karena beberapa kali si perempuan menjelaskan kepada si laki-laki apa yang akan terjadi di adegan selanjutnya. Blum cukup juga, si perempuan kemudian menelpon seseorang cuma untuk menanyakan waktu berbuka puasa dan mengabarkan bahwa dia sedang “pacaran” sambil nonton film di bioskop.

Duh Gusti.., benar-benar deh, acara menonton film yang kami rencanakan berjalan menyebalkan. Saya bisa mengerti, mereka mungkin lagi pdkt atau sudah pacaran. Mungkin juga menurut mereka, bioskop adalah tempat yang sah untuk berpacaran. Saya pun mengakui itu. Tapi ya, tolonglah bedakan cara berpacaran di dalam bioskop dan di tempat lain. Kalau cuma untuk mengobrol, ndak perlu di dalam bioskop kan? Di dalam kos-kosan juga bisa. Lebih hemat dan privat tentu saja! Kenapa sih, pacaran di dalam bioskop ndak dilakukan dengan menikmati film dengan sewajarnya? Kalau memang pengen menunjukkan kasih dan sayang kepada pacar, cukup dilakukan dengan berpegangan tangan saja? Kalau mau lebih dari itu, cari kamar sajalah!

Saya dan Rini sebenarnya sudah berusaha menghindari hal-hal seperti ini. Misalnya, dengan selalu memilih tempat duduk di kursi paling atas dan pojok. Biasanya, Rini duduk di pojok, sehingga ndak ada orang yang duduk di sebelahnya, yang mungkin menimbulkan gangguan untuknya. Bahkan, saya pernah nekat membeli 3 karcis untuk barisan kursi paling atas dan pojok supaya kursi di sebalah saya ndak diisi orang lain. Saya melakukannya waktu kami memutuskan menonton film box office.

Tapi, sesuatu yang kita harapkan memang ndak selamanya kita peroleh. Memang ada kalanya hal-hal seperti ini terjadi. Apalagi bioskop adalah tempat umum yang ndak bisa melarang siapa saja yang membeli karcis untuk masuk ke dalam studio. Saya sih cuma berusaha berpikiran positif saja. Mungkin mereka jarang-jarang bisa pergi ke bioskop, sehingga ndak tau kalau ada etika yang berlaku di sana. Hehe..

7 Responses to “Psssssh..!! Jangan Berisik..!!”


  1. a!

    besok2 kamu bawa papan bertuliskan “Etika Menonton di Bioskop” terus taruh di pintu masuk. bila perlu kamu yg berdiri di depan layar pas mereka berisik. :D

    Ogah! Peringatan untuk menonton dengan etika sudah ditampilkan di layar kok sebelum film dimulai. Ntar biar kubikin bioskopku sendiri! :P

    .-= a!´s last blog ..Aksen “a” Para Penunggang Kuda =-.

  2. wira

    **tertawa ngakak baca komennya anton :) )

    betewe, saya juga pernah mengalami hal seperti ini, memang menyebalkan sekali, tp ya begitulah anggap saja nasib, hehe…

    Anda tertawa baca komentar anton? Saya malah misuh-misuh! Hehe!

    .-= wira´s last blog ..Plugin CommentLuv Untuk Blog WordPress =-.

  3. morishige

    wah.. itu mungkin gara-gara selalu milih tempat paling pojok bro..
    pojokan kan memang tempat favritnya pasangan2 untuk berasyik-masyuk.. :mrgreen:

    lain kali pilih bangku paling depan aja.. hahaha…
    :mrgreen:

    Haha! Duduk di depan? Iya sepi, tapi mata jadi rusak nonton terlalu dekat. Thanks ya, bro!

    .-= morishige´s last blog ..Ticket To Ride =-.

  4. ekabelog

    itu hal biasa bagi saya bli gung, coz saya juga pernah melakukannya sama teman2 bahkan lebih parah…makan nasi bungkusan dari rumah terus bersendawa pas pada sepi-sepinya….kakaka…untung yg nonton ga banyak…

    Hmm.., cobalah untuk menghargai orang lain ka. :)

    .-= ekabelog´s last blog ..Horror fight: Jepang VS Thailand VS INDONESIA =-.

  5. zee

    Hahahahaaa…. aduh sumpah ngakak bacanya.
    Memang yang paling males nonton itu kalau sebelah kita berisik & gak tahu aturan ya.
    Dulu di Medan jg begitu tuh, nonton berisikkkk bgt, apalagi di bioskop murahnya, bawa nasi bungkus pula.

    Syukur deh di Jakarta pilihan bioskopnya banyak. Jd kalau film yg oke kita pasti nontonnya di Premierre. Memang mahal sih, tp yg penting puas dan terganggu sama yg ga bs menghargai orang lain…

    Haha! Saya membayangkan ada orang nonton di bioskop sambil makan nasi bungkus. Pasti sudah seperti di layar tancep ya? hihi!

    .-= zee´s last blog ..persiapan mudik =-.

  6. tyan

    WAH SERU BANGAT TU BISA KE JOGJA…,
    jogja selalu berhati nyaman dan tentrem…,

    Hehe! Iya Mas Tyan..

    .-= tyan´s last blog ..Shalat Tarawih =-.

  7. senny

    besok-besok beli bioskop ahhh biar ngga ganggu dan ngga keganggu orang juga
    *sok kaya

    Mau patungan ndak? Ntar studio 1 buat saya, studio 2 buat kamu. :)

    .-= senny´s last blog ..Yes is a [Yes] is a No =-.