Menjauh Saja Ndak Cukup
Belakangan, ndak ada bacaan menarik yang mau saya tulis di blog ini. Semua berlangsung datar dan mudah ditebak. Hasil pemilu yang ditetapkan KPU hari ini, sudah kita tau sejak sehari setelah pemilu berlangsung. Gitu juga dengan tragedi Kuningan, sudah jelas bahwa SBY salah besar dengan berusaha mengaitkannya dengan pilpres. Bahkan, masalah perpindahan Zlatan Ibrahimovic ke Barcelona pun sudah saya duga sejak jauh-jauh hari.
Tapi, dalam rangka kampanye anti-rokok, saya teringat sebuah artikel yang saya baca beberapa hari lalu. Masih berkaitan dengan bahaya rokok tentu saja. Saya lupa di mana saya baca artikel itu. Tapi inti tulisannya saya ingat betul.
Bahwa sebenarnya, bahaya rokok itu ndak cuma ada pada asap rokoknya. Banyak orang yang salah kaprah dengan hal ini. Para perokok kemudian memilih untuk menjauh saat merokok dari anak atau istrinya, pacarnya, orang tuanya, atau orang-orang yang dikasihinya, dengan tujuan untuk menghindarkan orang-orang itu dari bahaya rokok. Tapi, menjauh saja ndak cukup.
Setelah selesai merokok, si perokok kembali ke tengah-tengah orang-orang yang dicintainya. Bermain bersama sang anak, berciuman dengan istri atau pacar, dan banyak lagi aktivitas yang dilakukan setelah menunaikan ‘ibadah’ merokok. Padahal, walau tanpa asap, orang-orang tercinta itu masih terancam racun rokok.
Racun rokok ikut terbawa di sekujur badan, dan pakaian. Ya, racun-racun itu menempel di badan dan pakaian kita. Selama ini, saya dan perokok lain taunya bahwa asap rokok yang menempel di badan atau pakaian cuma menimbulkan bau ndak enak. Tapi, selain berbau, pakaian dan badan kita juga jadi beracun.
Racun itu akan terhirup oleh mereka yang kita kasihi. Kasihan banget kan? ‘Kenikmatan’ merokok cuma bisa dirasakan sendiri oleh perokok. Sementara racunnya, dibagi bersama anak-istri, pacar, orang tua, teman, dll. Bayangkan bagaimana egoisnya para perokok itu selama ini.
Apalagi kalau bau rokok itu tercium oleh anak-anak kita sejak usia dini. Mereka akan semakin cepat terbiasa dengan aroma rokok. Kebiasaan itu akan membuka peluang lebih besar bagi mereka untuk menjadi perokok di usia dini. Sekali lagi.., kasihan banget.
Lalu apa yang bisa dilakukan oleh para perokok untuk menghindarkan orang-orang terkasih dari bau rokok beracun yang menempel di badan dan pakaian? Di artikel itu disebutkan bahwa sebaiknya si perokok, setiap menyelesaikan ‘ritualnya’ segera mandi dan mengganti pakaian sebelum kembali berada di tengah-tengah orang tercinta.
Ribet? Tentu saja! Kalau dalam sehari kita merokok sebanyak 5 kali saja, maka kita harus mandi dan berganti pakaian minimal sebanyak itu. Wah, repot sekali!
Trus, apa ada cara lain yang ndak serepot itu? Ada! Berhentilah merokok. Paling ndak, anda melakukan itu untuk orang-orang tersayang di sekitar anda..
sebenernya tergantung niat…bapak aku aja bisa sembuh dr ngerokok..soalnya niat dia keukeuh bgt..
gini aja pak, bikin perjanjian sama istri . kalo ngerokok kena sangsi buat aja perjanjian lah kalo ngerokoknya ga ketauan. ya kalai gitu sekalian belajar kejujuran.oke selamat moga bisa menjalankan ya pak
beuntung saia tak pernah menyetuh barang ‘makruh’ itu
secara ribet–seperti yg ditulis empunya blog ini
dan yg jelas, bikin kantong kempes trus
kalau udah ketagihan perlu kasih sayang untuk mensupport gimana caranya supaya si perokok bener-bener jauh dari rokok, gitu ya sob..
Paling tidak, kita perlu memagari diri sejak awal dari kebiasaan merokok ini.. sembari memberanikan diri untuk melarang mereka yang terkasih agar berhenti serta terhadap lingkungan.. andai saja para perokok itu dihadapkan pada situasi krosni pasien kanker paru – saat mereka ngelepus (menghembuskan asap rokok itu) di kafe-kafe
haduh saya ndak bisa mbayangin kalau harus mandi 12 kali dan ganti pakaian 12 kali juga. Lha saya tiap hari konsumsi rokoknya segitu je. Huh… kapan ya saya bisa stop merokok (malah jadi curhat
)
hmm sebenernya rokok itu barang yang harus dihindari karena hanya menyebabkan penyakit dan membuat seseorang menjadi miskin ohohoh salam kenal ya bro
bli, kalo ngga salah, konsep asap itu serupa dengan racun yang menempel pada
a) ruangan-sprei-bantal yang disemprot dengan pembasmi nyamuk,
b) pakaian saat berkendara dengan motor,
c) …
selamat berjuang..kembali..
saya merasa pernah membaca tulisan itu, dimana ya? kompas kayaknya…
btw, baru hari ini saya bisa mengakses blog ini, beberapa hari sebelumnya ga bisa saya buka, kenapa ya?