Menculik Miyabi, Seni atau Sensasi?

by Agung Pushandaka

Sebenarnya, gosip tentang kedatangan Maria Ozawa, alias Miyabi, ke Indonesia sudah saya dengar sejak seminggu lalu. Tapi, waktu saya baca beritanya di The Jakarta Post edisi Sabtu, 19 September kemarin, saya terkejut juga. Ini serius? Soalnya saya kira itu cuma mimpinya siapa tuh, Raditya Dika ya, yang blognya diangkat menjadi sebuah film. Tapi kalau ini memang serius, yang jadi pertanyaan saya kemudian, apa film ini memang sebuah ekspresi seni atau cuma sekedar sensasi untuk popularitas saja?

Saya memang akui film lokal kita mulai bergeliat dari tidurnya. Banyak sineas muda yang berlomba-lomba menunjukkan kualitas dan kemampuan seninya. Tapi mohon maaf (mumpung lebaran), saya juga harus jujur, bahwa lebih banyak film yang dibuat asal-asalan saja. Kasarnya, film-film itu sekedar dibuat, atau ‘yang penting bikin film’. Lihat saja film-film bertema sex, komedi, atau horor yang pernah dibuat. Kebanyakan film-film itu cuma mengandalkan kemolekan tubuh bintang utamanya, atau cerita yang cuma berkisar di sekitar tempat tidur.

Lalu bagaimana dengan film Menculik Miyabi ini? Kalau melihat dari kualitas film sebelumnya yang berjudul Kambing Jantan, saya ndak menemukan sesuatu yang istimewa dari Raditya Dika sebagai penulis naskah. Filmnya memang lucu, tapi menurut saya masih film komedi biasa karena skenarionya berasal dari seseorang yang memang bukan penulis skenario profesional. Sekarang si penulis skenario memasukkan tokoh Miyabi ke dalam ceritanya. Saya kok merasa, film ini ndak akan lebih dari film-film komedi ngeres lainnya seperti Kawin Kontrak, Buruan Cium Gue, Suami-Suami Takut Istri The Movie, dan film-film sejenisnya yang jelas seberapa tinggi level mutunya.

Saya malah lebih takut, kalau rumah produksinya mau membuat film ini karena ada tokoh Miyabi-nya, bukan karena kualitas skenario atau filmnya secara keseluruhan. Apalagi setelah saya tau beberapa film yang pernah dibuat rumah produksi ini. Sebut saja judul Paku Kuntilanak, Setan Budeg, Kutunggu Jandamu, Tulalit, Mati Kemaren, Maling Kutang, dsb. Hmm., walaupun saya ndak pernah menonton film-film itu, rasanya saya tau seperti apa filmnya. Hehe..

Tapi bagaimana pun, saya tetap berterima kasih kepada si pembuat film karena masih mau berusaha ikut meramaikan perfilman Indonesia. Masalah bagaimana nantinya apresiasi penonton, ya tergantung selera masing-masing orang.  Apakah film ini murni merupakan ekspresi seni si Raditya Dika atau cuma mau membuat sensasi, kita lihat saja nanti kalau filmnya sudah ditayangkan. Kalau saya pribadi sih, lebih baik menonton Miyabi di filmnya yang mendesah-desah itu daripada di film Menculik Miyabi ini. Hehe!

Oh ya, saran saya untuk pembuat film, walaupun film ini dijamin ndak akan ada adegan sex-nya, tapi mohon, cuma untuk 17 tahun ke atas saja ya. Bagaimana pun, dengan menampilkan Miyabi, visualisasinya pasti ndak jauh-jauh dari image Miyabi yang porn-star dan berbodi luhur itu. Hihi! Terima kasih.